Karimun, Kepri|Oposisi News 86 — Keluhan terhadap kualitas jaringan internet kembali muncul di Karimun. Sejumlah pelanggan mempertanyakan kestabilan jaringan PT Solnet yang disebut kerap mengalami perlambatan hingga sulit tersambung.
Persoalan itu menjadi sorotan setelah pengelola Cafe Danau Indah di kawasan Paya Manggis, Karimun, mengaku mengalami gangguan jaringan saat pelanggan hendak menggunakan layanan internet pada Senin, 10 Agustus 2026.
Pengelola kafe yang meminta identitasnya ditulis dengan inisial B, 54 tahun, mengatakan gangguan tersebut bukan pertama kali terjadi. Menurut dia, persoalan serupa sudah beberapa kali dirasakan dalam aktivitas usaha, terutama ketika pelanggan membutuhkan koneksi internet di area kafe.
“Jaringan ini tidak bagus. Ketika pelanggan mencoba menggunakan jaringan WiFi, terkadang tidak bisa tersambung,” ujar B.
Ia mengatakan kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas usaha karena akses internet kini menjadi salah satu fasilitas yang banyak dicari pelanggan kafe.

Ketika jaringan tidak stabil, pelanggan yang datang dengan harapan memperoleh akses internet justru dapat mengalami kesulitan untuk terhubung.
B juga mengaku kecewa terhadap respons teknisi ketika gangguan terjadi. Ia menyebut pernah menghubungi pihak teknis untuk meminta penanganan, tetapi menurut keterangannya, teknisi tidak segera datang ke lokasi.
“Ini bukan yang pertama. Sudah sering terjadi. Kalau kita telepon teknisinya, kadang tidak datang. Jadi jelas kita kecewa dengan pelayanannya,” kata B.
Ia memperkirakan biaya yang dikeluarkan untuk berlangganan jaringan internet tersebut mencapai sekitar Rp300 ribu lebih. Karena itu, menurut dia, pelanggan wajar mempertanyakan kualitas layanan apabila gangguan koneksi berlangsung berulang dan penanganannya dinilai belum sesuai harapan.
B tidak mempersoalkan apabila gangguan jaringan terjadi sesekali. Namun, ia berharap penyedia layanan memiliki mekanisme penanganan gangguan yang jelas sehingga keluhan pelanggan dapat segera ditindaklanjuti.
“Kalau kita sudah mengeluarkan uang sekitar Rp300 ribu lebih, tentu kita berharap jaringan bisa digunakan dengan baik. Kalau sering lelet dan pelayanan ketika ada gangguan juga mengecewakan, pelanggan tentu merasa dirugikan,” ujarnya.
Keluhan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat Karimun untuk lebih cermat sebelum memilih layanan internet rumah maupun usaha. Konsumen perlu memperhatikan bukan hanya harga paket dan besarnya kecepatan yang ditawarkan, tetapi juga cakupan jaringan, kestabilan koneksi di lokasi, mekanisme pengaduan, serta kecepatan penanganan ketika terjadi gangguan.
Dalam konteks perlindungan konsumen, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen memberikan sejumlah hak kepada konsumen, termasuk hak memperoleh kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam menggunakan barang dan/atau jasa, hak mendapatkan informasi yang benar dan jelas, serta hak menyampaikan keluhan atas jasa yang diterima.
Persoalan pelayanan internet pada akhirnya tidak semata-mata berkaitan dengan cepat atau lambatnya koneksi. Ada aspek pelayanan yang tidak kalah penting, yakni bagaimana penyedia jasa merespons ketika konsumen menghadapi gangguan.
Pelanggan membayar untuk mendapatkan layanan sesuai ketentuan yang disepakati, sehingga komunikasi dan penanganan keluhan menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan.
Keluhan B tersebut juga mendapat perhatian dari Ibrahim, Divisi Intelijen DPD KPK Tipikor Kabupaten Karimun. Ia menyayangkan apabila pelanggan mengalami gangguan jaringan secara berulang dan merasa kesulitan memperoleh penanganan ketika menyampaikan keluhan.
Menurut Ibrahim, penyedia layanan internet seharusnya memberikan perhatian terhadap keluhan konsumen dan memastikan setiap gangguan ditangani melalui mekanisme pelayanan yang jelas.
“Kita sangat menyayangkan kalau pelanggan mengalami jaringan yang sering lelet dan kemudian pelayanan ketika menyampaikan keluhan juga tidak maksimal,” kata Ibrahim.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menentukan pilihan ketika akan memasang jaringan internet.
Konsumen dinilai perlu mencari informasi mengenai kualitas jaringan di wilayah tempat tinggal atau tempat usaha, termasuk menanyakan pengalaman pelanggan lain sebelum mengambil keputusan berlangganan.
“Harapan kita masyarakat lebih selektif dalam memilih jaringan WiFi. Perlu diperhatikan kualitas jaringan dan pelayanan setelah pemasangan, sehinga pelanggan tidak kecewa,” ujar Ibrahim.
Meski demikian, keluhan pelanggan tersebut tetap merupakan keterangan dari pihak yang merasakan layanan dan belum menjadi kesimpulan bahwa seluruh jaringan Solnet di Karimun mengalami persoalan yang sama.
Kualitas jaringan internet dapat dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kondisi infrastruktur, kepadatan pengguna, gangguan teknis, perangkat pelanggan, serta kondisi jaringan pada lokasi tertentu.
Karena itu, klarifikasi dari pihak PT Solnet menjadi penting agar persoalan tersebut dapat dilihat secara utuh.
Penjelasan perusahaan mengenai penyebab gangguan, mekanisme penanganan keluhan, waktu respons teknisi, serta langkah perbaikan jaringan akan memberikan gambaran yang lebih berimbang kepada masyarakat.
Bagi pelanggan, jalur pengaduan juga menjadi bagian penting dari penyelesaian persoalan. Keluhan sebaiknya disampaikan secara resmi kepada penyedia layanan dengan mencantumkan waktu gangguan, lokasi, jenis persoalan, serta bukti pendukung apabila tersedia. Dengan begitu, penyedia jasa memiliki dasar yang jelas untuk melakukan pemeriksaan dan perbaikan.
Di tengah semakin bergantungnya masyarakat terhadap internet untuk bekerja, berkomunikasi, menjalankan usaha, hingga memberikan layanan kepada pelanggan, kestabilan jaringan bukan lagi sekadar fasilitas tambahan. Bagi pelaku usaha seperti kafe, koneksi internet yang bermasalah dapat ikut memengaruhi kenyamanan pengunjung dan aktivitas operasional.
Kasus yang dikeluhkan pengelola Cafe Danau Indah itu pada akhirnya membuka pertanyaan sederhana tetapi penting: sejauh mana kualitas layanan internet yang diterima pelanggan sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan?
Jawabannya tentu tidak cukup hanya dengan melihat angka kecepatan pada paket berlangganan. Yang lebih menentukan adalah pengalaman pelanggan ketika jaringan digunakan dan bagaimana perusahaan hadir ketika masalah terjadi.
Karena itu, sebelum memilih penyedia layanan internet, masyarakat Karimun dinilai perlu membandingkan harga, kualitas jaringan, cakupan layanan, ketentuan berlangganan, serta rekam pelayanan pengaduan.
Sementara bagi penyedia jasa, setiap keluhan pelanggan semestinya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas layanan dan mempertahankan kepercayaan konsumen. [Sajirun,S]




































