Lhokseumawe |Oposisi News 86 — Peredaran senjata api ilegal kembali terkuak. Polres Lhokseumawe menangkap dua orang dan memburu satu lainnya yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO). Temuan persenjataan yang disita memperlihatkan skala ancaman yang tidak bisa dipandang remeh.

Dari operasi ini, aparat mengamankan pistol FN beserta magazen dan lima peluru, sebilah pisau, telepon genggam, tas sandang, sepeda motor trail, serta senapan serbu AK-47 dengan 26 butir amunisi kaliber 7,62 mm.
Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan mengungkap, kasus ini bermula saat pengamanan kegiatan masyarakat pada 25 Desember 2025 di Simpang Kandang, Muara Dua. Gerak-gerik mencurigakan seorang pria berujung pada pemeriksaan yang membuka fakta adanya senjata api di dalam tas yang dibawanya.
Pengusutan tidak berhenti di situ. Keterangan pelaku mengarah pada sosok berinisial B yang diduga sebagai pemasok dan kini buron. Polisi juga mengendus rencana gangguan keamanan dalam kegiatan tersebut—indikasi bahwa senjata itu bukan sekadar disimpan, tetapi berpotensi digunakan.
Penelusuran berlanjut hingga Kuta Makmur, Aceh Utara. Di lokasi ini, petugas menemukan AK-47 yang disembunyikan secara sistematis—dikubur di belakang rumah untuk mengelabui aparat.
“Senjata laras panjang itu milik DPO. Kami terus mengejar dan mendalami jaringannya,” ujar Ahzan dalam konferensi pers, Rabu (8/4/2026).
Satu tersangka lain berinisial M turut diamankan bersama kendaraan yang digunakan dalam aktivitas tersebut. Keduanya kini mendekam di tahanan.
Para pelaku dijerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hingga 20 tahun penjara.
Kasus ini membuka kembali fakta lama: peredaran senjata ilegal masih menjadi pekerjaan rumah serius. Polres Lhokseumawe memastikan pengejaran berlanjut, dengan target membongkar jalur distribusi hingga ke akarnya. (SR)








































