Gayo Lues|Oposisi News 86 — Upaya mengubah kawasan yang pernah masuk kategori rawan tanaman terlarang menjadi sentra ekonomi berbasis kopi terus diperkuat. Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gayo Lues, Fauzul Iman, S.T., M.Si., bersama personel BNNK mendampingi Tim Starbucks Farmer Support Center (FSC) melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program pemberdayaan petani kopi di bawah naungan Koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar, Selasa hingga Rabu, 21–22 Juli 2026.

Monitoring dilakukan di Desa Sepang dan Desa Porang, Kecamatan Blangkejeren, dengan meninjau langsung pembangunan rumah mesin pengolahan kopi (Ecomil), rumah kompos organik, serta kondisi tanaman kopi milik petani binaan yang sebelumnya menerima bantuan bibit unggul melalui program kolaborasi pemberdayaan kawasan rawan tanaman terlarang atau Grand Design Alternative Development (GDAD).
Kegiatan tersebut melibatkan Kepala BNNK Gayo Lues bersama Tim Starbucks Farmer Support Center (FSC) Berastagi. Fokus utama monitoring adalah memastikan seluruh tahapan program berjalan sesuai rencana, mulai dari kesiapan infrastruktur pengolahan hasil panen hingga perkembangan tanaman kopi yang telah ditanam oleh para petani penerima manfaat.
Dalam program tersebut, sebanyak 165.755 batang bibit kopi telah disalurkan kepada 160 petani binaan yang mengelola lahan seluas sekitar 104 hektare. Penyaluran bibit merupakan hasil kolaborasi antara BNNK Gayo Lues, PT Ujang Jaya Internasional, Starbucks Farmer Support Center (FSC), dan Koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar sebagai bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Peninjauan terhadap mesin Ecomil menjadi salah satu perhatian utama. Mesin tersebut dirancang untuk mengolah buah kopi ceri menjadi gabah kopi yang bersih sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas hasil produksi petani. Kehadiran fasilitas itu dinilai dapat mempercepat proses pascapanen sekaligus memberi nilai tambah terhadap komoditas kopi yang dihasilkan petani binaan.
Selain mengecek kesiapan fasilitas pengolahan, tim juga turun langsung ke sejumlah kebun untuk melihat perkembangan tanaman kopi. Monitoring dilakukan guna memastikan pola tanam telah mengikuti standar operasional yang direkomendasikan Starbucks Farmer Support Center.
Bibit yang dibagikan merupakan bibit berkualitas yang diproduksi menggunakan media kokopit atau cocopeat, bukan media tanah, sehingga membutuhkan teknik budidaya yang sesuai agar tingkat keberhasilan tanaman tetap terjaga.
Kepala BNNK Gayo Lues, Fauzul Iman, berharap seluruh petani binaan dapat menjalankan proses budidaya sesuai standar yang telah ditetapkan.
Menurutnya, kepatuhan terhadap prosedur teknis menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas tanaman sekaligus mendukung keberhasilan program pemberdayaan yang sedang berjalan.
Program GDAD sendiri merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan penguatan ekonomi melalui komoditas legal dan produktif. Melalui pengembangan sektor kopi, masyarakat didorong memperoleh sumber penghasilan yang berkelanjutan sehingga diharapkan mampu memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi di wilayah yang menjadi sasaran program.

Selama dua hari pelaksanaan monitoring, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar. Peninjauan lapangan dimanfaatkan untuk mengevaluasi perkembangan program sekaligus memastikan dukungan yang telah diberikan benar-benar dimanfaatkan secara optimal oleh petani penerima bantuan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan menggunakan sumber anggaran non-DIPA Tahun 2026 dan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui sinergi antara pemerintah, mitra swasta, koperasi, dan kelompok petani di Kabupaten Gayo Lues. [Mustafa Porang]




































