Aceh Tamiang — Di Sekolah Dasar Swasta Alwasiliyah Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Program Indonesia Pintar (PIP) tak sekadar tersendat. Ia seolah dilucuti dari maknanya. Sejak 2020, buku tabungan beasiswa siswa diduga dikumpulkan dan disimpan pihak sekolah. Masalahnya, buku-buku itu tak pernah kembali—bahkan setelah siswa lulus dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Akibatnya fatal. Sejumlah alumni SD Alwasiliyah kehilangan hak atas lanjutan beasiswa. Saat memasuki SMP hingga SMA, mereka gagal terdata dalam sistem Dapodik karena tak mampu menunjukkan buku tabungan PIP. Buku itu masih berada di sekolah dasar yang sudah mereka tinggalkan bertahun-tahun lalu.
Seorang wali murid mengaku anaknya hanya sekali menerima dana PIP senilai Rp 650 ribu. “Saat uang diserahkan, wali kelas—yang kini menjabat kepala sekolah—meminta buku tabungan disimpan di sekolah. Alasannya sepele: takut hilang,” katanya. Janji pengembalian itu, menurutnya, tak pernah ditepati. “Anak saya sudah SMA. Bukunya belum juga kembali.”
Keluhan serupa datang dari wali murid lain. Polanya sama: buku tabungan dikumpulkan, disimpan, lalu lenyap dari genggaman pemilik sahnya—para siswa penerima bantuan negara.
Ketika dikonfirmasi via WhatsApp pada 31 Desember 2025, Kepala SD Swasta Alwasiliyah Seumadam, Masittah, S.Pd, dengan tegas membantah. Ia menyatakan pihak sekolah tidak pernah menyimpan buku tabungan PIP dan seluruhnya telah dikembalikan kepada wali murid bersamaan dengan penyerahan dana.
Pernyataan itu runtuh hanya dalam hitungan hari.
Pada Senin, 12 Januari 2026, media mendatangi sekolah untuk konfirmasi langsung. Di ruang kepala sekolah, dua wali murid datang bersamaan—bukan untuk klarifikasi, melainkan untuk mengambil buku tabungan PIP yang masih ditahan pihak sekolah. Fakta di depan mata itu memaksa Masittah mengakui bahwa buku tabungan memang disimpan sekolah dan baru dikembalikan hari itu juga.
Keanehan belum berakhir. Salah satu buku tabungan yang dikembalikan kosong—tanpa satu pun catatan transaksi. Padahal, siswa disebut menerima dana beasiswa.
Beberapa jam kemudian, Masittah menghubungi media dengan versi berbeda. Ia berdalih pengelolaan buku tabungan PIP terjadi sebelum dirinya menjabat kepala sekolah. “Waktu itu kepala sekolahnya Pak Idris. Saya hanya guru kelas,” ujarnya.
Satu jam berselang, klarifikasi kembali berubah. Masittah menyebut salah satu alumni yang mengaku bukunya tertahan sebenarnya tidak terdaftar sebagai penerima PIP—klaim yang bertentangan dengan kesaksian wali murid dan fakta lapangan.
Media kemudian mengonfirmasi Idris, mantan Kepala SD Swasta Alwasiliyah Seumadam. Idris menyatakan sejak 2022 dirinya telah dipindahkan. Ia menyebut penggantinya saat itu adalah Sriani. Namun Idris mengakui praktik yang selama ini disangkal pihak sekolah.
“Dari saya masih guru sampai jadi kepala sekolah, memang buku tabungan siswa disimpan di sekolah. Itu sudah lama,” katanya singkat.
Pernyataan itu membuka lubang yang lebih dalam. Jika buku tabungan disimpan di sekolah, mengapa ada rekening yang justru kosong tanpa catatan transaksi? Pertanyaan krusial pun muncul: dana PIP yang diterima siswa itu uang siapa dan disalurkan melalui mekanisme apa?
Bagaimana mungkin siswa menerima dana beasiswa, sementara rekening resmi atas nama mereka nihil aktivitas?
Apakah dana disalurkan di luar rekening penerima?
Apakah terjadi pengalihan bank penyalur dari Bank BSI ke Bank Aceh atau BRI tanpa sepengetahuan wali murid?
Hingga kini, tak satu pun pertanyaan itu dijawab tuntas.
Para wali murid menilai persoalan ini bukan lagi soal administrasi, melainkan dugaan penyimpangan serius atas dana bantuan pendidikan negara. Mereka mendesak Dinas Pendidikan Aceh Tamiang, Polres Aceh Tamiang, dan Kejaksaan Negeri Aceh Tamiang segera turun tangan.
“Ini bukan salah anak-anak kami. Negara menjanjikan bantuan, tapi sekolah justru menjadi penghalang,” ujar seorang wali murid.
Di SD Alwasiliyah Seumadam, buku tabungan mungkin telah dikembalikan sebagian. Namun jejak uang negara dan tanggung jawab siapa yang mengelolanya, masih gelap. (SR)









































