Blangpegayon| Oposisi News 86 — Kemunculan berulang seekor diduga Harimau Sumatera di kawasan perkebunan dan persawahan warga Desa Kute Bukit, Kecamatan Blangpegayon, Kabupaten Gayo Lues, memicu keresahan serius di tengah masyarakat.
Dalam rentang beberapa pekan terakhir, laporan penampakan satwa dilindungi itu datang silih berganti dari sejumlah warga yang mengaku berhadapan langsung maupun melihat hewan buas tersebut melintas di dekat area aktivitas mereka. Situasi ini bukan lagi dianggap sekadar kabar dari mulut ke mulut, melainkan alarm nyata tentang semakin dekatnya konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah penyangga hutan.
Rangkaian kemunculan harimau itu disebut terjadi di beberapa titik berbeda yang seluruhnya berada tidak jauh dari area perkebunan kopi, persawahan, serta lahan pertanian warga. Pada Kamis, 28 Mei 2026, dua warga Desa Kute Bukit, Sarifuddin Aman Yus bersama Hamdan, mengaku melihat seekor harimau melintas di dekat area sawah dan perkebunan. Penampakan tersebut menambah panjang daftar laporan warga sebelumnya yang mengaku melihat satwa yang sama di sekitar kawasan aktivitas masyarakat.
Sebelumnya, Rahman Aman Siti mengaku melihat harimau pada Selasa, 26 Mei 2026, saat sedang bekerja di kawasan persawahan desa. Menurut keterangannya, hewan itu melintas tidak jauh dari lokasi dirinya berkebun. Kesaksian serupa juga datang dari Syafi’i Aman Wahyu yang mengaku melihat Harimau Sumatera pada 19 Mei 2026 di kawasan perkebunan kopi Tasik Kute Bukit. Dalam keterangannya, satwa liar itu disebut bergerak melintas di sekitar kebun miliknya sebelum menghilang ke arah semak dan kawasan hutan.
Yang paling mengkhawatirkan terjadi ketika seorang warga Desa Kute Lintang bernama Daud Aman Radi mengaku berhadapan langsung dengan seekor harimau saat sedang menanam bawang dan memasang mulsa di kebun. Peristiwa itu disebut berlangsung ketika dirinya hendak mengambil bambu di sekitar lokasi pertanian. Dalam kondisi panik, Daud melempar batu ke arah harimau hingga hewan tersebut menjauh. Namun sesaat kemudian terdengar auman keras dari arah semak sehingga ia memilih meninggalkan lokasi demi menyelamatkan diri.
Rentetan kemunculan ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai kondisi habitat satwa liar di kawasan tersebut. Warga mulai mempertanyakan apakah area jelajah Harimau Sumatera semakin menyempit akibat aktivitas pembukaan lahan dan gangguan lingkungan, atau justru mitigasi konflik satwa-manusia selama ini belum berjalan maksimal. Kekhawatiran masyarakat dinilai beralasan karena sebagian besar warga di Blangpegayon menggantungkan hidup dari sektor perkebunan dan pertanian yang mengharuskan mereka beraktivitas di kawasan berbatasan langsung dengan hutan.
Di sisi lain, kemunculan satwa dilindungi ini juga memperlihatkan bahwa potensi konflik manusia dan Harimau Sumatera bukan lagi ancaman abstrak. Warga kini hidup dalam situasi serba waswas. Sebagian memilih membatasi aktivitas ke kebun, sementara lainnya tetap bekerja karena tuntutan ekonomi meski dibayangi rasa takut. Kondisi ini dinilai dapat berdampak langsung terhadap produktivitas masyarakat desa yang sehari-hari bergantung pada hasil pertanian dan perkebunan.
Kapolsek Blangkejeren Polres Gayo Lues, Iptu Syamsuddin, melalui Kapospampol Blangpegayon, Aiptu Joko Ansari, membenarkan adanya laporan warga terkait kemunculan Harimau Sumatera di sekitar perkebunan dan persawahan Desa Kute Bukit. Menurutnya, laporan diterima langsung dari sejumlah warga yang mengaku melihat satwa dilindungi tersebut melintas di dekat area aktivitas masyarakat.
Pihak kepolisian mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan saat berada di kebun dan untuk sementara waktu tidak beraktivitas seorang diri.
Aparat juga meminta masyarakat segera melapor apabila kembali melihat kemunculan harimau agar dapat dilakukan koordinasi dengan instansi terkait guna mengantisipasi kemungkinan buruk yang dapat terjadi.
Penjelasan mengenai bulan Mei sebagai periode induk harimau melatih anak berburu memang menjadi salah satu faktor yang disebut meningkatkan potensi perjumpaan dengan manusia. Namun di lapangan, masyarakat berharap langkah antisipasi tidak berhenti pada sekadar imbauan kewaspadaan. Warga mulai menunggu langkah nyata berupa pemantauan intensif, patroli kawasan rawan, hingga keterlibatan instansi konservasi untuk memastikan keselamatan masyarakat sekaligus perlindungan terhadap satwa yang terancam punah tersebut.
Situasi di Blangpegayon menjadi pengingat bahwa konflik satwa liar dan manusia tidak bisa dipandang sebagai persoalan musiman. Ketika laporan kemunculan Harimau Sumatera terus berulang dalam jarak waktu berdekatan, hal itu seharusnya menjadi sinyal serius bagi seluruh pihak terkait untuk memperkuat sistem mitigasi sebelum jatuh korban di kedua sisi.
Sebab dalam banyak kasus, keterlambatan penanganan sering kali berujung pada kepanikan warga, perburuan liar, hingga ancaman terhadap keberlangsungan satwa yang justru seharusnya dilindungi.
Kini masyarakat Desa Kute Bukit dan sekitarnya hanya bisa berharap agar ancaman yang mulai mendekat ke ruang hidup mereka tidak berubah menjadi tragedi.
Di tengah ketakutan yang terus menghantui setiap langkah ke kebun dan sawah, warga menunggu kehadiran negara bukan sekadar lewat imbauan, tetapi melalui tindakan nyata yang mampu memberi rasa aman bagi manusia tanpa mengorbankan kelestarian Harimau Sumatera yang kian langka. []









































