Sengketa 50 Hektar di Longkib Memanas, Nama Ketua Apkasindo Aceh Terseret, Dugaan Pelanggaran Regulasi Mengemuka

KABIRO SUBULUSSALAM- ACEH SINGKIL

- Redaksi

Minggu, 5 April 2026 - 15:56 WIB

50251 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subulussalam|Oposisi News 86 – Konflik agraria di Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, kian menunjukkan wajah buram tata kelola pertanahan yang lemah dan rentan disusupi kepentingan, Minggu (05/04/2026).

 

Sengketa lahan seluas kurang lebih 50 hektar di Kampong Bangun Sari yang turut menyeret nama Ketua Apkasindo Aceh, Netap Ginting, bukan sekadar perkara perdata biasa, melainkan cerminan persoalan struktural yang berpotensi melanggar berbagai ketentuan hukum yang berlaku.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perkara yang kini bergulir di pengadilan itu menyoal status kepemilikan lahan yang selama ini diklaim telah dibuka, dikelola, dan dimanfaatkan masyarakat sejak 2008. Namun dalam perjalanannya, lahan tersebut justru beralih kepemilikan dan bahkan telah mengantongi Sertipikat Hak Milik (SHM) atas nama pihak tertentu.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar, terutama terkait proses administrasi pertanahan yang seharusnya tunduk pada prinsip kehati-hatian, transparansi, dan perlindungan hak masyarakat.

Masyarakat Kampong Bangun Sari dan Lae Saga menyebut, sebagian wilayah yang disengketakan bahkan sempat masuk dalam program percetakan sawah sekitar 2017.

Fakta ini memperkuat dugaan bahwa lahan tersebut sebelumnya berada dalam penguasaan dan pemanfaatan masyarakat, sehingga setiap peralihan hak semestinya melalui proses yang sah, terbuka, dan disertai persetujuan para pihak yang berkepentingan.

Namun realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Munculnya Akta Jual Beli (AJB) atas sejumlah bidang tanah yang kini dipersoalkan memicu kecurigaan adanya praktik yang tidak sesuai prosedur.

Warga menduga kuat telah terjadi penyimpangan dalam proses penerbitan AJB maupun peralihan hak, yang berpotensi melanggar ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Baca Juga :  Pengelolaan Dana BOSP, Dinas Pendidikan Kota Subulussalam Buka Suara

Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa setiap pendaftaran peralihan hak atas tanah wajib didasarkan pada alat bukti yang sah serta dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih jauh, dugaan adanya pemalsuan tanda tangan dalam dokumen ganti rugi yang kini tengah ditangani Polres Subulussalam membuka dimensi pidana dalam perkara ini.

Jika terbukti, tindakan tersebut dapat dijerat dengan Pasal 263 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pemalsuan surat, yang ancaman hukumannya tidak ringan. Persoalan ini tidak lagi sekadar sengketa kepemilikan, melainkan berpotensi menjadi praktik mafia tanah yang merampas hak masyarakat secara sistematis.

Sorotan publik juga mengarah pada posisi Netap Ginting yang selain menjabat sebagai Ketua Apkasindo Aceh, juga diketahui memiliki peran sebagai humas di PT Binsuli Salam Makmur.

Perangkapan posisi ini dinilai membuka ruang konflik kepentingan, terutama jika terdapat keterkaitan antara aktivitas perusahaan dengan objek lahan yang disengketakan.

Dalam perspektif tata kelola yang baik, kondisi semacam ini seharusnya dihindari karena berpotensi mencederai prinsip akuntabilitas dan integritas.

Secara normatif, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) dengan tegas mengamanatkan bahwa tanah memiliki fungsi sosial dan penggunaannya harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Ketika lahan yang telah lama dikelola masyarakat justru berpindah tangan tanpa kejelasan proses, maka semangat keadilan agraria yang menjadi roh UUPA patut dipertanyakan.

Selain itu, ketentuan dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional juga menegaskan bahwa setiap penerbitan sertifikat harus melalui verifikasi data yuridis dan fisik secara cermat.

Baca Juga :  Merasa Dicemarkan Nama Baik, Pemilik Warung di Subulussalam Siap Polisikan Kasatpol PP & WH

Jika dalam praktiknya ditemukan adanya cacat administrasi, manipulasi dokumen, atau penyalahgunaan kewenangan, maka sertifikat tersebut dapat dibatalkan melalui mekanisme hukum yang berlaku.

Masyarakat kini menuntut lebih dari sekadar proses persidangan formal. Mereka mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut secara menyeluruh dugaan keterlibatan pihak-pihak yang bermain dalam proses penerbitan AJB dan sertifikat tersebut.

Pertanyaan mendasar yang mengemuka adalah bagaimana mungkin lahan yang telah lama digarap masyarakat dapat beralih kepemilikan tanpa proses yang transparan dan tanpa persetujuan yang sah.

Kasus ini sekaligus menjadi ujian bagi integritas institusi penegak hukum dan lembaga pertanahan dalam menegakkan keadilan.

Tanpa penanganan yang tegas dan terbuka, konflik serupa berpotensi terus berulang, memperdalam ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara, serta memperkuat kesan bahwa hukum dapat ditekuk oleh kepentingan tertentu.

Hingga kini, belum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Namun tekanan publik terus menguat agar proses hukum tidak berhenti pada tataran administratif semata, melainkan juga menyentuh akar persoalan yang lebih dalam.

Kepastian hukum atas status lahan menjadi tuntutan utama, sekaligus harapan agar praktik-praktik yang diduga merugikan masyarakat dapat diungkap secara terang benderang.

Di tengah situasi ini, negara dituntut hadir secara nyata, tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai penjamin keadilan yang berpihak pada kebenaran dan hak-hak masyarakat yang selama ini merasa terpinggirkan.

Sengketa Longkib bukan sekadar konflik lokal, melainkan cermin persoalan agraria yang lebih luas dan mendesak untuk diselesaikan secara adil, transparan, dan berlandaskan hukum. [ER.K]

Berita Terkait

Surat Mutasi ASN Diduga Palsu, BKPSDM Subulussalam Minta Aparat Usut Pelaku Penyebar Hoaks
Pokir DPRK Subulussalam: Antara Kepentingan Publik dan Bayang-Bayang Transaksi Politik
Bayang-Bayang Mafia Tanah di Lahan Transmigrasi Longkib, Negara Diuji Menegakkan Aturan
Sengketa Lahan Longkib Kian Membara, Dugaan Pemalsuan AJB hingga Tindak Pidana Lain Menguat, Penegakan Hukum Diuji
Janji yang Diuji Waktu, Kepemimpinan yang Ditagih Publik
Kanopi Ambruk, Integritas Proyek Dipertanyakan
Menjelang Idulfitri, Mantan Wali Kota dan Ketua DPRK Subulussalam Beri Perhatian kepada Rekan Media dan LSM
Kapolres Subulussalam Imbau Warga Tidak Panic Buying BBM, Stok Dipastikan Aman

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 21:37 WIB

Cegah Gangguan Sejak Dini, Patroli Rutin TNI Disambut Positif Masyarakat

Jumat, 29 Mei 2026 - 19:51 WIB

Modus Calo Dapur MBG Terbongkar, Polda NTB dan BGN Minta Warga Lebih Waspada

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:46 WIB

Polres Sumbawa Musnahkan 845,37 Gram Sabu, Kapolres Tegaskan Perang Tanpa Henti terhadap Narkoba

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:15 WIB

‎Babinsa Padesa Monitoring Rapat Pleno Terbuka Penetapan DPT Pilkades

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:07 WIB

‎Kasdim Baru Kodim 1607/Sumbawa Disambut Melalui Upacara Korps Raport

Jumat, 29 Mei 2026 - 09:30 WIB

‎Perkuat Sinergi Penegakan Hukum, Dandim 1607/Sumbawa Hadiri Pemusnahan Narkotika

Kamis, 28 Mei 2026 - 23:06 WIB

Survei Lembaga Independen Tempatkan LSM Komando di Puncak Kepercayaan Publik, Klaim Tolak Dana APBD dan Bantuan Asing Jadi Sorotan

Kamis, 28 Mei 2026 - 20:59 WIB

‎Koramil 1607-03/Ropang Gelar Patroli Rutin Demi Menjaga Stabilitas Keamanan

Berita Terbaru