Lhokseumawe/Oposisi News 86 — Di tengah puing dan alur sungai baru yang membelah bekas permukiman, Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan memilih hadir langsung. Senin, 19 Januari 2026, ia mendatangi Posko Pengungsian Gampong Riseh Tunong, lokasi yang kini menampung warga korban banjir bandang.
Banjir yang melanda kawasan itu tak sekadar merusak rumah. Sejumlah bangunan hanyut hingga rata dengan tanah. Endapan kayu dan bebatuan menutup halaman yang dulu menjadi ruang hidup warga. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan—menyimpan trauma yang tak selalu tampak.
Di posko pengungsian, Ahzan menggelar kegiatan trauma healing dengan pendekatan sederhana. Anak-anak diajak bermain, bercakap, dan menjawab pertanyaan ringan seputar kebangsaan. Beberapa diminta mengulang kembali pemahaman dasar tentang Undang-Undang Dasar 1945. Hadiah kecil disiapkan bagi yang berani menjawab. Tawa anak-anak sesekali memecah suasana muram pengungsian.
“Kami ingin anak-anak kembali merasa aman dan berani tersenyum,” kata Ahzan di sela kegiatan.
Tak hanya menyasar pemulihan psikologis, Kapolres juga membawa tim medis untuk memberikan layanan pengobatan gratis. Pemeriksaan kesehatan dilakukan terhadap anak-anak, lansia, serta warga yang mengalami keluhan pascabanjir—mulai dari infeksi kulit hingga gangguan pernapasan.
Menurut Ahzan, kehadiran Polri di lokasi bencana tak boleh berhenti pada pengamanan. “Negara harus hadir secara nyata. Bukan hanya membantu secara fisik, tapi juga menjaga kesehatan dan kondisi mental warga,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian kapan warga bisa kembali ke rumah—atau membangun rumah baru—kunjungan itu setidaknya memberi jeda dari trauma. Sebuah upaya kecil untuk menyalakan kembali optimisme di tengah lumpur dan reruntuhan. [SR]




































