ACEH UTARA — Menyongsong Ramadan 1447 Hijriah, Komite Peralihan Aceh (KPA) Sagoe Tgk Tjhik di Manjaeng, Kecamatan Geureudong Pase, kembali menyalurkan daging meugang kepada anak-anak yatim-piatu, Selasa, 17 Februari 2026. Agenda tahunan ini tetap digelar meski wilayah tersebut masih berada dalam fase pemulihan pascabanjir bandang.

Sebanyak tiga ekor sapi disembelih dan hasilnya didistribusikan kepada 185 anak yatim-piatu di kecamatan tersebut. Inisiatif itu disebut telah berjalan konsisten sejak penandatanganan damai RI–GAM pada 2005 lalu, menjadi bagian dari ikhtiar sosial yang dipertahankan di tingkat sagoe.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Marzuki, yang akrab disapa Boh Sukon, menyatakan kegiatan ini bukan semata menjaga adat, melainkan memastikan anak-anak yang kehilangan orang tua tetap merasakan hangatnya tradisi megang menjelang bulan suci dan hari raya.
“Momentum ini penting bagi mereka. Kami ingin memastikan suasana meugang tetap mereka nikmati seperti keluarga lainnya,” ujar Marzuki.
Ia mengakui kontribusi itu belum mampu menjawab seluruh kebutuhan. Namun setidaknya, langkah tersebut menghadirkan perhatian nyata bagi kelompok rentan di tengah tekanan ekonomi dan dampak bencana” pungkasnya.
Di Aceh, meugang memiliki makna lebih dari sekadar konsumsi daging. Ia merepresentasikan solidaritas, kebersamaan, dan harga diri keluarga.
Dalam konteks itulah KPA Geureudong Pase menegaskan perannya, bahwa kondisi sulit bukan alasan untuk menanggalkan tanggung jawab sosial. (SR)









































