Gayo Lues| Oposisi News 86.com — Perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di lingkungan Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Gayo Lues tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau gotong royong membersihkan halaman.

Di balik cangkul, sabit, dan bibit yang ditanam bersama, tersimpan pesan yang lebih besar: setiap jengkal lahan milik pemerintah harus memberi manfaat bagi daerah.
Pesan itu diwujudkan melalui penanaman sekitar 100 batang bibit kopi Arabika di halaman kantor Diskominfo, Jumat (7/8/2026). Penanaman dilakukan bersamaan dengan kegiatan gotong royong yang diikuti Kepala Diskominfo Nopal SP, Sekretaris Diskominfo Nasir SE, para kepala bidang, serta seluruh pegawai.
Sejak pagi, para aparatur membersihkan lingkungan kantor, memangkas rumput, menata tanaman, mengangkut sampah, hingga mempersiapkan lahan yang kemudian ditanami bibit kopi.

Suasana kebersamaan terlihat kental, mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi salah satu nilai penting dalam menyambut peringatan kemerdekaan.
Namun kegiatan itu bukan sekadar mempercantik halaman kantor.
Penanaman kopi merupakan tindak lanjut atas instruksi Bupati Gayo Lues kepada seluruh Kepala Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) agar memanfaatkan lahan pekarangan yang masih kosong menjadi lahan produktif.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari Program Geretek, salah satu program prioritas yang masuk dalam visi dan misi Bupati Gayo Lues untuk memperkuat pengembangan komoditas kopi sebagai potensi unggulan daerah.

Melalui kebijakan itu, setiap instansi pemerintah didorong tidak hanya menjaga aset yang dimiliki, tetapi juga mengoptimalkannya agar memberikan manfaat ekonomi, lingkungan, maupun edukasi. Lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan diharapkan berubah menjadi kawasan hijau produktif yang mampu mendukung pembangunan daerah.
Kepala Diskominfo Kabupaten Gayo Lues, Nopal SP, mengatakan gotong royong merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap lingkungan kerja sekaligus upaya menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas pemerintah.
Menurutnya, kantor yang bersih, tertata, dan hijau akan menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman serta berdampak positif terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Ia menjelaskan, penanaman kopi Arabika dipilih karena sesuai dengan karakteristik wilayah Gayo Lues yang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi berkualitas di Aceh.
Selain mendukung penghijauan, tanaman tersebut juga diharapkan memberikan manfaat nyata ketika mulai berproduksi.
“Agar nantinya tanaman kopi Arabika yang ditanam di sekitar kantor dapat dimanfaatkan oleh para staf.

Paling tidak ketika sudah berproduksi, hasilnya bisa memenuhi kebutuhan bubuk kopi untuk konsumsi di kantor,” kata Nopal.
Pemanfaatan pekarangan kantor sebagai kebun kopi juga diharapkan menjadi contoh bahwa gerakan penghijauan tidak selalu identik dengan tanaman hias.
Tanaman produktif dapat menjadi pilihan yang memberi nilai tambah sekaligus mendukung program pembangunan daerah apabila dikelola secara berkelanjutan.
Bagi Kabupaten Gayo Lues yang menjadikan kopi sebagai salah satu komoditas strategis, keterlibatan seluruh SKPK dalam gerakan ini memiliki arti penting.
Selain memperkuat dukungan terhadap Program Geretek, langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sektor perkebunan tidak hanya menjadi tanggung jawab petani, tetapi juga memerlukan partisipasi seluruh elemen pemerintah.

Di tengah peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Diskominfo Gayo Lues memilih memaknai kemerdekaan melalui aksi sederhana yang berdampak panjang.
Dari halaman kantor yang dibersihkan bersama hingga ratusan bibit kopi yang mulai tumbuh, tersimpan harapan agar budaya gotong royong tetap hidup, lingkungan semakin hijau, dan setiap kebijakan pembangunan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Gayo Lues. [Mustafa Porang]




































