PWI Kecam Danramil Tanah Luas, Jangan Pakai Cara-cara Lama Untuk Bela Anak Buah

SIWAH RIMBA

- Redaksi

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:17 WIB

50286 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Utara|Oposisi News 86 – Ketua PWI Lhokseumawe, Sayuti Achmad, mengecam keras rilis atau keterangan yang disampaikan Muspika Tanah Luas melalui Danramil 10 Tanah Luas terkait insiden kericuhan yang berujung pada dugaan penganiayaan terhadap wartawan Haiqal Alfikri.

Sayuti menilai, narasi yang disampaikan Danramil berpotensi mengaburkan fakta lapangan dan justru menggiring opini untuk membela anggota TNI yang terlibat.

Sayuti menduga, Oknum Dandim juga terlibat dalam merumuskan narasi kontra dilapangan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami sudah melakukan investigasi. Fakta yang kami temukan di lapangan tidak seperti yang disampaikan Danramil. Jangan menggunakan cara-cara lama dengan membangun kontraopini ketika persoalan menyangkut dugaan kekerasan terhadap Wartawan,” tegas Sayuti, (28/08/26).

Menurutnya, masyarakat saat ini bukan lagi pihak yang mudah digiring oleh narasi sepihak. Banyak warga menyaksikan langsung bagaimana Haiqal mengalami tindakan kekerasan di tengah kericuhan.

Sayuti juga mempertanyakan keberadaan personel Koramil dalam kegiatan pertandingan sepak bola tersebut. Berdasarkan penelusuran pihaknya, kehadiran sejumlah anggota Koramil disebut berkaitan dengan honorarium yang disediakan panitia, bukan semata-mata dalam kapasitas murni pengamanan.

“Kalau memang untuk pengamanan, apa kapasitas dan kepentingan militer dalam melakukan pengamanan pertandingan sepak bola? Ini harus dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan tafsir liar di tengah masyarakat,” katanya.

Sayuti juga menjelaskan pihak nya telah membentuk tim Investigasi sejak tadi malam, untuk menulusuri informasi-informasi dilapangan, kuat berkaitan dengan sentimen pemberitaan-pemberitaan haiqal selama ini.

Sementara itu, Haiqal Alfikri menjelaskan bahwa sebelum kericuhan terjadi, dirinya berada di tribun bagian belakang bersama seorang personel Polsek Tanah Luas.

Ia mengaku masih menyaksikan selebrasi yang dinilainya mengarah pada ejekan dan gestur provokatif dari salah seorang pemain bernomor punggung 18 dari kesebelasan Trieng setelah peluit akhir dibunyikan wasit.

Ketika kericuhan mulai terjadi, Haiqal turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi sebagai bagian dari tugas jurnalistiknya.

Namun, karena dirinya merupakan warga salah satu tim, keberadaannya kemudian diduga disalahpahami oleh salah satu pihak sebagai bentuk keberpihakan. Haiqal mengaku sempat terlibat aksi dorong dan kemudian dihampiri seseorang yang menurutnya merongrong dirinya.

“Saya turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi. Ketika ada yang merongrong saya, saya hendak menjelaskan kapasitas saya sebagai wartawan. Dalam kondisi ramai, saya memang merespons dengan nada tinggi,” ujar Haiqal.

Baca Juga :  Banjir Limbah Kiriman Kembali Menggenangi Perapat Hulu dan Pulo Latong, Warga Desak Pemerintah Hentikan Masalah yang Terus Berulang

Menurut pengakuannya, situasi kemudian berubah ketika tiba-tiba seorang anggota TNI memitingnya dari belakang. Ia menyebut seorang anggota lainnya kemudian melakukan tindakan kekerasan terhadap dirinya.

“Saya dipiting dari belakang. Kemudian ada anggota lain yang melakukan penganiayaan. Alhamdulillah, ada anggota Polsek Tanah Luas yang langsung melindungi saya dan berteriak agar tindakan tersebut dihentikan,” katanya.

Haiqal mengaku setelah kejadian tersebut merasakan nyeri pada bagian rusuk dan saat ini masih menjalani observasi medis untuk melihat perkembangan kondisi tersebut.

“Tidak Ada Upaya Meleraikan dari TNI”

Haiqal membantah apabila kejadian tersebut disebut sebagai bagian dari upaya anggota TNI melerai kericuhan.

“Tidak ada aksi peleraian yang dilakukan TNI terhadap saya. Yang terjadi, saya justru dipiting dan mengalami kekerasan. Setelah itu anggota Polsek yang melerai dan melindungi saya, malah anggota polsek yang merelai TNI hajar saya” tegasnya.

Ia juga membantah dirinya diamankan oleh personel Polsek Tanah Luas.

“Saya tidak diamankan. Saya sendiri yang berlari ke Polsek karena kendaraan saya memang biasa saya parkir di sana ketika menonton pertandingan sepak bola,” jelasnya.

Haiqal mempertanyakan mengapa dirinya yang menjadi sasaran, sementara kericuhan telah lebih dahulu terjadi.

“Mereka datang dari arah yang cukup jauh dan langsung mengarah kepada saya. Pertanyaannya sederhana, kalau memang tujuan mereka melerai kericuhan, mengapa justru saya yang didatangi dan dipiting?” ujarnya.

Ia juga menyebut, salah seorang anggota TNI yang diduga terlibat, yakni Sertu Hendra, masih menunjukkan gestur menantang setelah dilerai oleh anggota Polsek.

“Saya melihat matanya masih melotot dan gesturnya seperti menantang. Itu yang saya rasakan langsung di lokasi,” katanya.

Haiqal juga mengakui bahwa sebelum kejadian tersebut, dirinya beberapa kali merasakan sikap sinis Sertu Hendra ketika berpapasan. Namun, ia mengaku tidak mengetahui apa yang menjadi pemicunya.

Diduga Ada Motif Lain?

Ketua PWI Lhokseumawe Sayuti Achmad menilai insiden tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak boleh dipisahkan dari aktivitas jurnalistik Haiqal selama ini.

Menurut Sayuti, Haiqal dikenal sebagai wartawan yang kritis dan dalam beberapa waktu terakhir intens melakukan peliputan terkait dugaan penggelapan dana kegiatan 17 Agustus di Kecamatan Tanah Luas serta sejumlah persoalan lainnya.

Baca Juga :  HUT ke-81 RI di Aceh Tenggara: Merah Putih Berkibar, Semangat Kemerdekaan Diuji Lewat Kerja Nyata

“Kami sudah melakukan investigasi. Kami menemukan banyak pihak yang merasa risih dengan kehadiran Haiqal karena pemberitaannya kritis. Karena itu, kami melihat kejadian ini perlu diperiksa secara serius. Jangan sampai kericuhan dijadikan kesempatan untuk melakukan tindakan terhadap wartawan,” tegas Sayuti.

Ia menilai terdapat dugaan persoalan yang lebih luas daripada sekadar insiden spontan di lapangan.

“Kami melihat ada miss komunikasi atau hubungan yang tidak sehat antara Koramil dengan anggota kami di lapangan. Kejadian ini harus diperiksa secara objektif. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ini murni upaya peleraian sebelum seluruh fakta dibuka,” katanya.

Sayuti juga meminta institusi TNI mengambil alih penanganan persoalan dari level bawah agar pemeriksaan dapat berlangsung objektif dan tidak menimbulkan kesan institusi membela anggotanya.

“Saya sudah dua dekade menjadi wartawan. Saya memahami pola-pola ketika sebuah institusi berusaha melindungi anggotanya. Karena itu, jangan sampai proses klarifikasi berubah menjadi upaya membangun kontraopini dan mengaburkan fakta,” tegasnya.

Ia meminta Danramil tidak memperkeruh keadaan dengan narasi yang belum teruji.

“Saya mantan wartawan Bukit Barisan dan pernah menjadi wartawan perang. Saya paham bagaimana pola-pola pemberitaan dan kontraopini dibangun. Harapan saya, Danramil jangan mempertinggi tempat untuk jatuh. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk berkata berdasarkan fakta,” ujar Sayuti.

PWI Siapkan Langkah Hukum

Sayuti menegaskan PWI Lhokseumawe tidak akan tinggal diam. Pihaknya masih menunggu perkembangan kondisi kesehatan Haiqal yang saat ini menjalani observasi medis akibat nyeri pada bagian rusuk.

Setelah kondisi medis dinyatakan memungkinkan, PWI akan mengambil langkah hukum dengan melaporkan dua oknum anggota TNI yang diduga terlibat ke Polisi Militer.

“Kami sedang menunggu pemulihan Haiqal. Setelah itu, kami akan menempuh jalur hukum. Kami juga sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak termasuk PWI Aceh dan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) dan mereka siap memberikan dukungan agar persoalan ini diproses secara hukum,” kata Sayuti.

Ia menegaskan, persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut Haiqal sebagai individu, melainkan menyangkut perlindungan terhadap profesi wartawan ketika menjalankan tugas jurnalistik selama ini. [SR]

Berita Terkait

Panen Perdana Jagung Yonif TP 855/Raksa Dharma, BNNK Gayo Lues Dorong Petani Beralih ke Komoditas Legal
Dugaan Penimbunan BBM Bersubsidi Terungkap di Raklunung, Polisi Telusuri Asal Solar dan Pertalite
Razia Dini Hari di Blangkejeren, Dua Pria Diduga Main Judi Online Diamankan Polisi
Ibnu Hafit Tekankan Peran Keluarga dalam Pencegahan Narkoba, Pemda Gayo Lues Perlu Perkuat Perlindungan Anak Sejak Dini
Razia Bergeser dari Perempatan Blower ke Blangkejeren, Polres Gayo Lues Tingkatkan Penertiban Lalu Lintas
Plt. Sekda Gayo Lues H. Irwansyah Tekankan Peran Relawan Anti Narkotika, Pencegahan Harus Diperkuat hingga Tingkat Desa
BNNK Gayo Lues Perkuat Peran Relawan Anti Narkoba, Pemerintah Desa Didorong Aktif Lindungi Generasi Muda
Dua Paket Diduga Sabu Seberat 0,18 Gram Diamankan Polisi di Blangjerango, Satu Pria Diperiksa

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 20:30 WIB

Antisipasi Gangguan Kamtibmas, Patroli TNI Perkuat Keamanan Wilayah Plampang dan Sekitarnya

Minggu, 1 November 2026 - 20:24 WIB

Cegah Konflik Meluas Pascakekerasan, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Perangkat Desa Turun Tangan Mediasi Warga

Minggu, 1 November 2026 - 20:16 WIB

Dari Kebersihan Selokan hingga Kelestarian Hutan, Babinsa Kodim Sumbawa Ajak Warga Jaga Alam

Minggu, 1 November 2026 - 01:38 WIB

Deteksi Dini dan Pencegahan Gangguan Keamanan, Tiga Satuan TNI Gelar Patroli Malam di Wilayah Sumbawa

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:01 WIB

Patroli Malam Jadi Komitmen Koramil Utan dalam Menjaga Stabilitas Wilayah

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:55 WIB

Unit Intel Kodim 1607/sumbawa Dan BNNP NTB Gerebek Dugaan Peredaran Sabu, Sepasang Kekasih Diciduk Dengan Barang Bukti 107,53 Gram!

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Meriahkan Turnamen Sepak Bola Mini di Moyo Luar, Peltu Andri Mohar Tunjukkan Dukungan TNI terhadap Olahraga Masyarakat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:40 WIB

Sinergi TNI dan Masyarakat Jadi Fondasi Pencegahan Narkoba di Wilayah Alas

Berita Terbaru