Budaya Kekerasan Lambang Kedunguan

REDAKSI 2

- Redaksi

Kamis, 21 Maret 2024 - 20:09 WIB

50670 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

OPINI

ACEH TIMUR – KEKERASAN = KEDUNGUAN (tak mampu berpikir dan menyelesaikan masalah secara bermartabat)

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kami tidak mempermasalahkan jika para pihak terkait konflik KONI berdamai, itu justru bagus, apalagi dalam suasana indahnya ramadhan. Dan itu tentunya mencerminkan jiwa besar. Tapi tidak boleh ada kompromi sedikit pun atas segala bentuk kekerasan mana pun dan sekecil apa pun.

Sebab akan bermasalah jika kerusuhan brutal, pelemparan batu besar, penghantaman kursi ke orang, penyerangan dan penganiayaan orang, menumpahkan darah serta pengrusakan barang -barang, penyerangan kantor seperti itu dianggap hal sepele, dianggap enteng dianggap kecil dan bukan masalah bagi sebagian pihak di luar sana.

Terlebih anehnya lagi pandangan picik seperti itu berasal dari orang -orang yang mengaku waras, berpendidikan tinggi, tokoh, paham hukum, sampai S2 bahkan S sekian, hidup beradab dan beriman, tapi malah permisif pada kekerasaan yang menjatuhkan martabat kemanusiaan.

Pandangan picik seperti ini sangatlah berbahaya bagi kelangsungan hidup bermasyarakat yang katanya sangat menjunjung tinggi nilai -nilai moral dan agama, karena menganggap kerusuhan, kekerasan dan perlakuan kejam dan kesewenang -wenangan terhadap orang lain, terhadap warga negara yang baik, sebagai hal enteng dan biasa.

Penyerangan brutal terhadap derajat dan martabat manusia dianggap biasa, bahkan coba dibenar – benarkan.

Lama – lama, Aceh Timur ini bisa hancur dan kembali mundur ke era kegelapan yang dikendalikan dengan kekerasan, intimidasi, penyiksaan kejam, penculikan, pembunuhan, bahkan penghilangan orang, hanya demi kepentingan segelintir orang picik yang mengandalkan kekerasan dan segala cara kotor, sebagai alat utama mencapai tujuan.

Kekerasan seolah hendak kembali dijadikan cara dan budaya, demi mempermudah upaya perebutan kekuasaan serta memenuhi hasrat hawa nafsu segelintir orang yang egois dan serakah.

Karena segelintir orang, bahkan orang yang mengaku berpendidikan tinggi dan beriman telah secara bersama -sama menganggap kekerasan dan perlakuan kejam sebagai hal biasa dan enteng yang tak perlu dibesar -besarkan, tentunya pandangan ini sangat berbahaya dan tidak boleh dibiarkan.

Sebab jika demikian, maka demokrasi dan hak asasi manusia serta prinsip keadilan pastinya terancam dan mudah saja diinjak -injak, bahkan hilang dan berganti dengan kediktatoran dan kesewenang -wenangan, karena watak anarki dan sadistis dianggap segelintir orang sebagai hal biasa dan enteng, dianggap masalah kecil. Ini jelas tidak mendidik dan jelas tidak terpuji dan pastinya tidak beradab.

Karena orang -orang lainnya akan mencontoh, juga mengandalkan cara -cara kekerasan dan kejam pula untuk meraih kepentingannya, bahkan dengan segala cara sadis dan tak berprikemanusiaan.

Baca Juga :  Kinerja PPS dan KPPS Kota Langsa Dinilai Buruk

Kemudian, mengapa segelintir orang terlalu munafik dan terlalu cepat latah membela orang – orang besar, membela orang – orang kaya dan berkuasa, yang jelas secara sengaja membuat kesalahan besar yang tidak patut ditiru apalagi dilakukan di muka publik, bahkan segelintir orang menganggap kerusuhan KONI yang merampas kemerdekaan dan martabat orang lain itu, dianggap hanya masalah kecil yang bisa diselesaikan dengan cara sepele? Betapa piciknya pikiran seperti itu? Bagaimana seandainya anak istri, orang tua atau keluarga mereka yang mengalami atau diperlakukan seperti itu, apa mungkin mereka masih menganggapnya hal biasa, bahkan sepele?

Jika memang itu masalah kecil, lalu apakah sudah boleh masyarakat luas juga melakukan kekerasan yang sama esok hari? mengabaikan hukum, berlaku anarkis dan mengamuk di kantor -kantor atau di fasilitas umum lainnya, melakukan kerusuhan yang sama ketika mereka tidak puas? melempar batu dan menganiaya orang, ketika mau mereka tak terpenuhi? hanya karena bagi segelintir orang terpandang dan berpendidikan tinggi, dan paham hukum, kekerasan dan perilaku kejam itu dianggap masalah kecil dan enteng? Dan bisa didamaikan secara hukum?

Atau sudah boleh kah keluarga mereka segelintir orang itu juga diperlakukan dengan kekerasan dan perlakuan kejam demikian di muka umum, lalu orang lainnya akan menganggap itu masalah kecil dan enteng? dan tak perlu dibesar -besarkan?

Lalu dimana rasa keadilan bagi orang kecil, jutaan kaum miskin yang tersandung hukum dengan masalah yang hampir sama, masalah kekerasan dan kekejaman? Bahkan kekerasan jalanan, yang hingga kini terpaksa mendekam di berbagai penjara menghabiskan masa hukumannya yang menyakitkan dan kelam? terpaksa menjalani pahitnya hidup di penjara, lantaran ia orang miskin yang tak punya apa -apa? Mengapa tidak ada yang datang membela mereka?

Mengapa tidak muncul ketua Dewan dan tokoh lainnya, juga orang – orang hebat serta pihak lainnya untuk membela ketika si miskin dan orang -orang kecil terlilit masalah hukum, bahkan kasus yang sangat sepele?

Kenapa orang kecil dan anak-anak jalanan yang berlaku anarkis serta segenap kejahatan jalanan lainnya ditangkap dan tak ada siapa bela? Tapi mengapa ketika orang kaya dan orang – orang berkuasa yang melakukan kejahatan kekerasan, ramai -ramai datang pembela?

Kenapa tak ada ketua dewan juga tokoh serta pihak-pihak lainnya berkoar mengembar gemborkan mengecil – ngecilkan masalah mereka si miskin dan kaum lemah yang banyak menjalani hukuman mereka yang menyakitkan di penjara?

Baca Juga :  Kafilah Aceh Timur Tunjukkan Prestasi Gemilang di MTQ Aceh XXXVII

Bahkan mereka orang miskin dan kaum lemah itu menjalani hukumannya di penjara tanpa keringanan, dan belas kasihan dari siapa pun sama sekali.

Apakah beda warga negara kaya dan miskin di mata hukum? Dan di mata segelintir orang? Sehingga orang kaya dan berkuasa kesalahan besarnya dianggap kecil dan hendak di kecil -kecilkan, bahkan mau dihilangkan, sedangkan kaum miskin rakyat kecil kesalahannya terpaksa harus menjalani penjara tanpa siapa bela, tak ada pejabat atau orang terpandang dan segelintir orang lainnya datang membela dan meringankan masalahnya. Jangankan membela, terkadang peduli pun tidak? Betapa munafiknya keadaan yang seperti itu?

Mengapa orang besar, orang -orang kaya melakukan kesalahan, banyak yang bela, bahkan menganggap kerusuhan yang sangat berbahaya itu sebagai masalah kecil, masalah enteng dan biasa?

Bahkan anehnya yang menjadi korban dan melaporkan dirinya diserang dan teraniaya pun malah dipersalahkan, dipojokan? Bahkan terus – menerus diserang oleh oknum – oknum tertentu dengan cara yang lebih sadis lagi, bahkan coba dimatikan karakternya,
Apakah anda masih waras?

Apakah kita masih bisa dikatakan beradab dengan pandangan busuk seperti itu?

Apakah karena mereka orang – orang kaya dan berkuasa, maka harus dijaga, dianggap boleh melakukan apa saja, kesalahan besarnya dianggap enteng dan biasa, apa karena mereka kaya dan berkuasa,maka harus dijaga cari muka dan dijilat?

Apakah kita orang – orang beradab, jika masih membiarkan kejahatan, membudayakan kekerasan dan perlakuan kejam, bahkan menganggapnya enteng dan biasa ?

Biarkan kedua belah pihak yang bertikai dalam kasus KONI merenung dan membuka hati untuk jalan damai, bagaimana pun mereka itu sesama teman, jadi jangan dikompori lagi oleh oknum – oknum pihak ketiga yang berwatak jahat.

Biarkan kedua belah pihak itu berpikir mana yang terbaik bagi mereka dalam kondisi seperti sekarang ini. Kita mesti beri mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah mereka, jika memang itu dianggap masalah internal.

Biarkan mereka berdamai jika itu yang terbaik, dan biarkan mereka menempuh jalan damai dengan cara yang paling sederhana, tanpa harus dibumbu -bumbui.

Semoga semua ini ada hikmahnya bagi kita semua untuk memetik suatu pelajaran berharga, dan menjadi titik balik bagi kebangkitan Aceh Timur di masa depan.

 

STOP KEKERASAN, KARENA KEKERASAN TELAH TERBUKTI MENDATANGKAN KEHANCURAN

 

RONY

-FAKSI – Front Anti Kejahatan Sosial Aceh

Berita Terkait

Proyek Tanggap Darurat, Diduga Tanpa Pengawasan; BNPB Vs Pemkab Aceh Timur Saling Lempar Tanggung Jawab
Dugaan Kejanggalan Proyek Sumur Bor BNPB di Aceh Timur, Metode Geolistrik Dipertanyakan
Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon, Soroti Pembangunan Huntara Tak Pertimbangkan Aspek Ekologi
Rombongan Kafilah Aceh Timur Disambut Hangat di Pidie Jaya
Kafilah Aceh Timur Siap Mengikuti MTQ Aceh ke-37 di Pidie Jaya
Kafilah Aceh Timur Bersinar di MTQ ke-37 Provinsi Aceh, Ini Kata Bupati
Kafilah Aceh Timur Tunjukkan Prestasi Gemilang di MTQ Aceh XXXVII
Spanduk Utama Di Lapangan Upacara Perayaan Hari Santri di Aceh Timur, Jadi Sorotan

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 07:01 WIB

Baru 2 Minggu Menjabat, Kasat Reskrim Polres Sumbawa Bongkar Mafia LPG Oplosan

Kamis, 16 April 2026 - 20:32 WIB

Dandim 1607/Sumbawa: Pembangunan Jembatan Garuda Wujud Nyata Kepedulian TNI untuk Rakyat

Kamis, 16 April 2026 - 20:19 WIB

Malam Hari Tetap Siaga, Koramil Alas Perkuat Pengamanan Lingkungan

Kamis, 16 April 2026 - 19:47 WIB

‎Koramil 1607-09/Utan Dukung Penuh Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu

Kamis, 16 April 2026 - 11:18 WIB

Satlantas Polres Sumbawa Konsisten Razia, Kenalpot Brong Terus Dijaring

Rabu, 15 April 2026 - 19:58 WIB

Sisir Titik Rawan, Koramil Empang Perkuat Keamanan Wilayah

Rabu, 15 April 2026 - 19:51 WIB

Transparan dan Aman, Babinsa Alas Pastikan Pembayaran Gabah Tepat Sasaran

Rabu, 15 April 2026 - 19:44 WIB

‎Sinergi Kuat di Moyo Hilir, Tata Tanam MK I 2026 Siap Dilaksanakan ‎

Berita Terbaru

KARIMUN KEPRI

Bupati Karimun  Hadiri Halal Bihalal di Kantor BP Kawasan

Jumat, 17 Apr 2026 - 11:17 WIB