Praktik Dugaan Pungli Berkedok ‘Uang Gerensi’ di Pelabuhan Karimun: Sebuah Investigasi

SAJIRUN SARAGIH

- Redaksi

Jumat, 15 Agustus 2025 - 13:47 WIB

50273 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau — Dalam sebuah praktik yang meresahkan, dugaan pungutan liar (pungli) berkedok “uang gerensi” marak terjadi di Pelabuhan Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Pungutan ini diduga ditujukan kepada para calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang hendak bekerja di Malaysia, khususnya mereka yang menggunakan paspor biasa atau paspor turis. Praktik ini diduga melibatkan oknum-oknum yang bekerja sama dengan agen-agen tak resmi, dan terjadi di bawah pengawasan yang terkesan longgar dari pihak berwenang, termasuk Petugas Imigrasi.

Mekanisme dan Dampak Praktik ‘Uang Gerensi’

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Investigasi menunjukkan bahwa calon PMI diwajibkan membayar sejumlah uang yang disebut “uang gerenti,” yang nominalnya bervariasi antara Rp1.050.000 hingga Rp1.200.000 per orang. Salah satu calon pekerja yang berhasil diwawancarai secara anonim mengungkapkan, “uang gerensi ada bang tadi saya di ambil, Rp1.200.000.” Uang ini jauh melebihi harga tiket kapal ke Malaysia yang diperkirakan sekitar Rp500.000. Dengan demikian, terdapat selisih sebesar Rp550.000 hingga Rp700.000 per orang yang dipertanyakan peruntukannya.

Baca Juga :  Polres Karimun Kerahkan Ratusan Personel Dalam Operasi Lilin Seligi Tahun 2024.

Praktik ini tergolong ilegal, mengingat penggunaan paspor turis untuk bekerja di luar negeri melanggar hukum, sebagaimana diatur dalam kebijakan keimigrasian Indonesia.

Imigrasi memiliki tugas utama untuk mengawasi dan menindak WNI yang bekerja di luar negeri secara non-prosedural, termasuk dengan menindak mereka yang menggunakan paspor turis untuk bekerja. Namun, fenomena ini justru terjadi di depan mata petugas yang seharusnya mengawasi.
Dugaan Keterlibatan dan Pembiaran Petugas Imigrasi.

Ketika dikonfirmasi, salah satu petugas Imigrasi di Pelabuhan Karimun, yang diidentifikasi sebagai Jamal, memberikan tanggapan yang terkesan menghindar.

Pertanyaan mengenai dugaan kerja sama antara Imigrasi dan agen-agen pungli di pelabuhan tidak mendapat jawaban yang tegas. Sikap ini, ditambah dengan ketiadaan tindakan nyata terhadap praktik yang sudah beberapa kali diberitakan, menimbulkan dugaan kuat adanya pembiaran, atau bahkan kerja sama terselubung.

Sikap diam ini sangat kontras dengan tugas dan tanggung jawab Imigrasi, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencegah WNI bekerja secara ilegal di luar negeri. Jika praktik ini terus dibiarkan, maka tidak hanya merugikan para calon pekerja secara finansial, tetapi juga menempatkan mereka dalam posisi rentan terhadap eksploitasi di negara tujuan.

Baca Juga :  Wakil Bupati Karimun, Rocky Marciano Bawole Pimpin Apel Perdana

Seruan untuk Tindakan Tegas

Menanggapi fenomena ini, Arman Purba SH, dari Perkumpulan Jaringan Aspirasi Rakyat (JASRA) PAC Kabupaten Karimun, menegaskan bahwa pengambilan “uang gerenti” ini adalah dugaan pungli dan tidak memiliki dasar hukum yang jelas. Ia mendesak Imigrasi Karimun untuk mengambil tindakan tegas terhadap agen-agen yang terlibat.

“Kita meminta Imigrasi Karimun mengambil tindakan tegas terhadap agen-agen yang meminta uang gerenti,” tegasnya. Lebih lanjut, ia juga berharap aparat penegak hukum dapat menindaklanjuti permasalahan ini secara serius, mengingat praktik ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mencoreng citra penegakan hukum di Indonesia.

Fenomena ini menjadi sebuah studi kasus yang mendesak untuk ditindaklanjuti oleh pihak berwajib. Pertanyaan kritisnya adalah, sejauh mana praktik ilegal ini telah mengakar, dan apakah ada komitmen dari pihak berwenang untuk memberantasnya sampai ke akarnya?. [SAJIRUN, S]

Berita Terkait

Kapolres karimun berganti
Investasi Rp2,2 Miliar PT MSM dalam Pengelolaan Parkir Karimun Dipertanyakan, Janji Otomatisasi Tak Kunjung Terlihat
Skandal Plang Proyek Pelindo Karimun: Transparansi BUMN ‘Terselubung’ di Balik Regulasi Wajib Pasang
PT MPK Akan Kelola Parkir Pelabuhan Taman Bunga Dengan Sistim Digital
Jejak Retak Proyek 8,8 Miliar BP Karimun: Aspal Tipis, Pejabat Pembungkam
Benteng Regulasi Internal Kontra Tembok Transparansi UU KIP: Proyek “Siluman” Pelindo di Karimun
Rangkaian kegiatan Rutin Tahunan Di Bulan Rabi’ul Awal Didesa Tanjung Berlian Barat.
Agen-Agen Grenti Di Pelabuhan Tanjung Bale Karimun Kebal Hukum

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 14:29 WIB

Irigasi Hancur, Petani Geureudong Pase Terjerembab Krisis

Kamis, 29 Januari 2026 - 18:44 WIB

Banjir Aceh Utara Diseret ke Pengadilan: Alam Dijarah, Rakyat Dibayar Air

Kamis, 29 Januari 2026 - 11:10 WIB

Konferensi II PWI Lhokseumawe: Enam Kandidat, Taruhan Marwah Profesi

Kamis, 29 Januari 2026 - 10:02 WIB

Pascabanjir, Pemkab Aceh Utara Klaim Ekonomi Tetap Aman Inflasi terkendali

Kamis, 29 Januari 2026 - 09:57 WIB

Serah Terima Huntara Dimulai, Pemulihan Pascabencana Aceh Utara Masih Bertumpu pada Janji

Selasa, 27 Januari 2026 - 23:07 WIB

Delapan Terpidana Dihukum Cambuk, Syariat Diperlihatkan di Ruang Publik

Sabtu, 24 Januari 2026 - 17:59 WIB

Sekolah Terbakar, Disdikbud Aceh Utara Janji Bergerak Cepat

Jumat, 23 Januari 2026 - 19:37 WIB

Aliansi Pers Turun ke Lapangan, Rehab Rekon Pascabanjir Aceh Mulai Diawasi

Berita Terbaru

ACEH UTARA

Irigasi Hancur, Petani Geureudong Pase Terjerembab Krisis

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:29 WIB

ACEH

Subuh yang Mengajarkan Kepemimpinan

Jumat, 30 Jan 2026 - 21:28 WIB