YARA: Pemerintah Rajin Pakai Wartawan Saat Bencana, Abai Saat Mereka Jadi Korban

REDAKSI

- Redaksi

Rabu, 21 Januari 2026 - 15:56 WIB

50243 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh — Pemerintah dinilai piawai memanfaatkan kerja wartawan saat bencana, tetapi kerap menutup mata ketika para jurnalis itu sendiri terjerembap dalam musibah.

Kritik keras itu disampaikan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) menyusul banjir yang melumpuhkan kerja puluhan wartawan di berbagai daerah Aceh.

Banjir yang merendam Aceh Utara, Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Bireuen, Pidie Jaya, hingga Lhokseumawe tak hanya menghanyutkan rumah dan harta warga.
Di balik liputan yang ramai di layar gawai, sejumlah wartawan kehilangan alat kerja—kamera dan laptop—yang rusak terendam air. Tanpa itu, profesi mereka lumpuh total.

Ketua YARA Aceh Barat, Hamdani, S.Sos., S.H., M.H., menyebut kondisi ini sebagai potret telanjang relasi timpang antara pemerintah dan jurnalis.
“Ketika bencana datang, wartawan dikejar-kejar untuk meliput. Saat mereka sendiri jadi korban, pemerintah mendadak tuli dan buta,” kata Hamdani, Rabu, 21 Januari 2026.

Menurut dia, pemerintah selama ini menikmati limpahan manfaat dari pemberitaan bencana—mulai dari legitimasi, simpati publik, hingga citra kepedulian.
Namun, tidak ada mekanisme perlindungan ketika jurnalis kehilangan alat produksi yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan.

“Negara ingin berita, tapi enggan menanggung risiko yang dipikul pembuat berita,” ujar Hamdani.

Baca Juga :  Dari Pedalaman Aceh Utara, Gampong Darussalam Menjawab Krisis Moral dengan Pengajian

YARA menilai pengabaian ini berbahaya. Tanpa alat kerja, wartawan tak bisa meliput. Tanpa liputan, suara korban akan senyap. Dalam situasi darurat, itu berarti matinya fungsi kontrol dan informasi publik.

Atas dasar itu, YARA mendesak pemerintah segera melakukan pendataan khusus wartawan terdampak, menyediakan bantuan konkret untuk penggantian alat kerja, serta menghentikan cara pandang yang menempatkan jurnalis sebatas instrumen pencitraan kekuasaan.

“Jangan hanya ingat wartawan saat butuh panggung. Jika negara terus abai, yang dipertaruhkan bukan cuma nasib jurnalis, tapi hak publik atas informasi,” kata Hamdani.   [SR/Tim]

Berita Terkait

Krueng Mbang Menenun Kemandirian dari Sawit dan Peternakan Rakyat
Saat Desa Menjaga Akhlak: Tradisi Mengaji Tetap Hidup di Suka Damai
SDN 3 Geureudong Pase: Murid Belajar di Teras, Pagar Sekolah Tinggal Nama
Menggema Aceh Utara Bangkit! Bupati dan Wabup Lepas Pawai Ta’aruf 1 Muharram
Kapolres Gayo Lues Rotasi Pejabat Utama, Tekankan Profesionalisme dan Pelayanan Humanis kepada Masyarakat
IRT Berdarah Diduga Jadi Korban Debt Collector, Haji Uma: Negara Tak Boleh Kalah oleh Premanisme Berkedok Penagihan
Dari Pedalaman Aceh Utara, Gampong Darussalam Menjawab Krisis Moral dengan Pengajian
TK Negeri 1 Geureudong Gelar Simulasi Kebakaran, Edukasi Mitigasi Bencana Sejak Usia Dini

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 14:02 WIB

Kasatreskrim Polres Sumbawa Imbau Masyarakat Waspada Penipuan Catut Nama Polisi, Gunakan Nomor WhatsApp Palsu

Senin, 22 Juni 2026 - 10:12 WIB

‎Dekat dengan Rakyat, Babinsa Balebrang Dampingi Warga Terima Bantuan Pangan

Senin, 22 Juni 2026 - 08:23 WIB

Semangat Baru Olahraga di Lunyuk! Lapangan Pickleball Diresmikan, Camat Cup 2026 Dimulai

Senin, 22 Juni 2026 - 08:18 WIB

‎Bersama Masyarakat Menjaga Negeri, Koramil Moyo Hilir Gelar Patroli Malam Kondusif

Senin, 22 Juni 2026 - 08:08 WIB

‎Melalui Komsos, Babinsa Labuhan Bajo Serap Aspirasi Warga Secara Langsung

Sabtu, 20 Juni 2026 - 18:42 WIB

Semangat Kebersamaan di Dusun Bajo, Babinsa dan Warga Bersihkan Sampah di Lingkungan Permukiman

Sabtu, 20 Juni 2026 - 11:36 WIB

Berawal dari Laporan Warga, Sarang Sabu di Labangka Digulung Polisi, Satu Pelaku Ditangkap

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:05 WIB

‎Merawat Tradisi Samawa, Babinsa Ikut Sukseskan Festival Melala Minyak di Bendungan Beringin Sila

Berita Terbaru