Praktik Dugaan Pungli Berkedok ‘Uang Gerensi’ di Pelabuhan Karimun: Sebuah Investigasi

SAJIRUN SARAGIH

- Redaksi

Jumat, 15 Agustus 2025 - 13:47 WIB

50377 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau — Dalam sebuah praktik yang meresahkan, dugaan pungutan liar (pungli) berkedok “uang gerensi” marak terjadi di Pelabuhan Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Pungutan ini diduga ditujukan kepada para calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang hendak bekerja di Malaysia, khususnya mereka yang menggunakan paspor biasa atau paspor turis. Praktik ini diduga melibatkan oknum-oknum yang bekerja sama dengan agen-agen tak resmi, dan terjadi di bawah pengawasan yang terkesan longgar dari pihak berwenang, termasuk Petugas Imigrasi.

Mekanisme dan Dampak Praktik ‘Uang Gerensi’

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Investigasi menunjukkan bahwa calon PMI diwajibkan membayar sejumlah uang yang disebut “uang gerenti,” yang nominalnya bervariasi antara Rp1.050.000 hingga Rp1.200.000 per orang. Salah satu calon pekerja yang berhasil diwawancarai secara anonim mengungkapkan, “uang gerensi ada bang tadi saya di ambil, Rp1.200.000.” Uang ini jauh melebihi harga tiket kapal ke Malaysia yang diperkirakan sekitar Rp500.000. Dengan demikian, terdapat selisih sebesar Rp550.000 hingga Rp700.000 per orang yang dipertanyakan peruntukannya.

Baca Juga :  Bea Cukai Karimun Didamprat Jarak: Tumpas Habis Penyelundupan, Atau Laporkan ke Puncak!

Praktik ini tergolong ilegal, mengingat penggunaan paspor turis untuk bekerja di luar negeri melanggar hukum, sebagaimana diatur dalam kebijakan keimigrasian Indonesia.

Imigrasi memiliki tugas utama untuk mengawasi dan menindak WNI yang bekerja di luar negeri secara non-prosedural, termasuk dengan menindak mereka yang menggunakan paspor turis untuk bekerja. Namun, fenomena ini justru terjadi di depan mata petugas yang seharusnya mengawasi.
Dugaan Keterlibatan dan Pembiaran Petugas Imigrasi.

Ketika dikonfirmasi, salah satu petugas Imigrasi di Pelabuhan Karimun, yang diidentifikasi sebagai Jamal, memberikan tanggapan yang terkesan menghindar.

Pertanyaan mengenai dugaan kerja sama antara Imigrasi dan agen-agen pungli di pelabuhan tidak mendapat jawaban yang tegas. Sikap ini, ditambah dengan ketiadaan tindakan nyata terhadap praktik yang sudah beberapa kali diberitakan, menimbulkan dugaan kuat adanya pembiaran, atau bahkan kerja sama terselubung.

Sikap diam ini sangat kontras dengan tugas dan tanggung jawab Imigrasi, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencegah WNI bekerja secara ilegal di luar negeri. Jika praktik ini terus dibiarkan, maka tidak hanya merugikan para calon pekerja secara finansial, tetapi juga menempatkan mereka dalam posisi rentan terhadap eksploitasi di negara tujuan.

Baca Juga :  BLT Dana Desa Sungai Buluh Tahap 1 Dan II Tahun 2025, Kepada 29 KPM Telah Di Salurkan

Seruan untuk Tindakan Tegas

Menanggapi fenomena ini, Arman Purba SH, dari Perkumpulan Jaringan Aspirasi Rakyat (JASRA) PAC Kabupaten Karimun, menegaskan bahwa pengambilan “uang gerenti” ini adalah dugaan pungli dan tidak memiliki dasar hukum yang jelas. Ia mendesak Imigrasi Karimun untuk mengambil tindakan tegas terhadap agen-agen yang terlibat.

“Kita meminta Imigrasi Karimun mengambil tindakan tegas terhadap agen-agen yang meminta uang gerenti,” tegasnya. Lebih lanjut, ia juga berharap aparat penegak hukum dapat menindaklanjuti permasalahan ini secara serius, mengingat praktik ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mencoreng citra penegakan hukum di Indonesia.

Fenomena ini menjadi sebuah studi kasus yang mendesak untuk ditindaklanjuti oleh pihak berwajib. Pertanyaan kritisnya adalah, sejauh mana praktik ilegal ini telah mengakar, dan apakah ada komitmen dari pihak berwenang untuk memberantasnya sampai ke akarnya?. [SAJIRUN, S]

Berita Terkait

Bea Cukai Diminta Tangkap pengiriman Rokok ilegal ke Tanjung Batu
APH di minta sikat rokok ilegal/ rokok tanpa pita cukai di tanjung batu.
Rokok Ilegal Diduga Kian Marak di Tanjung Batu, APH dan Bea Cukai Diminta Bongkar Jalur Distribusi hingga ke Akarnya
Rokok Tanpa Pita Cukai Diduga Marak di Tanjung Batu, Bea Cukai dan Aparat Diminta Telusuri Jalur Distribusi
“Dugaan Peredaran Ekstasi di Star Club Wiko Karimun Seolah Bebas, Aparat Dituntut Bertindak: Siapa yang Bertanggung Jawab?”
Dugaan peredaran narkoba jenis ekstasi  di Star club wiko semakin marak, di minta kapolda kepri  turunkan tim untuk memberantasnya.
Pertemuan di  rumah dinas bupati merupakan Tindak lanjut rapat dengar  pendapat umum ( RDPU ) bupati karimun dan dewan perwakilan daerah (DPD ) RI
Dugaan Peredaran Narkoba Jenis Pil Ekstasi Kembali Marak di Star Club Wiko

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 20:30 WIB

Antisipasi Gangguan Kamtibmas, Patroli TNI Perkuat Keamanan Wilayah Plampang dan Sekitarnya

Minggu, 1 November 2026 - 20:24 WIB

Cegah Konflik Meluas Pascakekerasan, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Perangkat Desa Turun Tangan Mediasi Warga

Minggu, 1 November 2026 - 01:38 WIB

Deteksi Dini dan Pencegahan Gangguan Keamanan, Tiga Satuan TNI Gelar Patroli Malam di Wilayah Sumbawa

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:01 WIB

Patroli Malam Jadi Komitmen Koramil Utan dalam Menjaga Stabilitas Wilayah

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Dekat dengan Rakyat, Koramil Moyo Hilir Perkuat Pembinaan Teritorial

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:55 WIB

Unit Intel Kodim 1607/sumbawa Dan BNNP NTB Gerebek Dugaan Peredaran Sabu, Sepasang Kekasih Diciduk Dengan Barang Bukti 107,53 Gram!

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Meriahkan Turnamen Sepak Bola Mini di Moyo Luar, Peltu Andri Mohar Tunjukkan Dukungan TNI terhadap Olahraga Masyarakat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:40 WIB

Sinergi TNI dan Masyarakat Jadi Fondasi Pencegahan Narkoba di Wilayah Alas

Berita Terbaru

KARIMUN KEPRI

Bea Cukai Diminta Tangkap pengiriman Rokok ilegal ke Tanjung Batu

Senin, 2 Nov 2026 - 09:32 WIB