Lhoksukon|Oposisi News 86 – Ribuan warga memenuhi Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Lhoksukon, Rabu malam (9/9/2026). Mereka larut dalam zikir dan tausiyah akbar yang digelar sebagai bagian dari peringatan 800 tahun Samudera Pasai dan Hari Jadi ke-800 Aceh Utara.
Mengusung tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat”, kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda utama Piasan Pase 2026, perhelatan yang berlangsung 7–13 September dengan memadukan sejarah, adat, budaya, keislaman serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Tgk. Habibi An-Nawawi, Lc., M.Dipl., yang tampil sebagai penceramah utama, mengingatkan bahwa delapan abad Samudera Pasai tidak semestinya dipandang sekadar sebagai catatan masa lampau.
Menurut dia, warisan Pasai justru terletak pada nilai yang pernah menopang kehidupan masyarakatnya: keimanan, ilmu, keadilan dan persatuan.

“Memperingati 800 tahun Samudera Pasai bukan sekadar merayakan masa lalu, tetapi kembali ke akar keislaman kita,” ujar Tgk Habibi.
Ia menilai adat dan syariat merupakan fondasi yang tidak semestinya dipertentangkan.
“Jangan sampai kita meninggalkan adat karena agama, dan jangan pula kita meninggalkan agama karena adat. Keduanya ibarat dua sayap satu burung,” katanya.
Dari Jejak Pasai ke Masa Depan
Dai asal Aceh yang sebelumnya meraih juara pertama Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar 2026 itu menyebut Samudera Pasai dahulu bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan, tetapi juga ruang tumbuhnya dakwah dan tradisi keilmuan Islam di Nusantara.
“Delapan abad berlalu. Banyak kerajaan datang dan pergi. Tapi Samudera Pasai tetap hidup dalam hati anak cucunya. Mengapa? Karena ia berdiri di atas keimanan dan keadilan,” ucapnya.
Bagi Tgk Habibi, kebanggaan terhadap sejarah akan kehilangan makna jika tidak melahirkan ikhtiar pada masa kini.
“Tugas kita hari ini bukan sekadar mengenang, tetapi membangun kembali kejayaan itu dengan ilmu, akhlak dan persatuan,” tuturnya.
Ia juga menempatkan keadilan sebagai salah satu prasyarat kemakmuran. Kemajuan Aceh Utara, kata dia, tidak cukup dilihat dari pembangunan infrastruktur, tetapi harus tercermin melalui kesejahteraan, pendidikan, akhlak dan perlakuan yang adil terhadap masyarakat.
“Aceh Utara bangkit itu bukan slogan. Itu doa. Itu ikhtiar. Dan ikhtiar itu tidak akan sempurna tanpa persatuan,” tegasnya.
Ia mengajak pemerintah, ulama, tokoh adat, generasi muda dan seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai energi bersama untuk menata masa depan daerah.
Piasan Pase dan Makna Delapan Abad
Piasan Pase 2026 tidak hanya diisi kegiatan seremonial. Sejumlah agenda digelar, antara lain expo pertanian dan mitigasi bencana, seni tradisional, drama sejarah Sultan Malik Al-Saleh, perlombaan keagamaan, kegiatan sosial, donor darah, penanaman pohon, kenduri rakyat dan pasar murah.
Dinas Syariat Islam Aceh Utara turut membagikan ratusan Al-Qur’an cetakan Madinah kepada pengunjung. Langkah tersebut dimaksudkan memperkuat dimensi keagamaan dalam peringatan delapan abad Pasai.
Kehadiran Tgk Habibi semula dijadwalkan pada Selasa malam (8/9), tetapi agenda bergeser sehari akibat kendala penerbangan.
Zikir dan tausiyah itu dihadiri Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, jajaran pemerintah daerah, ulama, tokoh adat serta masyarakat dari berbagai penjuru Aceh Utara.
Delapan abad setelah kejayaan Pasai, pesan yang disampaikan malam itu sederhana: sejarah bukan untuk sekadar dikenang, melainkan dijadikan cermin dalam menata hari depan. (SR)




































