Gayo Lues|Oposisi News 86 – Dua institusi bertemu di tengah persoalan yang sama-sama membutuhkan kewaspadaan: narkotika. Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gayo Lues, Fauzul Iman, S.T., M.Si., mendatangi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Blangkejeren pada Selasa, 1 September 2026.

Ia menemui kepala lapas yang baru dilantik, Tri Wibawa Kristiyana, A.Md.IP., S.H., M.H.
Agenda itu disebut sebagai silaturahmi. Tetapi di balik istilah tersebut terdapat kebutuhan yang jauh lebih serius: memastikan komunikasi antara lembaga yang menangani pencegahan dan pemberantasan narkotika dengan institusi yang bertanggung jawab terhadap pembinaan warga binaan tidak berjalan terpisah.
Pertemuan berlangsung di ruang kerja Kalapas. Kedua pihak bertukar pandangan mengenai koordinasi dan komunikasi berkesinambungan, terutama menyangkut penyalahgunaan dan peredaran narkotika serta pembinaan warga binaan.
Fauzul Iman mengatakan hubungan baik menjadi fondasi untuk membangun kerja sama. Ia berharap komunikasi yang terjalin dapat membuat koordinasi di lapangan lebih mudah dan efektif.
Tri Wibawa juga membuka ruang komunikasi dengan BNNK Gayo Lues dan instansi lainnya. Ia menyebut persoalan narkotika sebagai tantangan bersama yang membutuhkan sinergi berbagai pihak.
Di sinilah pekerjaan sebenarnya dimulai.
Pemberantasan narkotika tidak pernah selesai hanya karena dua pejabat bertemu. Tantangannya adalah mengubah koordinasi menjadi sistem kerja yang konsisten. Pencegahan harus berjalan, pembinaan harus diperkuat, dan komunikasi antarlembaga harus mampu menjawab persoalan ketika muncul di lapangan.
Tanpa itu, istilah sinergi mudah kehilangan makna.
Masyarakat tentu tidak dapat menilai keberhasilan sebuah pertemuan hanya dari suasana akrab atau foto bersama. Ukuran yang lebih penting adalah dampaknya terhadap keamanan dan ketahanan sosial masyarakat.
Narkotika memiliki dampak berantai. Ketika penyalahgunaan terjadi, persoalannya tidak berhenti pada individu. Keluarga, lingkungan sosial dan masa depan generasi muda ikut dipertaruhkan.
Karena itu, setiap koordinasi antarlembaga semestinya menghasilkan agenda yang jelas. Siapa melakukan apa, bagaimana komunikasi berlangsung, dan bagaimana hasilnya dievaluasi menjadi pertanyaan penting dalam memastikan komitmen tidak berhenti sebagai seremoni.

Tidak ada pernyataan dalam pertemuan tersebut yang menunjukkan adanya persoalan khusus di Lapas Blangkejeren. Karena itu, tidak tepat pula menjadikan kunjungan tersebut sebagai dasar untuk menyimpulkan adanya pelanggaran atau masalah tertentu.
Yang terlihat jelas adalah kebutuhan untuk memperkuat koordinasi.
Kunjungan itu kemudian ditutup dengan foto bersama. Bagi kedua lembaga, pertemuan tersebut menjadi simbol awal membangun kemitraan yang lebih erat.
Namun masyarakat mempunyai kepentingan yang lebih besar daripada sekadar simbol.
Mereka membutuhkan lingkungan yang aman, keluarga yang terlindungi dan generasi muda yang tidak mudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
Karena itu, pertemuan 1 September tersebut seharusnya menjadi titik awal pekerjaan panjang. BNNK dan Lapas Blangkejeren kini memiliki ruang untuk membuktikan bahwa sinergi bukan sekadar bahasa birokrasi.
Sebab narkotika tidak pernah menunggu rapat berikutnya. []




































