Huntara Korban Banjir Aceh Timur Tuai Kritik, Anggaran Dipertanyakan Setelah Bangunan Dinilai Tak Layak

SIWAH RIMBA

- Redaksi

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:21 WIB

50106 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Timur|Oposisi News 86 — Program Hunian Sementara (Huntara) untuk korban banjir di Desa Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, menuai kritik tajam. Bangunan yang dibangun sebagai solusi darurat pascabencana justru dinilai gagal memberi perlindungan layak bagi warga terdampak.

Enam bulan setelah banjir menerjang kawasan itu, sebagian besar korban masih bertahan di pengungsian mandiri. Kondisi Huntara yang bocor, tanpa aliran listrik, hingga mulai mengalami kerusakan membuat warga enggan menempatinya.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah persoalan mendasar pada bangunan tersebut. Saat hujan turun, air disebut masuk ke dalam barak akibat posisi lantai yang rendah. Beberapa atap mengalami kebocoran, sementara dinding berbahan kalsiboard mulai rusak meski proyek belum lama selesai dikerjakan.

Perwakilan Tim Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon Pasca Banjir Aceh, Agus Suriadi, mengatakan mayoritas warga menilai Huntara belum aman untuk dihuni.
“Sekitar 70 persen warga belum bersedia pindah. Ketika hujan turun, air masuk ke dalam bangunan. Listrik juga belum tersedia dan beberapa bagian sudah mulai rusak,” ujar Agus, mengutip keluhan masyarakat.

Baca Juga :  Jelang Idul Adha, Pemkab Aceh Utara Gempur Inflasi Lewat Pasar Murah di Geureudong Pase

Sorotan lebih keras disampaikan Ketua Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon, Masri. Ia menilai proyek yang digagas BNPB tersebut memperlihatkan lemahnya perencanaan teknis dan pengawasan di lapangan.

Menurut dia, pembangunan Huntara di kawasan rendah yang rawan tergenang semestinya menjadi perhatian sejak awal. Namun kondisi di lapangan justru memperlihatkan minimnya antisipasi terhadap risiko banjir yang sebelumnya telah terjadi.


“Kalau hujan sebentar saja air sudah masuk ke dalam, berarti ada persoalan serius dalam desain dan pengerjaannya. Bangunan ini seharusnya menjadi tempat perlindungan sementara, bukan malah menambah kekhawatiran warga,” kata Masri.

Ia juga mempertanyakan kualitas material yang digunakan. Dinding berbahan kalsiboard dinilai tidak sesuai untuk wilayah dengan kelembapan tinggi dan curah hujan ekstrem.
“Anggaran per unit disebut mencapai sekitar Rp30 juta. Publik tentu berhak mempertanyakan mutu pekerjaan jika hasilnya justru dipersoalkan oleh warga yang menjadi penerima manfaat,” ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Aceh Utara dan Satgas PRR tinjau korban cuaca ekstrem di Langkahan

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai efektivitas pengawasan proyek penanganan pascabencana. Sebab, Huntara sejatinya dibangun untuk menjamin kebutuhan dasar korban bencana sebelum proses rehabilitasi dan rekonstruksi permanen dilakukan.

Menanggapi kritik itu, BNPB menyatakan evaluasi sedang dilakukan bersama pihak pelaksana proyek. Pejabat BNPB, Pitoy, mengatakan koordinasi dengan vendor dan tim teknis terus dilakukan untuk menangani persoalan di lokasi.
“Koordinasi sedang berjalan untuk penyelesaian berbagai kendala di lapangan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan BNPB lainnya, Evans, menyebut pihaknya juga berkoordinasi dengan BPBD serta PLN terkait pembenahan fasilitas dan penyambungan listrik.

Hingga kini, warga masih menunggu realisasi perbaikan yang dijanjikan. Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang masih membayangi kawasan tersebut, Huntara di Pante Kera justru menjadi simbol persoalan lama dalam penanganan pascabencana: proyek dibangun cepat, tetapi kualitas dan kelayakannya dipertanyakan. (SR-tim)

Berita Terkait

Dua Pria Diamankan di Kampung Jawa Gayo Lues, Polisi Sita 1,65 Gram Sabu
Sabu Diduga Beredar di Lingkungan Warga, Polisi Amankan Pria 28 Tahun: Perang Narkotika Jangan Berhenti pada Penangkapan
Innalillahi, wa inna ilaihi raji’un, Jamaluddin Alias Plin Berpulang ke Rahmatullah
Delapan Abad Samudera Pasai, Al-Qur’an Menggema di Arena Piasan Pase
Sapi Berkeliaran Masuk Kota Blangkejeren, Penertiban Dipertanyakan
Madu Kelulud Jadi Etalase Potensi Geureudong Pase di Milad 800 Aceh Utara
Delapan Abad Pasai, Zikir Menggema dan Pesan Kebangkitan Menguat
Genset PLN Beroperasi Malam Hari di Permukiman, Warga Terganggu Suara Bising; PLN Akui untuk Atasi Defisit Daya

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 08:27 WIB

‎Perkuat Kehadiran di Wilayah Binaan, Babinsa Jorok Dampingi Bantuan Pangan ‎

Rabu, 16 September 2026 - 08:19 WIB

Dari Lunyuk Ode, Semangat Qur’ani Tumbuhkan Generasi Berintegritas dan Berakhlak Mulia

Selasa, 15 September 2026 - 20:16 WIB

‎Jelang Musim Tanam, Babinsa Kakiang Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Karhutla

Selasa, 15 September 2026 - 20:05 WIB

Mencegah Sebelum Menjadi Bencana, Koramil 1607-07/Lunyuk Edukasi Warga tentang Risiko Kebakaran

Selasa, 15 September 2026 - 20:00 WIB

‎Babinsa Labuhan Ijuk Hadir di Tengah Musdes, Dukung Pembangunan Desa Berbasis Kebutuhan Masyarakat ‎

Selasa, 15 September 2026 - 19:55 WIB

Dari Kebijakan ke Masyarakat, Babinsa Kalimango Kawal 577 KK Terima Bantuan Beras

Selasa, 15 September 2026 - 19:42 WIB

Beras untuk Ketahanan Keluarga, Babinsa Baru Perkuat Sinergi dalam Penyaluran Bantuan Pangan Bapanas

Selasa, 15 September 2026 - 19:35 WIB

Danposramil Lape-Lopok Hadiri Penutupan Turnamen Kades Cup II Desa Pungkit

Berita Terbaru