Jakarta| Oposisi News 86 — Kabar kepergian Zulmansyah Sekedang pada Sabtu dini hari menghadirkan duka yang begitu dalam, tidak hanya bagi keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia, tetapi juga bagi dunia pers nasional yang kehilangan salah satu sosok pengabdi terbaiknya.
Pada pukul 00.10 WIB, di ruang perawatan Rumah Sakit Budi Kemuliaan, napas terakhirnya terhenti setelah berjuang melawan serangan jantung yang datang tiba-tiba, meninggalkan jejak pengabdian panjang yang kini hanya dapat dikenang dengan penuh haru.
Beberapa jam sebelum kepergiannya, almarhum masih terlihat menjalankan aktivitas organisasi seperti biasa.
Ia menghadiri Deklarasi Peluncuran Serikat Wartawan Senior Indonesia di Kampus LSPR, sebuah kegiatan yang mencerminkan komitmennya yang tidak pernah surut terhadap dunia jurnalistik. Tidak ada tanda-tanda bahwa malam itu akan menjadi perpisahan terakhir.
Setelah acara, kebersamaan dengan rekan-rekan pengurus dalam suasana sederhana di kawasan Jalan Jaksa menjadi momen yang kini terasa begitu berarti, seolah menjadi penutup dari perjalanan panjang pengabdiannya.
Namun takdir berkata lain. Sekitar pukul 21.00 WIB, kondisi fisiknya mendadak menurun. Keluhan sesak dada hebat, tubuh yang melemah, hingga muntah yang tak tertahankan menjadi awal dari situasi genting yang tak mampu dibendung.
Dalam kepanikan dan harap, ia segera dilarikan ke rumah sakit. Diagnosis dokter memastikan bahwa serangan jantung yang dialaminya berkaitan dengan riwayat penyakit yang telah lama ia derita.
Upaya medis terus dilakukan, bahkan sempat direncanakan rujukan ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, namun takdir lebih dahulu menjemput sebelum segala ikhtiar dapat membuahkan hasil.
Kepergian ini terasa begitu berat karena sosok Zulmansyah Sekedang bukan sekadar pejabat organisasi, melainkan figur yang hidup dalam denyut perjuangan pers Indonesia.
Ia dikenal sebagai pribadi yang hangat, mudah tersenyum, dan selalu membuka ruang dialog di tengah perbedaan. Dalam berbagai dinamika organisasi yang tidak selalu mudah, ia hadir sebagai penenang, sebagai penghubung, sebagai pemersatu. Dedikasinya tidak pernah setengah hati, bahkan hingga detik-detik terakhir kehidupannya.
Perjalanan panjangnya di tubuh PWI menjadi saksi betapa besar cintanya terhadap organisasi. Dari memimpin PWI Provinsi Riau selama dua periode hingga mengemban berbagai posisi strategis di tingkat pusat, setiap langkahnya selalu diwarnai dengan semangat membangun dan menjaga marwah pers.
Ia menjadi bagian penting dalam proses penyatuan organisasi yang sempat terbelah, menjembatani perbedaan, dan mengembalikan keutuhan yang selama ini diperjuangkan banyak pihak.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menyampaikan kesedihan yang mendalam atas kehilangan ini. Baginya, almarhum bukan hanya rekan kerja, tetapi sahabat seperjuangan yang selalu hadir dengan ketulusan dan kesungguhan.
Kepergian ini meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah terisi, sebuah kehilangan yang tidak hanya bersifat personal tetapi juga kelembagaan.
Kini, yang tersisa adalah kenangan dan teladan. Sosok yang selama ini hadir dengan semangat, kini telah berpulang, meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus hidup dalam ingatan kolektif insan pers Indonesia.
Doa pun mengalir, bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terakhir, tetapi juga sebagai pengantar bagi perjalanan panjangnya menuju keabadian.
Dalam sunyi yang menyelimuti kepergian ini, satu hal yang pasti: jasa dan dedikasinya akan tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan pers nasional, dan namanya akan selalu dikenang sebagai sosok yang mengabdikan hidupnya tanpa lelah hingga akhir hayat. []









































