Persoalan Agraria Masyarakat Geureudong Pase Aceh Utara dengan PT Satya Agung Masih Meniti Jalan Buntu

REDAKSI 2

- Redaksi

Jumat, 3 Oktober 2025 - 13:40 WIB

50561 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Utara – Perseteruan agraria antara masyarakat Geureudong Pase dengan perusahaan perkebunan PT Satya Agung kian berlarut Hingga akhir September 2025, mediasi masyarakat dengan PT Satya Agung yang difasilitasi Kapolres Lhokseumawe di Aula kantor Kecamatan setempat pada Selasa (30/9) belum membuahkan hasil yang konkret.

Dalam mediasi tersebut, selain Kapolres Lhokseumawe AKBP Ahzan, juga dihadiri Dandim 0103 Letkol Arh Jamal Dani Arifin, Ketua DPRK Arafat Ali, hingga perwakilan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya warga dengan tegas menyatakan perusahaan telah menyeroboti, menguasai lahan garapan bahkan pemukiman mereka selama puluhan tahun tanpa dasar hukum yang jelas. “ ini tanah kami, kita tidak pernah mengusik perusahaan, tapi kenapa perusahaan menabuh gendang perang dengan merampas tanah masyarakat, Kami sudah menyampaikan bukti kepemilikan adat, sertifikat dan sejarah penguasaan tanah, tapi perusahaan terus berlindung di balik izin yang tak pernah terbuka ke publik,” ujar seorang perwakilan masyarakat saat mediasi Selasa, 30 September 2025.
“Menurutnya, masyarakat sudah cukup menderita dan dirugikan selama bertahun-tahun akibat pencaplokan lahan, karena lahan tersebut merupakan satu satunya aset yang mereka dimiliki,” pungkasnya geram.

Management perusahaan membantah

Management PT Satya Agung melalui Head Legal Hendra Khan membantah tudingan tersebut menurutnya, perusahaan memiliki dokumen HGU yang sah secara hukum, diterbitkan oleh pemerintah pusat, dan telah melalui proses verifikasi berlapis. “Peta HGU kami bisa ditelusuri secara terbuka. Patok batas HGU kami dengan lahan sengketa jauhnya sekitar 1, 3 Km. Jika tiba tiba ada tanah warga dituding masuk dalam HGU kami, silahkan konfirmasi dengan pihak BPN, itu adalah kewenangan mereka, yang jelas lahan masyarakat tersebut bukan milik perusahaan dan itu diluar dari peta kami.” ujarnya.

Baca Juga :  Mosi Tidak Percaya Terhadap Kepala Desa, Masyarakat Gampong Biara Barat Unjuk Rasa

Meski begitu, PT Satya Agung mengaku terbuka untuk berdialog dengan masyarakat maupun pemerintah daerah guna menghindari konflik berkepanjangan. “ kita menghormati dan memberi ruang kepada Pansus, DPRK dan Pemda untuk bekerja menyelesaikan persoalan ini, Kami mendukung penyelesaian secara hukum dan musyawarah. Tidak ada kepentingan kami merugikan masyarakat, karena keberadaan perusahaan seharusnya justru memberi manfaat,” jelasnya.

BPN tidak tahu – membiarkan – atau justru teribat

Sementara pada saat mediasi, perwakilan BPN Aceh Utara menyebutkan, menurut data, lahan dan permukiman masyarakat masuk dalam HGU sejak tahun 1982, walau perusahaan tidak mengakui. Tapi, ntumpang tindih data mungkin disebabkan ada kesalahan dari petugas atau Aplikasi dan mereka berjanji akan mengukur ulang titik koordinat serta memasang patok baru dalam waktu enam bulan.

Badan Pertanahan Nasional (BPN), adalah Lembaga negara yang mestinya menjadi pengawal kepastian hukum atas tanah justru dipertanyakan integritasnya. Apakah BPN benar-benar tidak tahu karena kesalahan petugas dilapangan, eror Aplikasi atau justru terlibat memberi ruang kepada Korporasi.

Bukti dilapangan memperlihatkan adanya tumpang tindih sertifikat dan penerbitan HGU di atas lahan yang sejak lama digarap masyarakat. Ironisnya, lembaga yang memiliki kewenangan penuh dalam pengukuran dan penerbitan dokumen justru plin-plan.

Baca Juga :  Babinsa Syamtalira Bayu Bantu Petani Budidayakan Labu Sayur

Kecurigaan publik makin kuat lantaran pihak agraria tak kunjung memberi penjelasan yang akurat. Alih-alih menjadi penengah, institusi ini justru dicurigai sebagai pemicu konflik.

Integritas BPN Aceh Utara, menambah panjang daftar pertanyaan. Apakah negara benar-benar berpihak pada rakyat, atau sekadar menjadi stempel bagi kepentingan korporasi.

Peran DPRK – Janji semu atau hasil nyata

Ketua DPRK Aceh Utara, Arafat Ali, SE., MM. dengan tegas memastikan, persoalan HGU bisa diselesaikan dalam kurun waktu dua bulan, bukan dua tahun.
Menurutnya , DPRK bersama pemerintah daerah, Tim pansus dan aparat keamanan berkomitmen menyelasaikan persoalan ini agar tidak terjadi lagi konflik horizontal. “Kita akan mendorong adanya jalan tengah yang adil antara masyarakat dan perusahaan, berikan kami waktu dua bulan” tegas Arafat.

Masyarakat kini menanti janji ketua DPRK, apakah janji semu atau hasil nyata. Publik menilai, DPRK punya dua pilihan, benar-benar berpihak kepada rakyat dengan memperjuangkan hak mereka hingga tuntas, atau hanya menjadi pelengkap administrasi yang membiarkan status perselisihan berlanjut. Kasus Geureudong Pase pun menjadi ujian serius bagi komitmen wakil rakyat di Aceh Utara, apakah mereka mampu menegakkan keadilan agraria, atau sekadar menjadi penonton dalam konflik berkepanjangan.

Persoalan Geureudong Pase mencerminkan problem laten agraria di Aceh Utara, tumpang tindih izin dengan hak-hak masyarakat lokal yang diabaikan. Kalau tidak diselesaikan dengan cepat, konflik ini berpotensi menjadi bara sosial yang meluas. (SR)

Berita Terkait

Selamat Milad Samudra Pasai 800
SDN 6 Syamtalira Bayu Hidupkan Tradisi Jumat Religius, Siswa Dilatih Berani dan Berakhlak
Hardiknas di SMAN 1 Meurah Mulia: Pendidikan Tak Lagi Sekadar Seremoni, Kreativitas Siswa Meledak di Panggung Bakat
Cot Girek Membara: Buruh PTPN IV Tagih Nyali Pemerintah dan Aparat
Seragam Rp120 Ribu di Balik Dalih “Ikhlas”: Jadup Tanjong Geulumpang Diselimuti Tanda Tanya
Dua Kali Diperpanjang, Kursi Pucuk Perseroda Aceh Utara Tetap Sepi—Alarm Krisis Kepercayaan?
Warga Gampong Tanjong Glumpang Bantah Isu Dugaan Pungli Dana Jadup
Jadup Dipalak: Bantuan Bencana Berubah Jadi “Upeti” di Baktiya

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:10 WIB

Sejumlah Belanja Miliaran Rupiah di RSUD M. Sani Karimun Disorot, Transparansi Pelaksanaan Kegiatan Dipertanyakan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:38 WIB

DLH Karimun Belum Temukan Data Izin Lingkungan PT Karimun Jaya Plastik, Pemeriksaan Lapangan Dinantikan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Wartawan Dilarang Meliput Pabrik Pengolahan Limbah Plastik di Karimun, Ada Apa? Aparat dan DLH Diminta Periksa Legalitas Perusahaan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:10 WIB

DPD PSI  kabupaten karimun berharap Ir. H.joko widodo bersedia menjadi ketua dewan pembina  PSI

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Konfirmasi Proyek Jalan SP Mutiara–Paret Lapis Berujung Pemblokiran WhatsApp Kepala BP Karimun, Transparansi Dipertanyakan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:46 WIB

Kajari Karimun Diminta Periksa Proyek Pengerjaan Jalan Mutiara Ke Paret Lapis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:55 WIB

Proyek Jalan Miliaran di Parit Rampak Disorot, Spesifikasi dan Transparansi Pekerjaan Dipertanyakan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Berita Terbaru

DAERAH

Descubre Las Mejores Ofertas y Juegos en Westio Casino

Sabtu, 24 Okt 2026 - 20:45 WIB