Bencana Bener Meriah dan Kerugian Rp7,19 Triliun

SIWAH RIMBA

- Redaksi

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:59 WIB

50696 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabid Penelitian,Pengembangan Program dan pendanaan Pembangunan Bappeda Kabupaten Bener Meriah,Rahmat Yanidin.

BENER MERIAH — Bencana cuaca ekstrem yang menghantam Kabupaten Bener Meriah sejak akhir November 2025 membuka satu fakta telanjang: wilayah ini berdiri di atas fondasi yang rapuh. Banjir bandang, longsor, dan angin kencang tak hanya menghancurkan ruang hidup warga, tetapi juga menelanjangi kegagalan panjang dalam tata kelola lingkungan dan perencanaan wilayah.

Total kerusakan dan kerugian ditaksir mencapai Rp7,19 triliun—angka yang setara dengan bertahun-tahun anggaran pembangunan daerah.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Penelitian, Pengembangan Program, dan Pendanaan Pembangunan Bappeda Bener Meriah, Rahmat Yanidin, Selasa, 3 Februari 2026.

Ia mengakui, skala kehancuran kali ini tergolong luar biasa dan menyentuh hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat.

Hujan Lebat, Kerentanan Lama

Bencana dipicu fase aktif musim hujan yang dimulai sejak 26 November 2025, dengan curah hujan menengah hingga ekstrem yang turun beruntun, terutama pada sore dan malam hari. Debit sungai melonjak drastis, lereng-lereng perbukitan runtuh, dan aliran air bercampur lumpur serta batang kayu menyapu permukiman.

Baca Juga :  Edarkan Uang Palsu, Seorang Wanita Diamankan Polsek Bandar

Namun, hujan deras bukan satu-satunya penyebab. Topografi curam yang tak diimbangi tata ruang adaptif, degradasi kawasan hulu, serta lemahnya sistem pengendalian bencana memperbesar daya rusak alam.

“Air membawa material sedimen dalam jumlah besar dan menghantam rumah serta lahan pertanian warga,” kata Rahmat Yanidin.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa bencana datang bukan secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari kerentanan yang dibiarkan bertahun-tahun.

Infrastruktur Runtuh, Ekonomi Lumpuh

Pendataan pascabencana menunjukkan infrastruktur menjadi sektor paling parah terdampak dengan nilai kerusakan mencapai Rp4,8 triliun. Jalan putus, jembatan roboh, fasilitas publik rusak berat—memutus akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Rincian kerusakan dan kerugian mencatat:
Infrastruktur: Rp4,8 triliun
Ekonomi: Rp1,8 triliun
Permukiman: Rp215 miliar
Lintas sektor: Rp176 miliar
Sosial: Rp75 miliar
Total kerugian: Rp7,19 triliun.

Angka ini mencerminkan lebih dari sekadar bangunan yang roboh. Ia menandai terhentinya roda ekonomi lokal, hilangnya mata pencaharian, dan meningkatnya kerentanan sosial warga, terutama di wilayah pedesaan.

Biaya Pemulihan Lebih Mahal dari Kerusakan

Ironisnya, untuk bangkit dari kehancuran tersebut, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah justru membutuhkan anggaran lebih besar. Dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR), kebutuhan dana pemulihan dipatok Rp7,32 triliun, melampaui nilai kerugian yang ada.
Fokus anggaran diarahkan ke:
Infrastruktur: Rp5,67 triliun
Lintas sektor: Rp201,16 miliar
Permukiman: Rp191,72 miliar
Sektor sosial: Rp33,80 miliar

Baca Juga :  Prajurit Batalyon Infanteri 114/Satria Musara Kunjungi Sekolah Di Sekitar Satuan Untuk Transfer Ilmu.

Besarnya angka ini menegaskan satu hal: bencana jauh lebih mahal daripada pencegahan. Dan bagi daerah dengan kapasitas fiskal terbatas, beban ini nyaris mustahil ditanggung sendiri.

Ancaman Siklus Bencana

Rahmat Yanidin menegaskan, rehabilitasi dan rekonstruksi tidak boleh berhenti pada logika tambal-sulam. Prinsip pengurangan risiko bencana harus menjadi dasar, mulai dari penataan ruang, perlindungan kawasan hulu, hingga pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap krisis iklim.
“Kalau hanya membangun kembali tanpa mitigasi, kita sedang menyiapkan panggung bagi bencana berikutnya,” ujarnya.

Tanpa evaluasi serius atas pola pembangunan dan keberanian menertibkan kerusakan lingkungan, Bener Meriah berisiko terjebak dalam siklus tahunan bencana: hujan datang, kerusakan terjadi, anggaran habis, lalu lupa—hingga alam kembali menagih dengan harga yang lebih mahal. [SR]

Berita Terkait

Patroli Jumat di Bener Meriah: Antara Penegakan Qanun dan Etika Ruang Publik
Ambulance Milik RSUD M. Ali Kasim Gayo Lues Alami Kecelakaan Tunggal Di Bener Meriah. 
Jumat Berkah Polres Bener Meriah: Membagikan Nasi Kotak kepada Jamaah Shalat Jumat
Dalam Rangka Hut Infanteri Ke 79 Dan Hut Kodam IM Ke 68. Yonif 114/SM Sabet Juara Umum Dalam Perlombaan Ton Ting.
Prajurit Batalyon Infanteri 114/Satria Musara Kunjungi Sekolah Di Sekitar Satuan Untuk Transfer Ilmu.
Salah Satu Bangunan Tempat Pengajian Pondok Dayah Tauthiatul Jannah Bener Meriah Roboh Di Terjang Angin Kencang
Anak Penderita Bocor Jantung Asal Bener Meriah : Haji Uma Bantu Biaya Pendampingan
Satresnarkoba Polres Bener Meriah Berhasil Amankan Satu Orang Pelaku Tindak Pidana Narkotika

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 08:27 WIB

‎Perkuat Kehadiran di Wilayah Binaan, Babinsa Jorok Dampingi Bantuan Pangan ‎

Rabu, 16 September 2026 - 08:19 WIB

Dari Lunyuk Ode, Semangat Qur’ani Tumbuhkan Generasi Berintegritas dan Berakhlak Mulia

Selasa, 15 September 2026 - 20:16 WIB

‎Jelang Musim Tanam, Babinsa Kakiang Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Karhutla

Selasa, 15 September 2026 - 20:05 WIB

Mencegah Sebelum Menjadi Bencana, Koramil 1607-07/Lunyuk Edukasi Warga tentang Risiko Kebakaran

Selasa, 15 September 2026 - 20:00 WIB

‎Babinsa Labuhan Ijuk Hadir di Tengah Musdes, Dukung Pembangunan Desa Berbasis Kebutuhan Masyarakat ‎

Selasa, 15 September 2026 - 19:55 WIB

Dari Kebijakan ke Masyarakat, Babinsa Kalimango Kawal 577 KK Terima Bantuan Beras

Selasa, 15 September 2026 - 19:42 WIB

Beras untuk Ketahanan Keluarga, Babinsa Baru Perkuat Sinergi dalam Penyaluran Bantuan Pangan Bapanas

Selasa, 15 September 2026 - 19:35 WIB

Danposramil Lape-Lopok Hadiri Penutupan Turnamen Kades Cup II Desa Pungkit

Berita Terbaru