BNNK Gayo Lues Dorong Ekspor Kopi Arabika, Strategi Menekan Kultivasi Ganja Berbasis Ekonomi Petani

REDAKSI

- Redaksi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 21:13 WIB

50144 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues|Oposisi News 86 — Upaya menekan kultivasi tanaman terlarang dan peredaran gelap narkotika di Kabupaten Gayo Lues tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan penindakan. Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gayo Lues mencoba mendorong strategi lain melalui penguatan ekonomi masyarakat berbasis komoditas kopi Arabika Gayo Lues.

Langkah tersebut dibahas dalam rapat kerja antara BNNK Gayo Lues, PT Ujang Jaya International dan Koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar. Pertemuan itu membahas persiapan ekspor kopi ke pasar internasional sekaligus penguatan rantai usaha petani kopi yang menjadi binaan BNNK.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala BNNK Gayo Lues, Fauzul Iman S.T., M.Si., menempatkan pengembangan komoditas kopi sebagai bagian dari upaya menciptakan alternatif ekonomi bagi masyarakat, terutama di kawasan yang menjadi perhatian dalam program pencegahan kultivasi tanaman terlarang.

Gagasannya sederhana: semakin kuat nilai ekonomi kopi yang dihasilkan petani, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh sumber pendapatan yang legal dan berkelanjutan.

Namun, ambisi membawa kopi Gayo Lues ke pasar internasional tidak berhenti pada persoalan harga. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk kesiapan kelembagaan koperasi, kepastian lahan, pencatatan teknis, tenaga kerja serta proses verifikasi yang menjadi bagian dari standar C.A.F.E. Practices.

Persiapan itu menjadi penting karena proses audit pihak ketiga yang berkaitan dengan persyaratan Starbucks dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Artinya, waktu yang tersedia tidak panjang. Data petani, lahan, sistem pengendalian internal dan administrasi koperasi harus benar-benar siap sebelum proses verifikasi dilakukan.

Di titik inilah persoalan paling krusial berada. Sertifikasi bukan sekadar urusan dokumen yang disusun menjelang audit. Validitas data lahan dan petani harus dapat dibuktikan di lapangan. Sistem pengendalian internal atau ICS juga harus bekerja, bukan hanya tercantum dalam berkas. Jika data tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, risiko kegagalan dalam proses verifikasi dapat muncul dan pada akhirnya merugikan petani.

Agronomi PT Ujang Jaya International, Purba, menegaskan pentingnya evaluasi kembali terhadap lahan petani yang telah masuk dalam data. Tim ICS Koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar diminta memastikan kesesuaian antara data dengan kondisi kebun. Langkah tersebut diperlukan untuk menghindari temuan yang dapat berujung pada penerapan zero tolerance dalam proses audit.

Peringatan itu patut menjadi perhatian serius. Jangan sampai proses sertifikasi berubah menjadi pekerjaan administratif semata. Jika data petani tidak akurat, luas lahan tidak sesuai, atau sistem pengawasan internal tidak berjalan sebagaimana mestinya, yang berada di ujung risiko bukan hanya koperasi, tetapi juga petani yang menggantungkan pendapatan pada kopi.

Direktur PT Ujang Jaya International, Iradhah Hasnan, mengatakan ekspor kopi ke pasar internasional akan mengikuti kontrak harga yang mengacu pada pasar internasional. Kopi yang dikirim harus memiliki kualitas yang telah diverifikasi melalui proses audit yang dipersyaratkan.

Baca Juga :  MBG Cot Rheu, Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi

Perusahaan juga menyampaikan rencana pengurusan permohonan resi gudang melalui rekomendasi pihak-pihak terkait. Skema tersebut menunjukkan bahwa rantai perdagangan kopi yang sedang dibangun tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyentuh aspek penyimpanan, pembiayaan dan kepastian perdagangan.

Di sisi lain, Ketua Koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar, Said Juandi, menyebut koperasi telah berjalan sekitar dua tahun. Ia mengakui penguatan modal masih menjadi kebutuhan penting agar koperasi mampu membeli kopi dari petani. Evaluasi terhadap struktur anggota dan peningkatan kualitas sumber daya manusia koperasi juga akan dilakukan.

Kebutuhan modal tersebut menjadi salah satu titik yang tidak boleh diabaikan. Ekspor dengan harga lebih baik tidak akan berarti banyak apabila koperasi tidak mempunyai kemampuan finansial untuk menyerap hasil panen petani. Tanpa modal kerja yang memadai, petani tetap berada pada posisi lemah ketika harus menjual hasil produksi.

Karena itu, keberhasilan program ini seharusnya tidak diukur hanya dari berapa ton kopi yang berhasil dikirim ke luar negeri. Ukuran yang lebih penting adalah apakah petani memperoleh harga yang lebih baik, apakah pendapatan mereka meningkat, apakah koperasi benar-benar menjadi lembaga ekonomi milik anggota, dan apakah kawasan yang menjadi sasaran program benar-benar memiliki alternatif ekonomi yang kuat.

Pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat juga perlu memastikan transparansi dalam setiap tahapan. Data petani, asal kopi, volume produksi, mekanisme pembelian, standar kualitas, biaya sertifikasi hingga pola pembagian manfaat harus dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai label ekspor dan sertifikasi justru menciptakan rantai baru yang panjang, sementara nilai tambah terbesar berhenti di tingkat perdagangan.

Kopi Gayo Lues mempunyai potensi ekonomi yang besar. Tetapi potensi tidak otomatis menjadi kesejahteraan. Petani membutuhkan kepastian pasar, harga yang layak, akses modal, pendampingan teknis dan kelembagaan yang sehat. Jika hal-hal tersebut tidak dibangun secara bersamaan, jargon peningkatan ekonomi masyarakat hanya akan berhenti sebagai agenda rapat.

Setelah rapat kerja, kegiatan dilanjutkan dengan monitoring ke pabrik industri pengolahan kopi Arabika di Desa Sepang dan Desa Porang. Tim juga melakukan pemantauan ke kebun kopi GDAD di Kecamatan Pantan Cuaca dan sekitarnya, serta Kecamatan Blangkejeren, termasuk Desa Agusan dan sejumlah titik kebun kopi binaan BNNK Gayo Lues.

Monitoring lapangan tersebut menjadi penting karena keberhasilan program tidak bisa hanya dibaca dari laporan di atas meja. Kondisi kebun, produktivitas tanaman, keberadaan petani, pengelolaan hasil panen dan proses pengolahan harus dilihat secara langsung.

Baca Juga :  Mentri Wihaji Tinjau Posyandu dan Rumah Gizi di Batu Mbulan, Pastikan Upaya Pencegahan Stunting Berjalan Efektif

Dari perspektif pencegahan narkotika, pendekatan ekonomi semacam ini layak diperkuat. Masyarakat membutuhkan pilihan usaha yang memberikan pendapatan nyata. Kopi, sebagai komoditas yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi Gayo Lues, memiliki modal sosial dan pasar yang jauh lebih jelas dibandingkan membiarkan masyarakat mencari penghasilan dari aktivitas yang berisiko dan melanggar hukum.

Tetapi keberlanjutan program harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai kegiatan berjalan intensif ketika audit akan berlangsung, kemudian melemah setelah proses sertifikasi selesai. Pendampingan petani, pembenahan koperasi, peningkatan kualitas kopi dan penguatan pasar harus dilakukan secara konsisten.

Pihak-pihak yang terlibat juga perlu terbuka mengenai target yang ingin dicapai. Berapa jumlah petani yang akan dibina? Berapa luas lahan yang diverifikasi? Berapa kapasitas kopi yang mampu diserap koperasi? Berapa harga yang akan diterima petani? Dan sejauh mana program tersebut mampu memberikan dampak ekonomi di kawasan yang menjadi sasaran pencegahan?.

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menghambat program. Justru sebaliknya, transparansi diperlukan agar program yang membawa nama kepentingan masyarakat tidak berhenti sebagai seremonial kelembagaan.

Bila seluruh tahapan benar-benar dijalankan, ekspor kopi Arabika Gayo Lues dapat menjadi lebih dari sekadar transaksi perdagangan. Ia bisa menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi petani, meningkatkan nilai tambah daerah sekaligus memperluas pilihan mata pencaharian masyarakat.

Namun jika ingin berhasil, semua pihak harus meninggalkan pola kerja yang hanya mengejar pencapaian administratif. Audit harus dipandang sebagai ujian terhadap tata kelola yang sebenarnya. Koperasi harus kuat bukan hanya ketika diperiksa auditor. Data petani harus benar bukan hanya ketika dibutuhkan untuk sertifikasi. Dan petani harus menjadi penerima manfaat utama, bukan sekadar nama yang tercantum dalam daftar.

Bagi masyarakat Gayo Lues, keberhasilan program ini pada akhirnya akan terlihat dari hal yang paling sederhana: apakah kopi mereka benar-benar mampu memberikan kehidupan yang lebih baik.

Jika jawabannya iya, maka strategi mengembangkan kopi sebagai alternatif ekonomi sekaligus bagian dari upaya pencegahan kultivasi tanaman terlarang mempunyai alasan kuat untuk terus diperluas.

Tetapi jika nilai ekspor hanya besar di atas kertas sementara petani tetap kesulitan modal dan memperoleh bagian yang kecil dari rantai perdagangan, maka evaluasi menyeluruh tidak bisa ditunda.

Karena itu, persiapan menghadapi audit Oktober 2026 seharusnya menjadi momentum pembenahan, bukan sekadar mengejar kelulusan verifikasi. Yang dipertaruhkan bukan hanya sertifikat atau kontrak ekspor, melainkan masa depan ekonomi petani dan efektivitas upaya menciptakan sumber penghidupan yang lebih aman dan berkelanjutan bagi masyarakat Gayo Lues. [Mustafa Porang]

Berita Terkait

SPPG Keutapang Disorot: Limbah Masuk Parit, SLHS Belum Terbit
Semangat HUT RI ke-81 Menggema di Desa Porang, Warga Hidupkan Gotong Royong Lewat Perlombaan Rakyat
Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Pancasila Berlangsung Khidmat
HUT ke-81 RI di Aceh Tenggara: Merah Putih Berkibar, Semangat Kemerdekaan Diuji Lewat Kerja Nyata
Kejurprov IMI Aceh di Aceh Tenggara Disorot: Tiket Dipersoalkan, Informasi Publik Dinilai Minim
Piala Presiden Direktur PAG, 13 Desa Adu Kekuatan di Lapangan Voli
Lillahi Ta’alla
Muhammadiyah Gayo Lues Bergerak, 96 Paket Sembako dan Rp10 Juta Disalurkan untuk Korban Kebakaran Jagong Jeget

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:42 WIB

SPPG Keutapang Disorot: Limbah Masuk Parit, SLHS Belum Terbit

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:54 WIB

Semangat HUT RI ke-81 Menggema di Desa Porang, Warga Hidupkan Gotong Royong Lewat Perlombaan Rakyat

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:26 WIB

HUT ke-81 RI di Aceh Tenggara: Merah Putih Berkibar, Semangat Kemerdekaan Diuji Lewat Kerja Nyata

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:36 WIB

Kejurprov IMI Aceh di Aceh Tenggara Disorot: Tiket Dipersoalkan, Informasi Publik Dinilai Minim

Minggu, 16 Agustus 2026 - 22:10 WIB

Piala Presiden Direktur PAG, 13 Desa Adu Kekuatan di Lapangan Voli

Minggu, 16 Agustus 2026 - 22:03 WIB

Lillahi Ta’alla

Minggu, 16 Agustus 2026 - 08:56 WIB

Muhammadiyah Gayo Lues Bergerak, 96 Paket Sembako dan Rp10 Juta Disalurkan untuk Korban Kebakaran Jagong Jeget

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 18:18 WIB

25 Pelajar Dikukuhkan Jadi Paskibraka Gayo Lues, Amanah Merah Putih Menanti

Berita Terbaru