Lhoksukon|Oposisi News 86 – Delapan abad setelah Samudera Pasai tumbuh sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Nusantara, jejak religius itu kembali dihidupkan di tanah Pase. Ribuan warga memadati Arena Piasan Pase, Lapangan Landing, Lhoksukon, Aceh Utara, Kamis malam (10/9/2026), mengikuti haflah Al-Qur’an dan selawat.
Ayat-ayat suci bergema dari panggung utama. Sejumlah qari dari Aceh hingga tingkat nasional tampil bergantian, menyuguhkan bacaan Al-Qur’an yang membawa suasana peringatan Harlah Samudera Pasai ke-800 ke dalam nuansa keislaman yang kental.
Mereka di antaranya T. Syeh Zubaili, Tgk. Bardi Ramli, Tgk. H. Ibrahim Minsyari, Tgk. Muhammad Yanis, dan Tgk. Muhammad Faroq.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil bersama Ketua Panitia Harlah Samudera Pasai ke-800 turut hadir di panggung utama menyaksikan rangkaian haflah tersebut.
Ketika selawat mulai dilantunkan, atmosfer arena berubah semakin khidmat. Warga tetap memadati lokasi hingga kegiatan berlangsung, meski udara malam di Landing terasa dingin.
Haflah Al-Qur’an dan selawat merupakan bagian dari Piasan Pase 2026, perhelatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk menandai 800 tahun perjalanan Samudera Pasai.
Peringatan delapan abad itu sekaligus menjadi ruang untuk menempatkan kembali sejarah Samudera Pasai dalam kesadaran masyarakat. Bukan semata tentang usia sebuah kerajaan, melainkan tentang warisan peradaban, tradisi dan nilai keislaman yang pernah menjadikan kawasan Pase sebagai salah satu simpul penting perkembangan Islam di Nusantara.
Di tengah perubahan zaman, Piasan Pase menjadi upaya untuk memastikan warisan tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah dihadirkan kembali melalui seni, budaya dan kegiatan keagamaan, agar identitas Samudera Pasai tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi hari ini. (SR)




































