Aceh Utara|Oposisi News 86 – Di tengah arus modernisasi yang terus menjangkau berbagai pelosok daerah, masyarakat Gampong Suka Damai, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, tetap mempertahankan tradisi keagamaan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Gampong yang merupakan kawasan eks transmigrasi dan mayoritas dihuni warga keturunan Jawa itu dikenal sebagai desa yang tenteram. Pada siang hari, warga disibukkan dengan aktivitas mencari nafkah, sementara anak-anak menuntut ilmu di sekolah. Namun di sela kesibukan tersebut, masyarakat tetap meluangkan waktu untuk memperdalam pengetahuan agama melalui kegiatan pengajian rutin.
Desa yang dihuni sekitar 385 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 1.200 jiwa itu secara konsisten menggelar pengajian untuk berbagai kelompok usia.
Setiap Rabu sore, kaum perempuan yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri mengikuti pengajian rutin. Sementara pada Rabu malam, giliran kaum pria dan remaja putra mengikuti kegiatan serupa. Adapun pengajian anak-anak berlangsung setiap hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Geuchik Gampong Suka Damai, Zulfikar Fauzi, mengatakan kegiatan tersebut telah berlangsung sejak lama dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
“Alhamdulillah, kegiatan ini sudah lama berjalan dan mendapat dukungan dari masyarakat. Setiap Rabu sore pengajian untuk ibu-ibu dan remaja putri, sedangkan Rabu malam untuk bapak-bapak dan remaja putra,” kata Zulfikar, Kamis (18/6/2026).
Menurut dia, pengajian dilaksanakan di dua lokasi, yakni Balai Pengajian Hatar Gampong Suka Damai dan masjid desa. Kegiatan tersebut dibimbing langsung oleh pimpinan Balai Hatar, Waled Nisam.
Zulfikar menilai pengajian tidak hanya menjadi sarana memperdalam pemahaman agama, tetapi juga membentuk karakter masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui kegiatan ini masyarakat dapat memahami pentingnya ilmu agama, tata cara ibadah, adab, etika, serta memperkuat hubungan sosial antarwarga,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah gampong berkomitmen menjaga keberlangsungan kegiatan tersebut agar tetap berjalan secara berkesinambungan.
“Dukungan datang dari berbagai pihak. Kami akan terus mempertahankan kegiatan ini karena kemajuan tidak hanya diukur dari aspek materi. Tanpa ilmu agama dan etika, semua itu kehilangan makna, baik di hadapan Allah maupun di tengah masyarakat,” katanya.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat pedesaan, tradisi pengajian yang tetap hidup di Gampong Suka Damai menjadi gambaran bagaimana nilai-nilai keagamaan terus dijaga sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. [Muhadar]









































