SUMBAWA, OPOSISINEWS86.COM, (25 Oktober 2026),– Suasana haru dan kebahagiaan menyelimuti kegiatan Wisuda Program Tahfidz Al-Qur’an dengan Metode Tikrar Angkatan VI Tahun 2026 yang diselenggarakan Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat Sumbawa, Minggu (25/10/2026).
Dirangkaikan dengan peringatan Hari Santri Nasional, kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WITA tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat, Jalan Lintas Kebayan Reberas, depan Taman Unter Katimis, Kelurahan Uma Sima, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini bukan sekadar seremoni wisuda, melainkan momentum untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, memperkuat karakter generasi muda, serta mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sebanyak 15 peserta didik dari jenjang PAUD, sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP) mengikuti prosesi wisuda setelah menempuh proses pembelajaran dan menghafal Al-Qur’an. Capaian hafalan mereka bervariasi, mulai dari satu, dua, tiga, hingga empat juz.

Berikut Nama 15 Peserta Wisuda Tahfidz Angkatan VI Tahun 2026. Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat Sumbawa memberikan apresiasi kepada 15 peserta didik yang mengikuti wisuda Program Tahfidz Al-Qur’an dengan Metode Tikrar Tahun 2026, yaitu:
1. Alesha 2. Risma.
3. R. Ilham. 4. M. Raihan.
5. Alifa. 6. Rifqi.
7. M. Faris. 8. Dwi.
9. Arifin. 10. Qoni.
11. Arifin. 12. Yahya.
13. Anggi. 14. Atan. 15. Nisa
Ke-15 peserta tersebut menjadi bagian dari upaya mencetak generasi Qur’ani yang diharapkan tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia, mencintai ilmu pengetahuan, serta mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa.

Kepala sekolah sekaligus pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat Sumbawa, Ustadz Slamet Riyadi, S.Pd.i., menjelaskan bahwa kegiatan wisuda tahfidz merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan bertepatan dengan momentum peringatan Hari Santri Nasional.
Menurutnya, kegiatan ini bertujuan mengingatkan generasi muda dan masyarakat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari kontribusi ulama, kiai, dan santri.
“Ini adalah kegiatan rutin tahunan kami. Setiap momentum Hari Santri Nasional, kami mengadakan kegiatan untuk menyemarakkan peringatan sekaligus mengingatkan anak-anak dan masyarakat bahwa hadirnya Indonesia tidak terlepas dari peran ulama, kiai, dan santri,” ungkap Ustadz Slamet Riyadi saat diwawancarai wartawan OposisiNews86.com seusai kegiatan.
Ia menjelaskan bahwa Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa, yang turut membangkitkan semangat umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Karena itu, menurutnya, semangat perjuangan tersebut perlu diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan agama, penguatan karakter, dan penanaman rasa cinta Tanah Air.
“Ruh perjuangan ini penting kita hadirkan dalam jiwa anak-anak dan masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini terus kami laksanakan setiap tahun,” tegasnya.
Slamet juga menyampaikan bahwa dirinya sebelumnya dipercaya menjadi Ketua Panitia Hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Sumbawa. Puncak peringatan dilaksanakan pada 22 Oktober 2026 melalui upacara di Lapangan Kodim 1607/Sumbawa yang, menurut keterangannya, dihadiri sekitar 1.800 peserta dari berbagai pondok pesantren, majelis taklim, dan sekolah Islam.
Program Tahfidz dengan Metode Tikrar menjadi salah satu upaya Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat dalam membina peserta didik agar mampu menghafal Al-Qur’an secara konsisten.
Metode tikrar menekankan pengulangan bacaan dan hafalan untuk membantu peserta didik mengingat ayat-ayat yang telah dipelajari.
Bagi pihak pesantren, keberhasilan 15 peserta didik mencapai tahap wisuda merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Proses menghafal Al-Qur’an membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, pendampingan guru, serta dukungan penuh dari orang tua.
Peserta wisuda berasal dari jenjang pendidikan yang berbeda, mulai dari PAUD, SD, hingga SMP. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembinaan hafalan Al-Qur’an dapat dimulai sejak usia dini melalui pendidikan yang terarah dan berkelanjutan.
Slamet berharap keberhasilan para wisudawan dapat menjadi inspirasi bagi peserta didik lainnya untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an.
Salah satu bagian paling menyentuh dalam kegiatan tersebut adalah prosesi yang mempertemukan para wisudawan dengan orang tua mereka di atas panggung.
Anak-anak dan orang tua duduk bersama, saling mendoakan, serta merayakan perjalanan pendidikan yang telah dilalui. Prosesi simbolis penyematan mahkota kepada orang tua menghadirkan suasana haru dan kebahagiaan.
Sejumlah orang tua tampak meneteskan air mata ketika mengikuti prosesi tersebut. Momen itu menjadi gambaran betapa besar kebanggaan keluarga terhadap perjuangan anak-anak mereka dalam menghafal Al-Qur’an.
Ustadz Slamet mengatakan, salah satu tujuan kegiatan ini adalah menumbuhkan semangat orang tua agar semakin mendukung pendidikan agama anak-anak mereka.
“Kami ingin orang tua yang anaknya diwisuda semakin semangat. Kehadiran anaknya untuk menghafal Al-Qur’an merupakan kebanggaan dan harapan besar bagi keluarga. Kami ingin semua orang tua bisa merasakan kebahagiaan seperti ini,” tuturnya.
Ia berharap semakin banyak keluarga yang memberikan perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an, bukan semata-mata untuk mengikuti perlombaan, melainkan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan bekal kehidupan anak-anak.
Selain prosesi wisuda tahfidz, kegiatan tersebut juga diisi dengan lomba Mars Hari Santri yang membawa pesan nasionalisme dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan memahami bahwa pendidikan agama dan kecintaan terhadap Tanah Air merupakan nilai yang saling melengkapi.
Semangat “NKRI Harga Mati” menjadi salah satu pesan yang ingin ditanamkan kepada generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, memiliki tanggung jawab sosial, serta menghargai perjuangan para pendahulu bangsa.
Peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat pun menjadi ruang pendidikan karakter yang menggabungkan nilai keagamaan, sejarah perjuangan bangsa, dan semangat membangun masa depan Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, panitia menyiapkan sekitar 100 undangan yang ditujukan kepada kepala sekolah, pengelola pondok pesantren, majelis taklim, orang tua peserta didik, serta sejumlah tokoh pendidikan.
Salah satu undangan yang disebutkan oleh pihak penyelenggara adalah Dr. Lahmudin, Dekan Fakultas Hukum Universitas Samawa (UNSA).
Ustadz Slamet berharap kehadiran para kepala sekolah dan tenaga pendidik dapat mendorong pengembangan program tahfidz di sekolah-sekolah umum, sehingga kesempatan menghafal Al-Qur’an tidak hanya tersedia di lingkungan pesantren.
“Harapan kami, ke depan sekolah-sekolah umum di luar pesantren juga mempersiapkan anak-anaknya untuk ikut menghafal Al-Qur’an. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi tahun depan mereka bisa hadir bersama anak-anak yang telah berhasil menghafal Al-Qur’an,” ujarnya.
Menurutnya, semakin banyak sekolah yang memberikan perhatian terhadap program tahfidz, semakin luas pula kesempatan bagi anak-anak untuk mempelajari dan menghafal Al-Qur’an sejak dini.
Melihat antusiasme peserta, orang tua, dan tamu undangan, pihak Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat berharap kegiatan wisuda tahfidz pada tahun mendatang dapat diselenggarakan dengan skala yang lebih besar.
Slamet menyebutkan bahwa pihaknya mempertimbangkan penggunaan gedung yang lebih representatif, termasuk kemungkinan memanfaatkan fasilitas Universitas Samawa (UNSA), agar mampu menampung lebih banyak peserta dan undangan.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain untuk menghadirkan program serupa sekaligus memperkuat pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an.
Wisuda Tahfidz Angkatan VI Tahun 2026 di Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat Sumbawa menjadi pengingat bahwa pendidikan generasi muda tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga harus memperhatikan akhlak, nilai keagamaan, kedisiplinan, dan semangat kebangsaan.
Keberhasilan 15 peserta didik yang diwisuda menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan lembaga pendidikan. Di balik capaian hafalan tersebut, terdapat proses belajar, kesabaran, dukungan guru, dan pengorbanan orang tua yang tidak dapat dipisahkan.
Melalui tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, Pondok Pesantren Lembaga Deeniyat Sumbawa berharap semakin banyak generasi muda yang tumbuh mencintai Al-Qur’an, menghormati sejarah perjuangan bangsa, serta siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Lima belas wisudawan tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya semakin banyak generasi Qur’ani dari Kabupaten Sumbawa—generasi yang tidak hanya membanggakan orang tua, tetapi juga mampu membawa nilai-nilai kebaikan bagi agama, bangsa, dan negara.(Af)


































