Poto Doc. Oposisi News 86/Siwa Rimba
Aceh Utara| Oposisi News 86 – Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Geureudong Pase, Aceh Utara, menolak berjalan di rel yang itu-itu saja. SMAN 1 dan SMPN 1 memilih keluar dari pola seremoni rutin, menyatukan agenda dalam satu forum bersama di Aula Kantor Camat, Sabtu (02/05/2026).
Kolaborasi lintas sekolah ini lahir dari kesepakatan panitia yang dikomandoi Muslem. Upacara bendera tetap menjadi pembuka, namun arah kegiatan segera bergeser ke ruang refleksi: pembacaan Surat Yasin dan doa bersama untuk para pendidik yang telah wafat. Pilihan ini memberi penekanan bahwa Hardiknas tidak berhenti pada simbol, tetapi menyentuh akar nilai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala SMAN 1 Geureudong Pase, Drs. SAYUTHI, M. Pd. menyebut pendekatan tersebut sebagai upaya memulihkan makna peringatan. “Kami ingin siswa memahami esensinya, bukan sekadar hadir dalam barisan. Ada jejak pengabdian guru yang harus dikenang dan dihargai,” ujarnya.
Ia menegaskan, capaian generasi hari ini berdiri di atas kerja panjang para pendidik terdahulu. Karena itu, penghormatan terhadap guru dan orang tua tidak boleh dipinggirkan oleh ambisi akademik semata.

Plt Kepala SMPN 1 Geureudong Pase, Mustafirin, S. Pd. melihat sinergi dua sekolah sebagai langkah strategis yang jarang ditempuh. Menurutnya, peringatan bersama menciptakan ruang belajar yang lebih hidup sekaligus memperkuat pesan tentang pentingnya pendidikan sebagai fondasi masa depan.
Dari kalangan siswa, kesan yang muncul tidak sekadar antusias, tetapi juga kesadaran. Zuhra Diah Ulhaq, siswi SMAN 1, menilai kegiatan tersebut membuka perspektif baru tentang beratnya peran guru dalam membentuk karakter dan pengetahuan. “Sederhana, tapi mengena,” katanya singkat.
Ketua panitia, Muslem, S. Pd. I. akrab disapa Pak Poem memastikan format kolaboratif ini tidak berhenti pada tahun ini. Ia mendorong agar pola serupa terus dilanjutkan sebagai bentuk konkret bahwa pendidikan bukan jargon tahunan, melainkan komitmen yang harus dirawat.
Di tengah kritik terhadap praktik pendidikan yang kerap terjebak formalitas, langkah dua sekolah di Geureudong Pase menjadi penegas: perubahan bisa dimulai dari keputusan sederhana—mengganti seremoni kosong dengan makna yang benar-benar dirasakan. (SR)









































