Ini Kisah Tentang Watawan Doeloe, Ketika Berita Dikejar dengan Sepeda dan Pena Basah

REDAKSI

- Redaksi

Minggu, 4 Mei 2025 - 22:42 WIB

50418 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI

Bayangkan pagi yang dingin di tahun 1965. Seorang wartawan muda melintasi jalanan berbatu dengan sepeda tuanya.

Di keranjang depan, terguncang-guncang mesin tik portabel dan segenggam kertas karbon.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dia bukan sedang mengantar paket, tapi tengah mengejar berita—secara harfiah.

Profesi wartawan tempo dulu bukan sekadar menulis dan wawancara. Ia adalah gabungan antara detektif, pelari maraton, dan juru ketik kilat.

Tanpa internet, tanpa ponsel, semua informasi dikumpulkan dengan telinga tajam dan kaki gesit.

Sumber berita tak bisa dicari di Google; mereka harus ditemukan di warung kopi, terminal bus, atau bahkan di pos ronda malam.

Baca Juga :  Penandatanganan MoU BUMDes oleh Mahasiswa KKN Unwar: Wujud Kolaborasi Menuju Kemandirian Desa

Tekanan waktu? Jangan tanya. Deadline berarti harus menyerahkan naskah sebelum tukang cetak mulai memutar mesin offset yang berisik.

Wartawan menulis cepat, kadang di atas lutut, dengan tinta yang belepotan jika hujan turun.

Satu kesalahan ejaan bisa berujung teguran keras, bukan dari editor digital, tapi dari tangan dingin redaktur yang bisa membalik meja.

Bahkan untuk mengirim berita ke redaksi, mereka kadang harus naik oplet atau menitipkan naskah pada sopir bus antarkota.

Baca Juga :  Dana Aman di BPR Tidak Diblokir PPATK

Tak ada “send via email”, hanya amplop, perangko, dan harap-harap cemas.

Namun di balik kerepotan itu, ada romantika. Setiap liputan adalah petualangan.

Setiap berita yang berhasil terbit adalah hasil dari perjuangan yang tak main-main—bukan cuma soal akurasi, tapi juga soal fisik dan nyali.

Hari ini, profesi wartawan telah berubah. Teknologi menyulap ruang redaksi menjadi serba digital dan cepat.

Tapi, tak ada salahnya sejenak menoleh ke masa lalu—untuk menghargai mereka yang pernah menulis sejarah dengan tinta, peluh, dan semangat yang tak pernah padam. []

Berita Terkait

Dua Mantan Petani Ganja Gayo Lues Bicara di Hadapan Kepala BNN RI, Program Alih Komoditas Jadi Sorotan Puncak HANI 2026
‎Gotong Royong Bersihkan Pantai Ai Limung, Wujud Nyata Kemanunggalan TNI dan Rakyat ‎
Perkuat Pelayanan Air Bersih, Dandim 1607/Sumbawa Dukung Kebijakan Penyesuaian Tarif Perumda Batulanteh
Tim Inafis Turun Tangan Usai Penemuan ABK Meninggal di Perairan Gilimas
Kodim 1607/Sumbawa Tingkatkan Kesiapsiagaan Personel Melalui Penyiapan Satuan Perbantuan Triwulan II TA 2026
Kasdim 1607/Sumbawa: Data Akurat Kunci Keberhasilan Pembangunan Ekonomi Nasional
‎Kebersamaan TNI dan Rakyat Terwujud dalam Pembangunan Masjid Baiturrahman
Anggota Posramil 02/Plampang Gelar Patroli Malam Demi Jaga Keamanan Wilayah

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 20:34 WIB

Kapolda Aceh Sampaikan Duka atas Gugurnya Anggota POM TNI Saat Bantu Penangkapan Terduga Bandar Narkoba di Bireuen

Senin, 27 Juli 2026 - 14:42 WIB

BPBD Subulussalam Minta Warga Bersabar, Bantuan Rumah Pascabencana Masih Tertahan di Tahap Pertama

Senin, 27 Juli 2026 - 13:23 WIB

852 Motor untuk Imum Gampong Digelontorkan, Keberhasilan Program Kini Dipertaruhkan

Minggu, 26 Juli 2026 - 15:57 WIB

Pegadaian Syariah dan Serikat Pekerja Bersama Rumah Zakat Gelar Khitanan Massal untuk 16 Anak di Banda Aceh

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:26 WIB

Klarifikasi Sekda Bongkar Simpang Siur Informasi, Terduga Kasus Sabu Dipastikan Bukan ASN Pemkab Gayo Lues

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:39 WIB

Dari Informasi Warga hingga Penangkapan ASN, Polisi Telusuri Dugaan Jaringan Peredaran Sabu di Gayo Lues

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:56 WIB

Dua Mantan Petani Ganja Gayo Lues Bersaksi di Hadapan Kepala BNN RI, Program Alih Komoditas Jadi Sorotan Puncak HANI

Rabu, 22 Juli 2026 - 22:29 WIB

Kritik Pejabat Tak Boleh Berhenti di Media Sosial, Bukti Harus Bicara

Berita Terbaru