ACEH UTARA — Bencana alam yang menerjang Aceh Utara pada akhir November lalu menyisakan jejak kehancuran yang luas. Sejumlah ruas jalan terputus, jembatan ambruk, fasilitas ibadah rusak, serta layanan pendidikan dan kesehatan terganggu. Rumah warga tak sedikit yang terdampak, korban jiwa dan luka tercatat, sementara sebagian masyarakat harus meninggalkan hunian mereka.
Di Kecamatan Geureudong Pase, dampaknya hadir dalam bentuk berbeda. Tidak ada korban meninggal, tak ada rumah hanyut, dan tak satu pun warga meningakan kampung halaman. Namun satu infrastruktur vital luluh diterjang banjir bandang: saluran irigasi Luebok Guha, satu-satunya sumber pengairan bagi persawahan di empat desa.
Bagi kawasan yang bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan, kerusakan tersebut setara dengan ancaman terhadap keberlangsungan hidup. Tanpa suplai air, musim tanam berisiko tertunda. Jika itu terjadi, denyut ekonomi desa ikut tersendat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara merespons dengan melakukan normalisasi pada saluran tersebut. Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil ( Ayah wa ) mempercepat penanganan mengingat fungsinya yang strategis bagi produktivitas lahan warga.
Camat Geureudong Pase, Mardani, S.Sos., MSM, menyebut langkah itu sebagai keputusan yang tepat pada situasi krusial. “Saluran ini menjadi tumpuan utama petani. Pemulihannya membuka peluang agar siklus tanam tidak terhenti,” ujarnya.
Ketua Forum Geusyik Geureudong Pase, Muksin, mengapresiasi kesigapan pemerintah daerah. Ia menilai pengerjaan yang tengah berlangsung memberi optimisme bagi masyarakat untuk kembali mengolah sawah dalam waktu dekat.
Pandangan serupa disampaikan tokoh masyarakat setempat, Abdisyah. Ia menilai perhatian terhadap infrastruktur pertanian mencerminkan pemahaman atas kebutuhan riil warga pedesaan. Harapannya, percepatan pemulihan ini menjadi pijakan awal bagi kebangkitan ekonomi di wilayah tersebut.
Peristiwa di Geureudong Pase memperlihatkan bahwa dampak bencana tak selalu tampak dari jumlah korban atau bangunan yang roboh. Di daerah agraris, satu saluran air yang terputus dapat memengaruhi keberlanjutan penghidupan. Ketika aliran kembali tertata, di sanalah harapan untuk bangkit menemukan jalannya. [SR]









































