Sumbawa Besar|NTB, OposisiNews86,(Kamis 2 April 2026),— Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kabupaten Sumbawa diduga mengalami kelebihan kapasitas (overload) seiring meningkatnya volume sampah harian. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mulai menyiapkan berbagai inovasi dan langkah strategis guna mengatasi persoalan yang kian mendesak.
Kepala DLH Sumbawa, Pipin Shakti Batongo, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa salah satu upaya yang tengah dirancang adalah penerapan sistem sanitary landfill berbasis membran. Metode ini dinilai lebih terkontrol dan ramah lingkungan dibandingkan sistem pembuangan terbuka (open dumping), karena mampu meminimalkan pencemaran, khususnya dari limbah organik.
“TPA kita saat ini memang sudah mendekati batas kapasitas. Karena itu, diperlukan inovasi penanganan yang lebih sistematis, salah satunya melalui sanitary landfill,” ujarnya saat ditemui media, Senin (30/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain pengembangan sistem pengelolaan di TPA, DLH juga tengah melakukan uji petik untuk mengetahui volume sampah harian yang masuk. Hasil sementara menunjukkan jumlah sampah mencapai sekitar 69 ton sekian per hari, itu baru berasal dari lima kecamatan.
“Data sementara sekitar 69 ton sekian per hari, itu baru data dari lima kecamatan. Masih ada lagi dari kecamatan lain yang juga membuang sampah secara mandiri ke TPA,” jelasnya.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa total produksi sampah di Kabupaten Sumbawa kemungkinan jauh lebih besar dari yang tercatat saat ini. Kondisi ini semakin menegaskan urgensi langkah cepat, terukur, dan berkelanjutan dalam pengelolaan sampah.
Tidak hanya berfokus pada penanganan di hilir, pemerintah daerah juga mulai mendorong pengurangan sampah dari sumbernya. Edukasi kepada masyarakat terkait pemilahan sampah, pengelolaan berbasis rumah tangga, serta pengurangan penggunaan bahan sekali pakai menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.
DLH juga membuka peluang penerapan teknologi pengolahan sampah lainnya, seperti pengomposan skala komunitas dan pemanfaatan sampah anorganik melalui daur ulang, guna mengurangi beban TPA secara signifikan.
Pendekatan terpadu antara inovasi teknologi dan perubahan perilaku masyarakat diharapkan mampu menekan laju peningkatan volume sampah. Dengan demikian, beban TPA dapat dikurangi sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Jika tidak ditangani secara komprehensif, kondisi overload TPA berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan yang lebih luas. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa,” pungkasnya. (Fr)









































