Banda Aceh|Oposisi News 86 – Kesenjangan komunikasi, minimnya perhatian terhadap anggota di daerah, hingga terbatasnya akses peningkatan kompetensi menjadi catatan kritis yang mengemuka dalam silaturahmi calon Ketua PWI Aceh, Sayuti Achmad, bersama sejumlah wartawan di wilayah pantai barat selatan (Barsela), 20–21 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang untuk menyampaikan kegelisahan terhadap tata kelola organisasi. Sejumlah anggota berharap momentum pergantian kepemimpinan mampu mengakhiri kesan bahwa perhatian pengurus provinsi hanya menguat ketika konferensi mendekat dan dukungan mulai diperhitungkan.
“Habis manis sepah dibuang. Begitulah yang kami rasakan selama ini. Untuk sekadar menyapa saja jarang, apalagi merealisasikan janji. Menjelang konferensi, kami kembali dihubungi dengan tawaran harapan baru,” ungkap seorang anggota PWI.
Kekecewaan itu mencerminkan tuntutan agar hubungan organisasi tidak dibangun sebatas kepentingan kontestasi, melainkan dirawat melalui komunikasi yang konsisten dan kepedulian terhadap kebutuhan anggota.
Zulmas, mantan Ketua PWI Aceh Selatan, menyampaikan kegelisahan serupa. Ia menilai ikatan antara pengurus provinsi dan kabupaten/kota semestinya bertumpu pada solidaritas serta rasa memiliki, bukan sebatas hubungan struktural yang kehilangan kedekatan.
“PWI adalah rumah besar kita bersama. Jangan sampai organisasi ini terkotak-kotak, seolah ada jurang pemisah antara provinsi dan daerah. Kami berharap Pak Sayuti benar-benar menjadi pemimpin yang mampu merangkul seluruh anggota,” ujar Zulmas, Rabu (21/10/2026).
Bagi Zulmas, kepemimpinan yang ideal bukan hanya hadir melalui kebijakan, tetapi juga tercermin dari kesediaan mendengar dan menempatkan setiap anggota sebagai bagian penting dari organisasi.
Di sisi lain, Irfan Tarigan menyoroti belum meratanya kesempatan pengembangan profesional wartawan. Ia mengaku telah 11 tahun menyandang kompetensi jenjang Muda, tetapi belum memperoleh kesempatan mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) jenjang Madya melalui fasilitasi organisasi. Untuk melanjutkan peningkatan kapasitasnya, ia akhirnya mengikuti UKW Madya secara mandiri di Medan.
“Peningkatan sumber daya manusia harus menjadi prioritas. Saya berharap anggota memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk mengikuti UKW sesuai jenjangnya. Bagi saya, pendidikan dan peningkatan kompetensi merupakan hal penting yang harus terus diperjuangkan,” kata Irfan.
Aspirasi tersebut menempatkan pendidikan profesi sebagai salah satu pekerjaan rumah PWI Aceh. Akses terhadap pengembangan kemampuan dinilai perlu diperluas agar wartawan di daerah memiliki peluang yang setara untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme.
Dari Aceh Barat Daya, Safrizal menekankan pentingnya pembaruan gagasan dan terobosan organisasi. Menurut dia, keterbatasan jumlah anggota di suatu daerah tidak boleh menjadi alasan untuk mengesampingkan kebutuhan mereka.
“Saya berharap dan yakin Pak Sayuti Achmad mampu menghadirkan penyegaran, melahirkan inovasi, serta membawa PWI Aceh ke arah yang lebih baik,” tuturnya.
Sementara itu, pertemuan di Nagan Raya berlangsung dalam suasana hangat. Para anggota menyambut kehadiran Sayuti dengan harapan munculnya kepemimpinan yang lebih terbuka, responsif, dan mampu menjaga keutuhan organisasi.
Mereka menginginkan perubahan yang tidak berhenti pada janji selama masa pencalonan, tetapi diwujudkan melalui program kerja yang terukur dan perhatian berkelanjutan terhadap kebutuhan wartawan di daerah.
“Jika Pak Sayuti serius membawa perubahan, kami siap memberikan dukungan penuh. Namun, jangan sampai setelah terpilih, kami kembali dilupakan dan diperlakukan seperti anak tiri,” ungkap seorang anggota PWI Nagan Raya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Sayuti Achmad mengapresiasi keterbukaan para wartawan dalam menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Ia menyatakan komitmennya untuk mendorong inovasi yang memberikan manfaat bagi anggota sekaligus memperkuat kebersamaan di tubuh PWI Aceh.
“Alhamdulillah, saya sangat terkesan dengan berbagai masukan hari ini. Mari kita bekerja keras membangun kebersamaan dan memajukan PWI,” ajak Sayuti.
Rangkaian silaturahmi di Barsela menegaskan bahwa harapan terhadap kepemimpinan baru melampaui pergantian figur. Anggota menghendaki organisasi yang hadir tanpa sekat, membuka akses pengembangan profesi secara lebih merata, serta menjaga komunikasi jauh melampaui momentum konferensi.
Pada akhirnya, kepercayaan anggota tidak cukup dibangun melalui rangkaian kunjungan dan komitmen lisan. Ukurannya terletak pada konsistensi tindakan: sejauh mana kepemimpinan mampu merangkul seluruh anggota dan memastikan tidak ada wartawan daerah yang merasa berdiri di luar rumahnya sendiri. [SR]


































