Aceh Utara|Oposisi News 86 – Upaya Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lhoksukon mendukung program ketahanan pangan mulai memperlihatkan hasil nyata. Lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini berubah menjadi area pertanian produktif dengan tanaman jagung yang tumbuh sehat dan merata.

Untuk memastikan perkembangan tanaman tetap optimal, Kasubsi Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Lhoksukon, Husni, melakukan peninjauan langsung ke lokasi budidaya, Selasa (2/6/2026). Kegiatan tersebut berlangsung tepat satu bulan setelah penanaman perdana dilakukan.
Dari hasil pemantauan, tanaman menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Hamparan hijau yang mulai mendominasi area pertanian menjadi indikator bahwa pengelolaan lahan berjalan sesuai rencana.
Husni menjelaskan, pengawasan lapangan dilakukan secara berkala guna memastikan seluruh tanaman memperoleh perawatan yang memadai. Mulai dari pengendalian hama, pemupukan hingga kondisi media tanam terus dievaluasi agar produktivitas tetap terjaga.
“Pemantauan rutin menjadi bagian penting dalam proses budidaya. Dengan pengawasan yang konsisten, setiap kendala dapat segera diantisipasi sehingga pertumbuhan tanaman tetap maksimal hingga masa panen,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Lhoksukon, Muhidfuddin, mengapresiasi keseriusan jajaran Giatja dalam mengelola program tersebut. Menurutnya, keberhasilan memanfaatkan lahan yang selama ini terbengkalai menjadi aset produktif merupakan langkah konkret dalam mendukung agenda ketahanan pangan yang terus didorong pemerintah.
Ia menegaskan, program ini bukan sekadar aktivitas pertanian, melainkan bagian dari upaya membangun kemandirian dan meningkatkan nilai guna fasilitas yang tersedia di lingkungan lapas.
“Perkembangan tanaman yang terlihat saat ini menjadi modal penting untuk mencapai hasil panen yang optimal. Kami berharap pengelolaan ini dapat berlangsung berkesinambungan dan memberikan manfaat jangka panjang,” kata Muhidfuddin.
Dengan pertumbuhan yang terus menunjukkan tren positif, kebun jagung Lapas Lhoksukon menjadi bukti bahwa lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat diubah menjadi sumber pangan yang bernilai dan berdaya guna. (SR)









































