Sumbawa Besar, oposisinews86.com, (15 April 2026),— Di tengah aktivitas panen jagung, kegelisahan muncul di kalangan petani di Sumbawa. Sorotan bukan lagi pada hasil panen, melainkan pada alat pengujian kadar air (tester) yang menjadi penentu harga di gudang.
Sejumlah petani menilai persoalan di lapangan bukan sekadar perbedaan hasil, melainkan adanya dugaan manipulasi pada alat tester yang digunakan. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada harga yang diterima petani.
“Masalahnya bukan kami tidak bisa melihat, tapi kami mempertanyakan apakah alat tester yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi barang,” ujar salah satu petani yang enggan disebutkan namanya kepada media ini, Rabu (15/4/2026).
Dalam praktiknya, hasil pengujian dari alat tester menjadi acuan utama dalam penentuan harga. Namun, petani menyebut adanya situasi di mana angka yang muncul dari alat tester menimbulkan keraguan karena tidak mencerminkan kondisi jagung yang dibawa.
*Dalam sejumlah kasus di lapangan, muncul indikasi bahwa alat tester yang digunakan tidak sepenuhnya netral, sehingga memunculkan dugaan adanya manipulasi dalam penggunaannya. Hal ini menjadi sorotan karena alat tester tersebut memegang peran krusial dalam menentukan nilai jual hasil panen.*
“Yang jadi pertanyaan, apakah alat testernya benar-benar apa adanya, atau sudah disesuaikan? Karena dampaknya langsung ke harga yang kami terima,” ungkap petani lainnya.
Tester memiliki peran penting dalam menentukan harga jagung. Ketika angka yang muncul menunjukkan kadar air lebih tinggi, harga yang diterima petani akan menurun. Dalam kondisi ini, keakuratan dan kejujuran penggunaan alat tester menjadi hal yang sangat menentukan.
Petani menilai bahwa persoalan utama bukan hanya pada angka yang muncul, tetapi pada kepercayaan terhadap alat tester itu sendiri. Ketika alat tester diragukan, maka seluruh proses penentuan harga ikut dipertanyakan.
“Kalau alat tester nya tidak bisa dipercaya, bagaimana kami bisa yakin dengan harga yang diberikan,” kata seorang petani.
Kondisi ini menunjukkan adanya potensi ketimpangan dalam proses penentuan harga di gudang. Di satu sisi, alat tester sepenuhnya berada dalam kendali gudang. Di sisi lain, petani tidak memiliki ruang untuk memastikan apakah alat tester tersebut digunakan secara objektif.
Petani berharap adanya pengawasan terhadap penggunaan alat tester di gudang agar tidak terjadi penyimpangan. Selain itu, transparansi dalam penggunaan alat tester dinilai penting untuk menjaga kepercayaan dalam transaksi.
“Yang kami minta sederhana, alat tester jangan dimanipulasi. Kalau alat tester nya jujur, kami juga bisa menerima hasilnya,” tegasnya.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap persoalan ini, diharapkan adanya perbaikan dalam penggunaan alat tester di lapangan sehingga lebih transparan, adil, dan tidak merugikan petani. (Af)









































