Aceh Utara|Oposisi News 86 – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Krueng Keureuto di Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (10/7/2026), sebagai bagian dari peresmian serentak lima bendungan strategis nasional. Peresmian dipusatkan di Bendungan Meninting, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan diikuti secara virtual dari sejumlah daerah.
Di Aceh Utara, Bupati H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. menghadiri langsung prosesi peresmian bersama jajaran pemerintah pusat, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, para keuchik, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Peresmian tersebut menandai dimulainya pemanfaatan salah satu infrastruktur sumber daya air terbesar di Provinsi Aceh yang diproyeksikan menjadi pengungkit pertumbuhan sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Selain Bendungan Krueng Keureuto, Presiden juga meresmikan Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, Bendungan Sidan di Bali, dan Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat. Kelima bendungan itu merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dirancang untuk menjawab tantangan penyediaan air, pengendalian banjir, serta peningkatan produktivitas sektor pertanian.
Bendungan Krueng Keureuto dibangun sejak 2015 dan rampung pada 2024 dengan nilai investasi sekitar Rp2,961 triliun. Infrastruktur tersebut memiliki kapasitas tampung 215,94 juta meter kubik, luas genangan mencapai 896,39 hektare, serta tinggi bendungan 74 meter.
Keberadaan bendungan ini akan mengairi lahan pertanian seluas 14.695 hektare yang meliputi Daerah Irigasi Alue Ubay Kanan, Alue Ubay Kiri, dan Pase Kanan. Dengan dukungan pasokan air yang lebih stabil, produktivitas pertanian diharapkan meningkat sehingga mampu memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional.
Selain mendukung irigasi, Bendungan Krueng Keureuto juga akan memasok air baku sebesar 650 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kecamatan Paya Bakong, Tanah Luas, Pirak Timu, Matang Kuli, dan Lhoksukon. Infrastruktur ini juga dirancang memperkuat pengendalian banjir di kawasan hilir yang selama ini kerap terdampak luapan sungai saat musim penghujan.
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil menyambut beroperasinya bendungan tersebut sebagai momentum penting bagi percepatan pembangunan daerah. Menurutnya, kehadiran Bendungan Krueng Keureuto bukan sekadar proyek fisik, melainkan investasi jangka panjang yang akan memberi manfaat besar bagi sektor pertanian, ketahanan air, dan kesejahteraan masyarakat.
“Kami berharap Bendungan Krueng Keureuto mampu menjadi motor penggerak pembangunan Aceh Utara. Dengan ketersediaan air yang memadai, produktivitas pertanian meningkat, risiko banjir dapat ditekan, dan masyarakat memperoleh manfaat nyata dari pembangunan yang telah lama dinantikan,” ujar Bupati.
Beroperasinya Bendungan Krueng Keureuto menjadi tonggak penting pembangunan infrastruktur di Aceh. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengelolaan dan pemanfaatannya dilakukan secara optimal sehingga investasi negara bernilai triliunan rupiah tersebut benar-benar menghadirkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat. (SR)




































