Aceh Utara — Banjir yang melanda Kecamatan Langkahan telah lama surut. Namun di ruas penghubung Buket Linteung–Leubok Pusaka, jejaknya justru kian terasa. Lumpur yang tak dibersihkan menyeluruh kini mengering dan berubah menjadi debu tebal, beterbangan setiap kali kendaraan melintas.
Jalan vital itu berubah menjadi sumber gangguan kesehatan dan ancaman keselamatan.
Pantauan Selasa (10/2/2026), setiap roda kendaraan memicu kabut debu yang menutup jarak pandang dalam hitungan detik. Pengendara sepeda motor menutup wajah dengan kain seadanya. Anak-anak sekolah dan pejalan kaki terpaksa menepi, menunggu udara kembali “layak” dihirup. Aktivitas ekonomi warga tersendat oleh kondisi yang semestinya bisa dicegah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga menilai, persoalan ini bukan sekadar dampak alam, melainkan cermin lemahnya respons pascabencana. “Kami tidak menuntut muluk-muluk. Minimal ada penyiraman rutin atau pembersihan serius. Jangan sampai ada korban dulu baru bergerak,” ujar seorang warga.
Ruas ini merupakan akses utama mobilitas masyarakat. Namun hingga kini, belum terlihat langkah terukur dari instansi terkait—tidak ada penyiraman berkala, tidak ada pembersihan total material lumpur, apalagi perbaikan badan jalan agar debu tak kembali menjadi ancaman saat cuaca panas.
Ketiadaan penanganan cepat memunculkan pertanyaan: di mana prioritas pemulihan infrastruktur dasar?
Debu yang terus terhirup setiap hari berpotensi memicu gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia. Di saat yang sama, jarak pandang yang terganggu meningkatkan risiko kecelakaan. Ironisnya, beban risiko justru dipikul warga, sementara penanganan belum tampak nyata.
Pemulihan pascabencana semestinya tidak berhenti pada surutnya air. Ia menuntut langkah konkret dan terkoordinasi—pembersihan menyeluruh, penyiraman rutin pada jam sibuk, hingga perbaikan permukaan jalan agar tidak kembali menjadi sumber debu. Tanpa itu, pemerintah hanya membiarkan dampak banjir berubah bentuk, dari genangan menjadi kepulan yang menggantung di udara.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai rencana penanganan. Sementara warga menunggu, debu terus beterbangan—mengaburkan jarak pandang dan perlahan mengikis kepercayaan. [SR]









































