Aceh Utara Kaya Gas, Tapi Warganya Hidup dalam Kelangkaan

REDAKSI 2

- Redaksi

Selasa, 18 November 2025 - 10:57 WIB

50161 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini: Oleh Siwa Rimba

Di Aceh Utara, ironi bukan sekadar cerita—ia menjadi kenyataan sehari-hari. Di daerah yang sejak dekade 1970-an dibanggakan sebagai ladang gas raksasa, tabung elpiji 3 kilogram justru menjadi barang langka yang diburu seperti komoditas mewah. Setiap pekan, antrean panjang warga berjejal di pangkalan, membawa tabung kosong yang entah kapan bisa terisi. Di negeri gas, rakyat justru kehabisan napas.

Pemerintah daerah selalu punya jawaban standar: distribusi normal, kuota mencukupi, pantauan terus dilakukan. Pertamina pun senada. Namun di lapangan, tabung hijau bersubsidi itu hanya muncul dua jam, lalu lenyap seketika. Warga menelusuri kios demi kios, pulang dengan tangan hampa, sementara para pejabat tetap percaya pada laporan-laporan rapi yang tidak pernah mencerminkan kenyataan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Siapa yang bermain? Pertanyaan itu menggantung setiap kali harga elpiji bersubsidi melambung dua kali lipat di gampong-gampong. Jika kuota cukup, mengapa tabung langka? Jika distribusi normal, mengapa warga selalu kalah cepat dari para “pengumpul dadakan” yang entah bekerja untuk siapa? Jika pemerintah mengawasi, mengapa permainan harga dibiarkan berlangsung bertahun-tahun?

Baca Juga :  Soal Rental Kendaraan Operasional, PT Eliazer Sebut Silahkan Daftar Ke Geuchik Ring 1 Cluster IV dan Humas, Syarat-syaratnya Cek di Google

Yang tak terbantahkan adalah satu fakta: kelangkaan ini bukan soal teknis, melainkan soal ketidakberesan tata kelola. Ada rantai distribusi yang bocor. Ada pangkalan yang sengaja “menghilangkan” stok. Ada agen yang bermain di balik layar. Dan ada pemerintah yang menutup mata, atau sekadar hadir saat krisis sudah meledak.

Semuanya menjadi lebih ironis ketika kita mengingat bahwa Aceh Utara hidup berdampingan dengan pusat industri gas nasional. Pipa-pipa raksasa menyalurkan energi ke luar provinsi, sementara warga setempat harus berebut tabung gas bersubsidi. Jika ini bukan penghinaan terhadap akal sehat, lalu apa?

Pemerintah daerah sering berbicara tentang “komitmen”, “pengawasan”, dan “penertiban”. Tapi kata-kata itu kehilangan makna ketika ibu rumah tangga harus menunggu berjam-jam di pangkalan, atau ketika pedagang kecil terpaksa menutup warung karena kompor tak bisa menyala. Krisis elpiji ini bukan sekadar kegagalan teknis; ini adalah cermin dari pemerintahan yang enggan memutus mata rantai permainan yang sudah lama dibiarkan tumbuh.

Baca Juga :  Pemkab Aceh Utara Gelar Konsultasi Publik Rancangan Awal RPJPD 2025 – 2045

Aceh Utara tidak kekurangan gas. Yang kekurangan adalah keberpihakan pada rakyat. Selama pejabat lebih nyaman menerima laporan daripada melihat kenyataan, selama distribusi bersubsidi lebih menguntungkan sebagian kecil pemain, dan selama publik dibuat percaya bahwa kelangkaan adalah “hal biasa”, maka tragedi elpiji ini akan terus berulang—tahun demi tahun.

Di daerah penghasil gas, yang langka bukanlah elpiji.
Yang benar-benar langka adalah keberanian memutus lingkaran kemacetan yang sudah terlalu lama dicatat sebagai kelaziman.

 

Berita Terkait

Jadup Dipalak: Bantuan Bencana Berubah Jadi “Upeti” di Baktiya
Hardiknas Tanpa Basa-basi: Dua Sekolah di Geureudong Pase Tinggalkan Seremoni Kosong, Pilih Makna
Kepala Biro UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Ucapkan Selamat atas Wisuda H. Mashudi, S.H., M.Sos
Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi
APDESI Apresiasi Bupati Aceh Utara, Publikasi Desa Jadi Kunci Transparansi
Dandim 0103/Aceh Utara Rangkul Pers, Dorong Transparansi dan Percepatan Program Strategis
Publikasi Desa Tak Lagi Berhenti di Baliho: APDESI Aceh Utara Dorong Disiplin Perbup dan Lompatan Digital
Lima Bulan Pascabanjir, Dua Kelas SMAN 3 Putra Bangsa Masih Tanpa Meja-Kursi

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 05:56 WIB

Anggota Posramil 02/Plampang Gelar Patroli Malam Demi Jaga Keamanan Wilayah

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:22 WIB

Ciptakan Rasa Aman, Koramil 1607-04/Alas Laksanakan Patroli Rutin

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:16 WIB

Operasi Gabungan Koramil 1607-02/Empang, Polsek Empang dan Pemerintah Kecamatan Tarano Tertibkan Aktivitas Remaja Meresahkan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 21:42 WIB

‎Malam Aman, Warga Nyaman Berkat Kepedulian Bersama

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:55 WIB

‎Komsos Babinsa, Kunci Mewujudkan Lingkungan Aman dan Harmonis di Moyo Hilir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:52 WIB

Aksi Damai May Day di Sumbawa, Aliansi Mahasiswa Suarakan Isu Strategis Nasional dan Lokal

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:35 WIB

Komitmen Tanpa Henti, Koramil 1607-04/Alas Persempit Ruang Gerak Pelaku Kriminal

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:16 WIB

Babinsa Hadiri dan Dukung Pembukaan Paroso Cup II 2026 di Desa Moyo

Berita Terbaru

ACEH

Teror Terhadap Wartawan FRN Aceh Makin Brutal!

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:31 WIB