Tapaktuan| Oposisi News 86 – Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan kembali menghadirkan edukasi publik melalui program Podcast Kito – Sahabat Zakat yang tayang di YouTube pada Selasa (5/5/2026) pukul 20.00 WIB.
Mengangkat tema “Zakat Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Peradaban”, episode ini menghadirkan ulama asal Aceh Selatan Tgk. Muhibbut Thibri, anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh utusan Aceh Selatan, dengan dipandu oleh Tgk. Sairul Bahri, S.Pd.I
Dalam pembukaannya, host menegaskan bahwa zakat bukan hanya kewajiban ibadah semata, tetapi merupakan cahaya peradaban yang mampu mengangkat derajat umat dan membangun kesejahteraan bersama.
“Zakat adalah tentang kepedulian, keadilan, dan harapan bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya, membuka diskusi yang sarat makna dan refleksi.
Menanggapi hal tersebut, Tgk. Muhibbut Thibri menjelaskan bahwa zakat memiliki dimensi yang sangat luas, mencakup aspek spiritual, sosial, dan ekonomi.
“Zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi ibadah yang menyentuh jiwa dan kehidupan umat secara menyeluruh. Di dalam harta kita ada hak orang lain yang harus ditunaikan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa zakat merupakan instrumen penting dalam membangun sistem kehidupan yang adil.
Dalam sejarah Islam, pengelolaan zakat yang optimal terbukti mampu mengurangi bahkan menghapus kemiskinan.
“Zakat adalah fondasi peradaban. Ketika zakat berjalan dengan baik, maka akan tercipta masyarakat yang saling peduli dan jauh dari kesenjangan sosial,” jelasnya.
Dalam diskusi tersebut, peran ulama turut menjadi sorotan penting. Ulama dinilai memiliki tanggung jawab strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui dakwah, pendidikan, dan penguatan kepercayaan terhadap lembaga zakat.
Dengan pendekatan yang tepat, pesan zakat diyakini mampu menyentuh hati dan menggerakkan umat untuk berzakat secara sadar dan ikhlas.
Selain itu, Tgk. Muhibbut Thibri juga menjelaskan hubungan erat antara zakat dan infak.
Menurutnya, zakat merupakan kewajiban yang menjadi fondasi, sedangkan infak adalah bentuk keikhlasan yang menyempurnakan kepedulian sosial.
Keduanya harus berjalan beriringan untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat.
Namun demikian, tantangan dalam pengelolaan zakat masih cukup besar, terutama dalam membangun kesadaran dan kepercayaan publik.
Oleh karena itu, lembaga zakat dituntut untuk terus meningkatkan transparansi, profesionalisme, serta akuntabilitas dalam pengelolaan dana umat.
Dalam pesannya, Tgk. Muhibbut Thibri mengajak masyarakat agar tidak menunda kewajiban zakat.
“Menunda zakat sama dengan menahan hak saudara kita. Zakat tidak akan mengurangi harta, justru menghadirkan keberkahan,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan harapan besar agar zakat di Aceh Selatan dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik dan kesadaran yang tinggi, zakat diyakini mampu menjadi solusi berbagai persoalan sosial sekaligus membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Menutup perbincangan, host kembali mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga amanah zakat.
“Setiap rupiah yang kita tunaikan adalah langkah menuju masyarakat yang lebih peduli dan berkeadilan. Zakat bukan hanya memberi, tetapi menghidupkan masa depan,” tutupnya.
Program Podcast Kito – Sahabat Zakat ini menjadi salah satu upaya nyata Baitul Mal Aceh Selatan dalam meningkatkan literasi zakat, memperkuat kepercayaan publik, serta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menebarkan keberkahan melalui zakat dan infak. (Khairul Miza)









































