Gayo Lues, Aceh|Oposisi News 86 — Pergantian Kapolres Gayo Lues bukan sekadar seremoni pergantian jabatan. Di balik prosesi lepas sambut yang berlangsung di Bale Pendopo Blangkejeren, Jumat malam, 17 Juli 2026, tersimpan catatan pengabdian, pengalaman menghadapi bencana, hingga harapan agar stabilitas keamanan tetap menjadi fondasi pembangunan daerah di kabupaten yang dikenal sebagai Negeri Seribu Bukit.

AKBP Hyrowo, S.I.K., mengakhiri masa tugasnya setelah lebih dari satu setengah tahun memimpin Polres Gayo Lues. Dalam sambutannya, ia tidak banyak berbicara mengenai capaian institusi. Perwira menengah Polri itu justru memilih mengenang hubungan sosial yang menurutnya menjadi kekuatan utama masyarakat Gayo Lues.
Ia mengaku telah bertugas di sejumlah wilayah Aceh, namun baru di Gayo Lues merasakan kuatnya budaya beserinen yang menempatkan nilai persaudaraan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut Hyrowo, masyarakat tidak hanya menjalin hubungan sosial, tetapi memperlakukan sesama layaknya keluarga.
Pengalaman tersebut menjadi kesan yang disebutnya paling sulit dilupakan selama bertugas. Di tengah kenangan itu, Hyrowo juga mengingat salah satu fase paling berat dalam masa kepemimpinannya. Sekitar enam bulan setelah menjabat, Gayo Lues diterjang banjir bandang akibat bencana hidrometeorologi.
Situasi tersebut memaksa seluruh unsur pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat bekerja tanpa mengenal waktu untuk melakukan evakuasi warga, menyalurkan bantuan kemanusiaan, serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak.
Bagi Hyrowo, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan terbesar Gayo Lues bukan hanya berada pada bentang alamnya, melainkan pada solidaritas masyarakat yang mampu bergerak bersama saat menghadapi keadaan darurat.
Tongkat komando kini berada di tangan AKBP Cakra Donya. Perwira yang baru dipercaya memimpin Polres Gayo Lues itu mengawali sambutannya dengan kesan terhadap keindahan alam yang mengelilingi wilayah tersebut.
Namun di balik panorama pegunungan yang memikat, ia melihat tantangan nyata berupa kondisi geografis yang menuntut kesiapan aparat dalam menjangkau seluruh wilayah pelayanan kepolisian.
Menurut Cakra Donya, keberhasilan menjaga keamanan dan ketertiban tidak dapat dilakukan hanya oleh institusi kepolisian. Dibutuhkan dukungan pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, serta seluruh lapisan masyarakat agar tercipta sinergi yang kuat dalam menjaga situasi tetap kondusif.
Bupati Gayo Lues Suhaidi memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan penghargaan kepada AKBP Hyrowo atas dedikasinya selama bertugas. Ia menilai koordinasi yang terjalin antara pemerintah daerah dan Polres Gayo Lues telah memberikan kontribusi dalam menjaga stabilitas daerah, termasuk ketika menghadapi bencana hidrometeorologi yang sempat menguji kesiapsiagaan seluruh unsur pemerintahan.
Suhaidi menyampaikan ucapan terima kasih atas pengabdian AKBP Hyrowo dan berharap seluruh amal bakti yang telah diberikan menjadi manfaat bagi masyarakat serta menjadi bekal dalam penugasan berikutnya.
Kepada AKBP Cakra Donya, Bupati menyampaikan selamat datang sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Gayo Lues untuk terus memperkuat sinergi bersama Polres Gayo Lues. Menurutnya, keamanan merupakan prasyarat penting bagi keberlangsungan pembangunan, investasi, pelayanan publik, dan aktivitas masyarakat.
Lepas sambut itu menjadi penanda berakhirnya satu babak kepemimpinan sekaligus dimulainya babak baru. Di tengah dinamika tantangan keamanan, kondisi geografis yang tidak mudah, dan kebutuhan pembangunan yang terus berkembang, masyarakat Gayo Lues kini menaruh harapan agar kolaborasi antara pemerintah daerah dan kepolisian tetap terjaga, sehingga stabilitas yang telah dibangun dapat terus dipertahankan demi kepentingan masyarakat luas. [Mustafa Porang]




































