BNNK Gayo Lues Dorong Pupuk Organik sebagai Alternatif Ekonomi di Desa Kute Bukit Bersinar

REDAKSI

- Redaksi

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:35 WIB

5063 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues|Oposisi News 86 – Upaya membangun alternatif ekonomi masyarakat di kawasan yang selama ini menjadi perhatian dalam program pencegahan penyalahgunaan narkotika kembali dilakukan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gayo Lues.

Kali ini, pemberdayaan diarahkan pada keterampilan pembuatan pupuk organik Bio Nuklir padat dan cair bagi masyarakat Desa Kute Bukit Bersinar, Kecamatan Blangpegayon, Kabupaten Gayo Lues.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, Senin hingga Rabu, 24–26 Agustus 2026, tersebut dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai di Bale Desa Kute Bukit Bersinar.

Sebanyak 20 pemuda dan pemudi desa mengikuti pelatihan yang diarahkan bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi diharapkan berkembang menjadi peluang usaha yang dapat memberikan manfaat ekonomi secara nyata.

Kepala BNNK Gayo Lues, Fauzul Iman, S.T., M.Si., bersama Katim DAYAMAS dan personel BNNK hadir dalam kegiatan tersebut. Turut hadir unsur Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Gayo Lues, Dinas Pertanian, Camat Blangpegayon, Brimob Gayo Lues, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Pj. Kepala Desa Kute Bukit Bersinar, BPK desa serta para peserta pelatihan.

Fauzul mengatakan Desa Kute Bukit Bersinar merupakan salah satu wilayah yang menjadi sasaran pemberdayaan alternatif dalam kerangka program GDAD. Menurut dia, pendekatan pemberdayaan ekonomi diperlukan agar masyarakat memiliki pilihan usaha yang legal dan produktif.

Dalam konteks Gayo Lues, upaya tersebut berkaitan erat dengan agenda mendorong peralihan dari tanaman terlarang menuju komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi, termasuk kopi. Karena itu, pemberdayaan masyarakat tidak cukup berhenti pada imbauan untuk menjauhi narkotika. Masyarakat juga membutuhkan alternatif penghasilan yang realistis.
Di titik inilah pelatihan pembuatan pupuk organik menjadi penting.

Pupuk yang diperkenalkan dalam pelatihan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk tanaman kopi maupun tanaman palawija lainnya. Selain untuk kebutuhan sendiri, produk itu juga diarahkan agar dapat dikembangkan sebagai produk unggulan desa apabila memenuhi aspek kualitas, keamanan, legalitas, dan kelayakan pasar.
Namun, di balik gagasan tersebut terdapat pekerjaan rumah yang tidak ringan.

Pelatihan selama tiga hari tidak otomatis menjadikan sebuah produk siap dipasarkan. Pengetahuan membuat pupuk harus diikuti pengujian mutu, konsistensi bahan baku, standar produksi, pengemasan, perizinan yang diperlukan, strategi pemasaran hingga pendampingan usaha.

Baca Juga :  Kepala BNNK Gayo Lues Kawal Monitoring Starbucks FSC, Program 165.755 Bibit Kopi Didorong Perkuat Ekonomi Kawasan Rawan Tanaman Terlarang

Tanpa itu, pelatihan berisiko berhenti sebagai kegiatan sesaat yang menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak menghasilkan pendapatan. Karena itu, tantangan terbesar justru muncul setelah kegiatan ditutup.

BNNK Gayo Lues mendorong peserta agar tidak berhenti pada pelatihan. Fauzul berharap keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan menjadi usaha penjualan pupuk Bio Nuklir padat dan cair dengan melibatkan BUMK Desa Kute Bukit, Koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar maupun Koperasi Merah Putih.

Skema tersebut, jika dikelola secara serius, berpotensi menciptakan rantai ekonomi lokal. Petani memperoleh akses terhadap produk yang dibutuhkan, peserta memiliki peluang usaha, desa mendapatkan potensi unit ekonomi baru, sementara ketergantungan masyarakat terhadap sumber penghasilan yang berisiko dapat ditekan. Tetapi pemerintah dan pihak pendamping juga harus berani memastikan bahwa gagasan tersebut tidak berhenti menjadi jargon pemberdayaan.

Masyarakat tidak membutuhkan terlalu banyak seremoni. Mereka membutuhkan pendampingan yang nyata: bagaimana menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, menjaga mutu, mendapatkan bahan baku, mengurus legalitas, mencari pasar dan memastikan produk benar-benar dapat diterima petani.

Kritik paling penting terhadap program pemberdayaan semacam ini bukan pada gagasannya, melainkan pada keberlanjutannya. Terlalu sering pelatihan masyarakat selesai bersamaan dengan selesainya kegiatan. Setelah foto bersama dan laporan administrasi dibuat, peserta dibiarkan berjalan sendiri.

Jika pola seperti itu terjadi, tujuan besar pemberdayaan akan kehilangan maknanya.
Karena itu, BNNK Gayo Lues, pemerintah desa, dinas teknis, koperasi dan lembaga terkait perlu membangun mekanisme tindak lanjut yang terukur. Peserta harus didorong membentuk kelompok usaha, mendapatkan pendampingan produksi, melakukan uji mutu produk dan menyusun model pemasaran yang jelas.

Pj. Kepala Desa Kute Bukit Bersinar, Rusli Paraga, dalam arahannya juga meminta peserta memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama pelatihan dan membagikannya kepada masyarakat lain yang belum berkesempatan mengikuti kegiatan.

Menurutnya, usaha pupuk organik dapat menjadi salah satu peluang ekonomi masyarakat. Harapannya, semakin banyak warga memiliki pekerjaan dan sumber pendapatan yang produktif sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam aktivitas ekonomi ilegal yang berkaitan dengan narkotika.

Pesan tersebut memiliki relevansi yang lebih luas. Pencegahan narkoba tidak cukup dilakukan dengan pendekatan penindakan. Masyarakat yang berada di wilayah rawan membutuhkan pilihan ekonomi yang masuk akal. Ketika seseorang memiliki keterampilan, pasar dan sumber pendapatan yang legal, ruang bagi ekonomi ilegal setidaknya dapat dipersempit.

Baca Juga :  Harimau Sumatera Muncul Berulang di Blangpegayon, Warga Cemas dan Pertanyakan Kesiapan Mitigasi Satwa Liar

Namun pemerintah tidak boleh menjual harapan tanpa membangun ekosistemnya.
Apabila pupuk yang dihasilkan diklaim memiliki kualitas tertentu atau setara dengan pupuk komersial, klaim tersebut semestinya dibuktikan melalui pengujian dan standar yang dapat dipertanggungjawabkan. Petani berhak mendapatkan informasi yang benar sebelum menggunakan suatu produk di lahan mereka.

Transparansi mutu justru menjadi bagian penting dari perlindungan masyarakat. Jangan sampai program pemberdayaan yang dimaksudkan untuk membantu petani malah membebani mereka dengan produk yang belum teruji secara memadai.

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan materi pembuatan pupuk organik padat dan cair yang disampaikan Rahmat Hidayat, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta memperoleh kesempatan memahami proses produksi sekaligus menyampaikan berbagai pertanyaan terkait penerapan keterampilan tersebut.

Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pemberantasan narkotika memiliki medan perjuangan yang jauh lebih luas daripada penangkapan dan penindakan. Ada persoalan ekonomi, keterampilan, lapangan pekerjaan dan keberlanjutan usaha yang harus disentuh secara bersamaan.

Desa Kute Bukit Bersinar kini memiliki kesempatan untuk membuktikan apakah program pemberdayaan tersebut mampu menghasilkan perubahan konkret.
Ukuran keberhasilannya bukan jumlah peserta yang hadir atau berapa kali pelatihan dilaksanakan.

Ukurannya sederhana: apakah setelah pelatihan masyarakat mampu memproduksi secara konsisten, apakah produk memiliki mutu yang dapat dipertanggungjawabkan, apakah ada pasar, dan apakah peserta memperoleh tambahan pendapatan.

Jika jawabannya ya, maka pelatihan itu memiliki arti. Jika tidak, kegiatan tersebut hanya akan menjadi catatan lain dalam tumpukan program pemberdayaan masyarakat yang selesai di atas kertas.

Karena itu, perhatian publik layak diarahkan bukan hanya pada pelaksanaan kegiatan 24–26 Agustus 2026, tetapi juga pada apa yang terjadi sesudahnya. BNNK Gayo Lues dan pemerintah terkait perlu memastikan program ini memiliki tindak lanjut yang jelas, terukur dan terbuka.

Masyarakat Desa Kute Bukit Bersinar tidak hanya membutuhkan ajakan untuk menjauhi narkotika. Mereka membutuhkan alasan ekonomi yang kuat untuk memilih kehidupan yang produktif. Dan alasan itu harus dibangun melalui pekerjaan nyata, bukan sekadar slogan. [Redaksi Oposisi News 86]

Berita Terkait

PK Bandar Baro Balik Narasi Musda Golkar: Ketua Baru Dipilih, Bukan Dijatuhkan
Ayah Wa: Maulid Nabi Bukan Sekadar Tradisi, tetapi Ruang Merawat Kebersamaan
Uroeh Rapa’i Pasee Tutup Semarak HUT ke-81 RI di Seunuddon, Warga Padati Lapangan hingga Dini Hari
Empat Tahun Satupena.co.id: Dari Perjalanan Menuju Kredibilitas
Tarmizi Panyang Serukan Elite Politik Bersatu Bangun Aceh Utara
Ngopi Bareng Kapolres dan Insan Pers, Perkuat Sinergi Polri-Media di Subulussalam
Distribusi Semen Padang di Krueng Geukueh Dipertanyakan, Konsumen Aceh Utara Menunggu Kejelasan Pasokan
Temu Ramah Kapolres Gayo Lues dan Insan Pers Perkuat Komunikasi Publik, Komitmen SIGAP Jadi Penekanan

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:32 WIB

Menjangkau Dusun Pusung, KKN Kelompok 15 Hadirkan Layanan Posyandu bagi Masyarakat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:58 WIB

‎Pastikan Tepat Sasaran, Babinsa Dampingi Penyaluran Bantuan Beras di Desa Sebewe

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:52 WIB

‎Babinsa Koramil 1607-12/Moyo Hilir Ajak Warga Bersama Jaga Keamanan Lingkungan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 23:05 WIB

Bongkar Dugaan Permainan Mutasi PPPK Di Sumbawa 

Jumat, 21 Agustus 2026 - 22:34 WIB

Senator Aceh Masuk Pimpinan DPD RI, Haji Uma Kembali di Kursi Strategis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:31 WIB

873 KK Terima Banpang, Babinsa Dampingi Kedatangan Beras Bulog

Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:33 WIB

Dari Karnaval untuk Al-Qur’an, Babinsa Padasuka Hadir Dukung MTQ Desa

Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:18 WIB

‎Dandim Beri Apresiasi, Makodim dan Persit Ranting Makodim Juara Lomba Voli ‎

Berita Terbaru