Gayo Lues|Oposisi News 86 — Sebanyak 25 pelajar yang terpilih sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Gayo Lues dikukuhkan oleh Bupati Gayo Lues Suhaidi pada Jumat malam, 14 Agustus 2026. Pengukuhan itu berlangsung di Blangkejeren, dua hari menjelang upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pengukuhan tersebut bukan sekadar seremoni menjelang perayaan kemerdekaan. Di balik barisan seragam dan prosesi yang berlangsung khidmat, terdapat tanggung jawab besar yang kini melekat pada 25 pelajar tersebut. Mereka dipercaya menjadi bagian penting dalam upacara pengibaran bendera Merah Putih tingkat Kabupaten Gayo Lues pada 17 Agustus 2026.
Para anggota Paskibraka merupakan pelajar yang sebelumnya mengikuti rangkaian seleksi, pelatihan dan pembinaan. Proses itu menjadi tahapan penting sebelum mereka diberikan kepercayaan menjalankan tugas pada momentum kenegaraan yang hanya berlangsung sekali dalam setahun.
Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, orang tua anggota Paskibraka, pelatih, pembina serta pejabat daerah hadir dalam pengukuhan. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa tugas Paskibraka tidak hanya dipandang sebagai urusan teknis upacara, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
Bupati Gayo Lues Suhaidi menyampaikan apresiasi kepada para pelajar yang terpilih. Menurut dia, menjadi anggota Paskibraka merupakan kehormatan sekaligus amanah yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh.

“Terpilih menjadi anggota Paskibraka merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan. Tidak semua pelajar mendapatkan kesempatan ini,” kata Suhaidi.
Ia menekankan bahwa para pelajar yang terpilih harus mampu menjaga kedisiplinan, tanggung jawab, sikap serta semangat belajar. Pengalaman menjadi anggota Paskibraka, kata dia, seharusnya tidak berhenti setelah upacara selesai.
Pesan tersebut penting. Sebab, kemerdekaan tidak cukup diperingati dengan seremoni, barisan pasukan, pengibaran bendera dan pidato pejabat. Nilai kemerdekaan justru diuji setelah acara selesai: apakah generasi muda memiliki disiplin, keberanian, integritas dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Di titik inilah pengukuhan Paskibraka semestinya tidak berhenti menjadi agenda tahunan pemerintah daerah.
Pembinaan terhadap pelajar harus memiliki kesinambungan. Jangan sampai pendidikan karakter hanya ramai ketika mendekati 17 Agustus, kemudian menghilang setelah bendera diturunkan.
Pemerintah daerah memiliki pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar memastikan upacara berjalan rapi.
Para pelajar yang telah ditempa melalui proses seleksi dan pelatihan perlu terus mendapatkan ruang untuk berkembang, baik melalui pendidikan, kegiatan kepemudaan maupun aktivitas sosial yang membangun.
Bagi 25 anggota Paskibraka, tugas terdekat sudah jelas. Mereka harus menjalankan pengibaran bendera Merah Putih pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026.

Latihan yang telah dijalani menjadi modal untuk melaksanakan tugas dengan disiplin dan penuh tanggung jawab.
Namun masyarakat juga layak memberikan perhatian pada sisi lain dari momentum tersebut. Ketika pemerintah menyebut para anggota Paskibraka sebagai putra-putri terbaik daerah, predikat itu harus dibuktikan bukan hanya di lapangan upacara, melainkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedisiplinan harus terlihat dalam perilaku. Tanggung jawab harus tercermin dalam tindakan. Semangat kebangsaan harus hadir dalam kepedulian terhadap sesama. Jika tidak, Paskibraka berisiko hanya menjadi simbol seremonial yang selesai bersamaan dengan berakhirnya upacara.
Karena itu, pengukuhan 25 pelajar tersebut semestinya menjadi awal, bukan akhir. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues perlu memastikan pembinaan generasi muda dilakukan secara konsisten dan tidak bersifat musiman. Masyarakat pun memiliki peran untuk mengawasi agar semangat yang dibangun melalui momentum kemerdekaan benar-benar memberi dampak.
Kemerdekaan ke-81 bukan hanya tentang mengingat perjuangan masa lalu. Bagi daerah seperti Gayo Lues, kemerdekaan juga berarti memastikan anak-anak muda memperoleh kesempatan untuk belajar, berkembang dan mengambil peran dalam pembangunan.

Pada 17 Agustus nanti, 25 pelajar itu akan berdiri membawa simbol negara di hadapan masyarakat Gayo Lues. Tugas mereka sederhana dalam bentuk, tetapi besar dalam makna: memastikan Merah Putih berkibar dengan sempurna.
Setelah itu, tantangan yang lebih besar menanti. Bukan lagi soal langkah kaki yang seragam, melainkan bagaimana mereka membawa disiplin dan semangat kebangsaan itu ke sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat. Di sanalah makna sesungguhnya dari Paskibraka akan diuji. [Red]




































