Bimtek Berbiaya Penuh, Alat Nihil: Skema Janggal Life Skill Geuchik Baktiya Disorot

SIWAH RIMBA

- Redaksi

Selasa, 21 April 2026 - 16:02 WIB

50630 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Poto Ilustrasi

Aceh Utara|Oposisi News 86 — Program life skill bagi geuchik dan aparatur gampong di Kecamatan Baktiya berubah menjadi polemik. Kegiatan yang digelar di Banda Aceh pada 2025 itu kini dipertanyakan, setelah perlengkapan praktik yang dijanjikan tak kunjung diterima, meski pungutan biaya telah dilakukan sejak lama.

Sejumlah aparatur desa mengungkapkan, hingga memasuki pertengahan 2026, tidak satu pun alat pelatihan—mulai dari mesin las hingga perangkat pangkas rambut—yang mereka terima. Padahal, kontribusi dana telah disetor melalui Asadi ketua forum geuchik.
“Kegiatan sudah selesai sejak tahun lalu. Tapi sampai sekarang tidak ada realisasi perlengkapan. Kami sudah membayar penuh,” kata seorang aparatur yang meminta identitasnya dirahasiakan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari 57 gampong di Baktiya, sekitar 50 desa disebut telah melunasi kewajiban. Namun, hasil yang dijanjikan tak terlihat. Kondisi ini memantik kecurigaan dan kemarahan.
“Ini bukan sekadar keterlambatan. Ini menyangkut kejelasan pengelolaan uang publik. Kami berhak tahu ke mana dana itu dialirkan,” ujar aparatur lainnya.

Baca Juga :  Giatkan Tertib Ukur dan dan Pengawasan Metrologi, Pemkab Aceh Utara Lakukan MoU dengan Pemko Banda Aceh

Dana desa yang semestinya menopang peningkatan kapasitas aparatur justru terseret dalam skema yang dinilai tidak transparan. Tanpa sarana praktik, pelatihan kehilangan substansi. Output dipertanyakan, sementara anggaran terlanjur terserap.

Mantan Ketua Forum Geuchik Baktiya, Asadi, tidak membantah belum adanya distribusi alat. Ia beralasan, pengiriman tertahan karena masih ada desa yang belum melunasi pembayaran.
“Sistemnya kolektif. Kalau belum lunas semua, lembaga tidak kirim alat. Itu kesepakatan sejak awal,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Senin (20/4/2026).

Ia menyebut dana dari desa yang telah membayar sudah disetorkan ke lembaga pelaksana, PP-KAPI yang diketuai Zaidul Amri. Dirinya mengklaim hanya bertindak sebagai penghubung.

Namun penjelasan ini justru membuka celah persoalan baru. Skema kolektif yang menggantung hak peserta lain dinilai tidak rasional. Lebih jauh, praktik “berangkat dulu, bayar kemudian” memunculkan dugaan adanya pola pembiayaan tidak wajar dalam kegiatan yang bersumber dari dana negara.

Baca Juga :  Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Serahkan Anugerah Penghargaan Kepada Hariandaerah.com

Jika benar ada mekanisme utang agar program tetap berjalan, pertanyaannya: siapa yang diuntungkan, dan atas dasar apa kebijakan tersebut diterapkan?
Hingga kini belum ada kejelasan mengenai posisi dana yang telah disetor, kontrak kerja dengan lembaga pelaksana, serta dasar hukum penundaan distribusi alat. Ketiadaan transparansi mempertegas urgensi audit menyeluruh.

Desakan agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum turun tangan kian menguat. Kasus ini tidak lagi sekadar soal keterlambatan, melainkan menyangkut tata kelola anggaran publik yang berpotensi menyimpang.

Di tengah sorotan itu, publik menunggu satu hal sederhana: kejelasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

hinga berita ini ditayangkan, pihak media belum terhubung dan terus berupaya melakukan konfirmasi dengan ketua lembaga PP-KAPI Zaidul Amri. (SR)

Berita Terkait

Dapur MBG Rampung, Siswa Geureudong Pase Masih Menanti: Program Gizi Tertahan Tanpa Kepastian
Selamat Milad Samudra Pasai 800
SDN 6 Syamtalira Bayu Hidupkan Tradisi Jumat Religius, Siswa Dilatih Berani dan Berakhlak
Hardiknas di SMAN 1 Meurah Mulia: Pendidikan Tak Lagi Sekadar Seremoni, Kreativitas Siswa Meledak di Panggung Bakat
Cot Girek Membara: Buruh PTPN IV Tagih Nyali Pemerintah dan Aparat
Seragam Rp120 Ribu di Balik Dalih “Ikhlas”: Jadup Tanjong Geulumpang Diselimuti Tanda Tanya
Dua Kali Diperpanjang, Kursi Pucuk Perseroda Aceh Utara Tetap Sepi—Alarm Krisis Kepercayaan?
Warga Gampong Tanjong Glumpang Bantah Isu Dugaan Pungli Dana Jadup

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 01:38 WIB

Deteksi Dini dan Pencegahan Gangguan Keamanan, Tiga Satuan TNI Gelar Patroli Malam di Wilayah Sumbawa

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:01 WIB

Patroli Malam Jadi Komitmen Koramil Utan dalam Menjaga Stabilitas Wilayah

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Dekat dengan Rakyat, Koramil Moyo Hilir Perkuat Pembinaan Teritorial

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:55 WIB

Unit Intel Kodim 1607/sumbawa Dan BNNP NTB Gerebek Dugaan Peredaran Sabu, Sepasang Kekasih Diciduk Dengan Barang Bukti 107,53 Gram!

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Meriahkan Turnamen Sepak Bola Mini di Moyo Luar, Peltu Andri Mohar Tunjukkan Dukungan TNI terhadap Olahraga Masyarakat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Kades Cup II Desa Labuhan Kuris Jadi Momentum Mempererat Persatuan dan Menumbuhkan Sportivitas

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:08 WIB

Babinsa Hadiri Musrenbangdes Pamanto, Kawal Aspirasi Warga untuk Pembangunan Desa Tahun 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Wujudkan Generasi Sehat dan Cerdas, Babinsa Turut Kawal Upaya Pencegahan Stunting di Desa Bunga Eja

Berita Terbaru