Sumbawa Barat, oposisinews86.com, (28 Mei 2026),- Menjelang aksi besar besaran pada 2 Juni 2026 Ketua Dewan Pembina Pembentukan Provinsi Sumbawa (PPS), Daeng Karaeng Samun Fakhruddin, secara mengejutkan memutuskan “turun gunung”. Tak tanggung tanggung, ia memimpin langsung instruksi untuk melumpuhkan Pelabuhan Poto Tano sebagai bentuk protes keras terhadap stagnansi pemekaran provinsi.
Keputusan ini menjadi sinyal bahwa perjuangan PPS telah memasuki fase baru yang jauh lebih radikal. Jika selama ini aksi hanya dilakukan dengan audiensi, kali ini PPS memilih untuk memutus urat nadi logistik dan transportasi laut utama di Pulau Sumbawa.
Daeng Karaeng Samun Fakhruddin, tokoh sentral yang dikenal tegas dan tanpa kompromi, menegaskan bahwa langkah menutup Pelabuhan Tano adalah akumulasi dari kekecewaan mendalam masyarakat terhadap pemerintah pusat. Ia menilai Jakarta telah mengabaikan aspirasi konstitusional rakyat Sumbawa selama bertahun tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sudah cukup kita diberi janji manis dan janji palsu. Pelabuhan Tano adalah urat nadi. Jika pusat menutup mata terhadap hak kedaulatan kami untuk membentuk Provinsi Sumbawa, maka hari ini kami tunjukkan bahwa kami pun mampu menghentikan denyut nadi ekonomi yang melewati wilayah kami,” ujar Daeng Karaeng Samun, dalam keterangannya, Kamis (28/05/2026).
Menurutnya, aksi 2 Juni nanti bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan bentuk peringatan keras kepada pemerintah pusat agar segera mencabut moratorium pemekaran wilayah dan meresmikan Provinsi Sumbawa.
Dalam instruksinya, Daeng Karaeng Samun memerintahkan seluruh elemen masyarakat, simpatisan, dan pengurus PPS di seluruh pelosok Pulau Sumbawa untuk tumpah ruah di Pelabuhan Tano. Ia menekankan agar aksi ini dijalankan dengan tertib namun tetap memiliki efek getar yang maksimal.
“Saya turun gunung untuk memimpin langsung. Ini adalah momentum puncak. Kami tidak akan membuka akses sebelum ada kepastian nyata dari pemerintah pusat. Ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi dengan negosiasi tingkat rendah,” tegasnya. (Bg)









































