Aceh Utara| Oposisi News 86 – Nama Tgk Chiek di Matjang mungkin tidak sepopuler ulama besar Aceh lainnya. Namun bagi masyarakat Kecamatan Geureudong Pase, sosok tersebut merupakan tokoh agama yang dihormati dan memiliki jejak sejarah kuat dalam perkembangan Islam di kawasan pedalaman Aceh Utara.
Makam ulama yang berada di Gampong Darussalam itu telah lama menjadi tujuan ziarah masyarakat. Letaknya yang berada di atas perbukitan menjadikan kawasan tersebut bukan hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menyimpan warisan sejarah yang patut dijaga. Ironisnya, perhatian terhadap situs itu justru nyaris tak terlihat.

Balai yang selama ini digunakan peziarah untuk berdoa kini dalam kondisi memprihatinkan. Tiang dan konstruksi bangunan telah lapuk dimakan usia sehingga tidak lagi layak digunakan. Demi menghindari risiko kecelakaan, warga memilih tidak memanfaatkan fasilitas tersebut.
Akibatnya, para peziarah terpaksa berdoa di ruang terbuka dengan alas terpal seadanya. Pemandangan itu menjadi potret kontras antara penghormatan masyarakat terhadap warisan ulama dan minimnya kepedulian pemerintah terhadap fasilitas penunjangnya
.
Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar. Jika makam ini masuk kategori situs sejarah dan budaya, mengapa kerusakan yang terjadi selama bertahun-tahun seolah luput dari pengawasan? Di mana peran instansi yang bertanggung jawab terhadap pelestarian cagar budaya dan aset sejarah daerah?
Geuchik Gampong Darussalam, Muksin, mengaku kecewa karena hingga kini belum ada langkah nyata untuk memperbaiki fasilitas yang sangat dibutuhkan pengunjung.
“Bangunan itu sudah tidak bisa digunakan lagi karena kondisinya membahayakan. Kalau dipaksakan, dikhawatirkan roboh saat ada masyarakat yang berdoa di dalamnya,” ujar Muksin, Senin 22/6/2026.
Ketua Forum Geuchik Kecamatan Geureudong Pase itu menegaskan, keberadaan balai tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan sarana utama bagi peziarah yang datang dari berbagai daerah.
“Sangat disayangkan jika terus dibiarkan rusak. Ini satu-satunya tempat yang digunakan peziarah untuk berdoa. Kami meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait segera turun tangan melakukan rehabilitasi atau membangun kembali fasilitas tersebut,” ujarnya.
Kerusakan balai ziarah di situs makam Tgk Chiek di Matjang menjadi cermin lemahnya perhatian terhadap warisan sejarah lokal. Di saat pelestarian budaya kerap digaungkan dalam berbagai forum dan dokumen perencanaan, sebuah situs yang masih hidup dan terus dikunjungi masyarakat justru dibiarkan menua tanpa perawatan.
Pertanyaannya sederhana: apakah pemerintah akan menunggu bangunan itu benar-benar roboh sebelum bertindak? Ataukah warisan sejarah di pedalaman Aceh Utara memang belum dianggap cukup penting untuk mendapat perhatian?. (SR)









































