Welsukrianto Tokoh LSM Sumbawa: Demokrasi Runtuh Bukan dengan Senjata, Tapi Pasal Karet

REDAKSI NTB

- Redaksi

Selasa, 9 September 2025 - 17:47 WIB

50884 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumbawa Besar, oposisinews86.com (9 September 2025),— Peningkatan status hukum kasus Abdul Hatab, Ketua Umum Front Pemuda Peduli Keadilan Pulau Sumbawa (FPPK-PS), ke tahap penyidikan menuai kritik keras dari kalangan pegiat LSM. Mereka menilai langkah aparat penegak hukum ini bukan hanya bentuk kriminalisasi aktivis, tetapi juga ancaman serius bagi keberlangsungan demokrasi di Indonesia.

Polresta Mataram resmi menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (SP-Sidik) Nomor SP.Sidik/281/RES.1.14/IX/2025/RESKRIM pada 6 September 2025. Surat tersebut menindaklanjuti laporan oknum Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumbawa terkait pernyataan Abdul Hatab dalam forum audiensi resmi bersama Kanwil ATR/BPN NTB pada November 2024. Dalam forum itu, Hatab mengungkap adanya dugaan praktik mafia tanah.

Tokoh LSM Sumbawa, Welsukrianto, dengan tegas menyebut langkah aparat sebagai alarm bahaya bagi demokrasi.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kriminalisasi aktivis adalah alarm kematian demokrasi. Jika kritik yang disampaikan di forum resmi bisa dipidanakan, kita sedang mengalami kemunduran besar,” ujarnya kepada awak media, Selasa (9/9/2025).

Menurut Welsukrianto, forum audiensi publik seharusnya menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan mengawasi kebijakan negara. Namun, langkah kriminalisasi justru mengubah ruang aspirasi rakyat menjadi jebakan hukum.

Baca Juga :  ‎Koramil 1607-09/Utan Hadir dalam Pembentukan Desa Binaan Imigrasi Kabupaten Sumbawa

“Audiensi adalah sarana rakyat mengontrol kekuasaan. Jika yang bicara malah diseret ke ranah pidana, siapa yang berani bersuara?” tambahnya.

Ia juga menyoroti tajamnya hukum ke bawah dan lambannya penanganan laporan dugaan mafia tanah yang justru sebelumnya disampaikan FPPK-PS ke Kejati NTB.

“Laporan FPPK-PS tentang mafia tanah tidak jelas nasibnya. Tapi laporan balik justru melesat cepat sampai ke penyidikan. Ini tanda hukum kita bermasalah,” tegasnya.

Lebih jauh, Welsukrianto menilai praktik ini bisa menjadi preseden buruk bagi demokrasi di Indonesia.

“Kalau pola ini dibiarkan, efek gentar akan muncul. Aktivis akan bungkam, masyarakat takut mengkritik. Demokrasi kita runtuh bukan dengan senjata, tapi dengan pasal-pasal karet,” sindirnya.

Karena itu, ia mendesak Polresta Mataram untuk menghentikan penyidikan terhadap Abdul Hatab dan mengedepankan prinsip perlindungan terhadap pembela hak asasi manusia yang menjalankan fungsi advokasi hukum.

Baca Juga :  Perpisahan SMA Negeri 1 Alas, Danramil Sampaikan Apresiasi

“Negara seharusnya melindungi aktivis, bukan memenjarakan. Komnas HAM dan Kompolnas harus turun tangan agar kasus ini tidak menjadi tragedi demokrasi,” pungkasnya.

Welsukrianto juga menambahkan pesan khusus kepada awak media terkait pentingnya penerapan hukum yang adil dan transparan.

“Seharusnya hukum memberi ruang kepada seluruh anak bangsa untuk menyuarakan kebenaran secara transparan, memberi kritikan agar membangun jati diri sebuah negara yang berlandaskan hukum. Jika apa yang disuarakan di tengah forum terbuka dianggap pencemaran nama baik, maka seharusnya penyelenggara hukum menghadirkan ahli bahasa agar dapat dikaji secara teknis sehingga tidak ada anak bangsa yang merasa dikriminalisasi.

Dan jika semua tahapan tersebut sudah dilalui, maka harus disampaikan kepada publik siapa ahli bahasa dan ahli hukum yang menerjemahkan sehingga dijadikan panduan. Karena kami mempunyai hak pembanding atas kajian-kajian tersebut. Bukan hanya berdasar penafsiran atau logika, tetapi melalui tahap dan kajian teknis yang sehat dan bersih sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan,” tutupnya. (Fa)

Berita Terkait

Melalui Patroli Malam, Koramil 1607-07/Lunyuk Perkuat Sinergi TNI dan Masyarakat Jaga Keamanan Lingkungan
Peringati HUT PGRI dan Hari Guru Nasional, Babinsa Lunyuk Dorong Semangat Sportivitas Generasi Muda
Bersama Masyarakat, Babinsa Dorong Desa Lebih Maju
Babinsa Ajak Perkuat Kebersamaan Sambut Penilaian Posyandu
Antisipasi Gangguan Kamtibmas, Patroli TNI Perkuat Keamanan Wilayah Plampang dan Sekitarnya
Cegah Konflik Meluas Pascakekerasan, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Perangkat Desa Turun Tangan Mediasi Warga
Dari Kebersihan Selokan hingga Kelestarian Hutan, Babinsa Kodim Sumbawa Ajak Warga Jaga Alam
Deteksi Dini dan Pencegahan Gangguan Keamanan, Tiga Satuan TNI Gelar Patroli Malam di Wilayah Sumbawa

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:35 WIB

Panen Perdana Jagung Yonif TP 855/Raksa Dharma, BNNK Gayo Lues Dorong Petani Beralih ke Komoditas Legal

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Dugaan Penimbunan BBM Bersubsidi Terungkap di Raklunung, Polisi Telusuri Asal Solar dan Pertalite

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Razia Dini Hari di Blangkejeren, Dua Pria Diduga Main Judi Online Diamankan Polisi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:12 WIB

Ibnu Hafit Tekankan Peran Keluarga dalam Pencegahan Narkoba, Pemda Gayo Lues Perlu Perkuat Perlindungan Anak Sejak Dini

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Razia Bergeser dari Perempatan Blower ke Blangkejeren, Polres Gayo Lues Tingkatkan Penertiban Lalu Lintas

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:23 WIB

Plt. Sekda Gayo Lues H. Irwansyah Tekankan Peran Relawan Anti Narkotika, Pencegahan Harus Diperkuat hingga Tingkat Desa

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:02 WIB

BNNK Gayo Lues Perkuat Peran Relawan Anti Narkoba, Pemerintah Desa Didorong Aktif Lindungi Generasi Muda

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:05 WIB

Dua Paket Diduga Sabu Seberat 0,18 Gram Diamankan Polisi di Blangjerango, Satu Pria Diperiksa

Berita Terbaru

NASIONAL

Bersama Masyarakat, Babinsa Dorong Desa Lebih Maju

Selasa, 3 Nov 2026 - 07:40 WIB

NASIONAL

Babinsa Ajak Perkuat Kebersamaan Sambut Penilaian Posyandu

Selasa, 3 Nov 2026 - 07:33 WIB