Sumbawa Besar|NTB, oposisinews86.com, (2 Mei 2026),— Gelombang perlawanan mahasiswa meletup di jantung kota Sumbawa Besar pada peringatan Hari Buruh Internasional, Ju’mat (1/5/2026). Aliansi Mahasiswa Sumbawa Melawan turun ke jalan, menggelar mimbar bebas dengan nada keras dan penuh tekanan di depan Kantor Bupati Sumbawa. Aksi ini tak sekadar seremonial tahunan, melainkan menjadi panggung terbuka untuk “menguliti” berbagai persoalan krusial—dari nasib buruh hingga dugaan praktik ilegal di daerah.
Aliansi yang terdiri dari Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) , Barisan Masyarakat Indonesia (BMI) , dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (KMD), menegaskan bahwa kondisi buruh saat ini masih jauh dari kata sejahtera. Mereka menyoroti jurang ketimpangan yang semakin lebar, terutama antara pekerja formal dan informal. Sistem kerja kontrak dan outsourcing disebut sebagai “jebakan modern” yang membuat buruh terus berada dalam ketidakpastian, sementara ancaman PHK menghantui di tengah gejolak ekonomi global.
Tak berhenti di isu ketenagakerjaan, massa juga menyerang arah kebijakan pendidikan nasional. Mereka menilai pendidikan kian terjebak dalam arus komersialisasi, menjauh dari hak dasar rakyat. Kebijakan seperti Undang-Undang Perguruan Tinggi dan rencana revisi RUU Sisdiknas dinilai semakin memperkuat dominasi pasar dalam dunia pendidikan. Dalam orasinya, mahasiswa menegaskan bahwa kampus tidak boleh dijadikan pabrik tenaga kerja semata, melainkan ruang pembebasan intelektual yang berpihak pada rakyat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sorotan tajam juga diarahkan pada kondisi demokrasi yang dianggap kian mundur. Aliansi menyebut meningkatnya tindakan represif terhadap gerakan rakyat sebagai alarm bahaya bagi kebebasan sipil. Mereka menilai kebijakan yang lahir hari ini tidak lagi berpijak pada aspirasi publik, melainkan kepentingan elit semata.
Di level lokal, tensi aksi memuncak saat Ketua SMI Cabang Sumbawa, Sirajuddin yang akrab disapa Bul, membongkar dugaan penimbunan BBM subsidi jenis biosolar di wilayah Brang Biji (kebayan).
Mereka mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum dalam menangani kasus yang sempat viral tersebut. Bul menilai ada kejanggalan dalam proses penindakan, termasuk belum diamankannya alat-alat yang diduga digunakan.
“Kalau serius ditangani, kenapa barang bukti masih bebas dan mereka masih bebas melakukan penimbunan solar? Ini menimbulkan kecurigaan publik di tengah situasi gejolak ekonomi politik ini akibat dampak perang dari beberapa negara, masyarakat sumbawa saat ini mengalami kerisis BBM jenis biosolar subsidi yang sangat sulit di dapat di SPBU di wilayah kabupaten Sumbawa, “teriak Bul saat orasi.
Tak hanya itu, mahasiswa juga mengungkap dugaan masalah pada penggunaan alat pengukur kadar air di sejumlah gudang jagung di Sumbawa. Mereka menilai aspek perizinan dan pengawasan masih abu-abu, membuka celah penyalahgunaan. Dampak lingkungan dari aktivitas gudang juga ikut disorot, terutama terkait dugaan pelanggaran AMDAL yang dinilai merugikan masyarakat sekitar.
Dalam pernyataan sikapnya, aliansi melontarkan tuntutan tegas: pendidikan gratis tanpa syarat, upah layak bagi buruh, reforma agraria sejati, penghentian represi terhadap gerakan rakyat, hingga nasionalisasi aset vital di bawah kontrol rakyat. Mereka menegaskan bahwa perubahan tidak akan lahir dari diam, melainkan dari tekanan kolektif yang konsisten.
Aksi ini ditutup dengan peringatan keras: perlawanan belum selesai. Aliansi Mahasiswa Sumbawa Melawan memastikan akan kembali turun dengan aksi lanjutan dalam waktu dekat. “Ini bukan penutup, ini pembuka. Jika tuntutan diabaikan, jalanan akan kembali penuh,” tegas mereka, meninggalkan pesan bahwa bara perlawanan masih menyala di Pulau Sumbawa. (Af)









































