Aceh Tenggara|Oposisi News 86.com — Suara hentakan kaki para pemain Dabus yang dahulu bergema di berbagai kampung kini nyaris lenyap. Kesenian tradisional masyarakat Gayo yang pernah menjadi simbol persatuan, dakwah, dan kebanggaan budaya itu perlahan menghilang dari ruang publik. Jika tidak segera diwariskan kepada generasi muda, Dabus berpotensi tinggal menjadi cerita para tetua tanpa lagi memiliki panggung di tanah yang pernah membesarkannya.
Bagi masyarakat Gayo, Dabus bukan sekadar pertunjukan seni. Kesenian ini lahir dari perjalanan panjang peradaban masyarakat yang memadukan nilai adat, semangat kebersamaan, dan syiar Islam dalam satu pertunjukan yang sarat makna.
Setiap gerakan, irama, dan atraksi yang ditampilkan mengandung filosofi tentang keberanian, disiplin, persaudaraan, serta penghormatan kepada para leluhur yang telah menjaga tradisi tersebut secara turun-temurun.
Pada masa lalu, Dabus berkembang tidak hanya di Kabupaten Gayo Lues, tetapi juga hidup di tengah masyarakat Gayo yang telah lama menetap di Kabupaten Aceh Tenggara. Dalam berbagai acara adat, pesta kampung, peringatan hari besar Islam, hingga kegiatan sosial masyarakat, kelompok Dabus kerap diundang untuk tampil.
Tidak sedikit warga Gayo yang bermukim di Aceh Tenggara menjadi bagian dari kelompok pemain Dabus, sehingga kesenian ini menjadi perekat hubungan sosial lintas wilayah.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa batas administrasi kabupaten tidak pernah menjadi penghalang bagi berkembangnya kebudayaan. Dabus menjadi bahasa budaya yang mampu menyatukan masyarakat melalui nilai gotong royong, kekeluargaan, dan rasa saling memiliki terhadap warisan leluhur.
Namun, perubahan zaman membawa tantangan baru. Dalam dua dekade terakhir, ruang bagi kesenian tradisional semakin menyempit. Berbagai bentuk hiburan modern lebih mudah diakses melalui media digital, sementara pertunjukan budaya tradisional semakin jarang digelar. Akibatnya, minat generasi muda untuk mempelajari Dabus ikut menurun.
Sejumlah tokoh masyarakat dan pegiat budaya yang selama ini berupaya mempertahankan tradisi mengakui bahwa regenerasi menjadi persoalan paling mendesak.
Banyak pemain senior telah memasuki usia lanjut, sedangkan jumlah anak muda yang bersedia berlatih secara rutin terus berkurang. Kondisi itu membuat beberapa kelompok Dabus tidak lagi aktif karena kekurangan personel.
Selain persoalan regenerasi, pelestarian Dabus juga menghadapi tantangan berupa terbatasnya pembinaan, minimnya ruang pertunjukan, serta belum optimalnya dokumentasi sejarah kesenian tersebut. Padahal, dokumentasi menjadi bagian penting untuk menjaga pengetahuan budaya agar tidak hilang bersama berkurangnya jumlah pelaku seni.
Budayawan menilai, Dabus memiliki nilai sejarah yang layak dijaga karena merepresentasikan identitas masyarakat Gayo. Kehadirannya bukan hanya sebagai tontonan, melainkan juga media pendidikan karakter yang mengajarkan keberanian, kebersamaan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat.
Di sisi lain, perkembangan sektor pariwisata budaya seharusnya dapat menjadi peluang bagi kebangkitan Dabus. Pertunjukan yang dikemas secara baik tidak hanya mampu menarik perhatian wisatawan, tetapi juga membuka ruang ekonomi kreatif bagi para pelaku seni dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pelestarian Dabus memerlukan langkah nyata, bukan sekadar seremonial. Pemerintah daerah dapat memperkuat pembinaan sanggar seni, memasukkan materi budaya lokal dalam kegiatan pendidikan, memberikan ruang tampil pada setiap agenda kebudayaan, serta mendukung pendokumentasian sejarah dan teknik pertunjukan Dabus. Kolaborasi bersama tokoh adat, akademisi, komunitas budaya, dan generasi muda menjadi fondasi penting agar proses pewarisan berlangsung secara berkelanjutan.
Di tengah arus globalisasi yang terus bergerak cepat, mempertahankan Dabus sesungguhnya adalah menjaga jati diri masyarakat Gayo. Sebab, sebuah daerah tidak hanya dikenang karena pembangunan fisiknya, tetapi juga karena kemampuannya merawat warisan budaya yang menjadi identitas kolektif masyarakatnya.
Dabus telah membuktikan bahwa seni mampu menjadi jembatan persaudaraan antara masyarakat Gayo Lues dan Aceh Tenggara selama bertahun-tahun. Kini, masa depan kesenian itu berada di tangan generasi penerus dan seluruh pemangku kepentingan.
Apakah Dabus akan kembali hidup sebagai kebanggaan budaya Gayo, atau justru menghilang ditelan zaman, sangat bergantung pada langkah pelestarian yang dilakukan hari ini. Ketika sebuah warisan budaya hilang, yang lenyap bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan juga sebagian dari sejarah, identitas, dan ingatan kolektif sebuah bangsa. [Dedi Aryanto]




































