Aceh Utara/Oposisi News 86 — Di bawah cahaya lampu seadanya, tenda-tenda pengungsian di Riseh Teungah, Kecamatan Sawang, masih berdiri sebagai penanda bahwa banjir bandang belum sepenuhnya berlalu dari kehidupan warga. Minggu malam, 18 Januari 2026, bantuan kembali datang—kali ini bukan dari negara, melainkan dari organisasi masyarakat dan relawan medis.
MPC Pemuda Pancasila (PP) Aceh Utara bersama tim dokter dari Banda Aceh membuka layanan pengobatan gratis dan menyalurkan bantuan logistik bagi para pengungsi. Aksi ini menjadi kelanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya digelar di Kecamatan Langkahan. Dari satu lokasi ke lokasi lain, rombongan bergerak memastikan pelayanan tidak berhenti pada wilayah yang mudah dijangkau.
Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan di camp pengungsian, kehadiran dokter spesialis menjadi perhatian utama warga. Sejumlah pengungsi langsung memadati pos layanan medis, mengeluhkan gatal-gatal, batuk, dan gangguan kesehatan ringan—penyakit yang lazim muncul ketika hunian darurat berlarut tanpa kepastian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Antusiasme warga sangat tinggi. Mereka ditangani langsung dokter spesialis, dokter umum, hingga dokter gigi,” kata Ketua MPC Pemuda Pancasila Aceh Utara, Ali Kuba.
Tim medis yang terlibat antara lain dr. Heru Noviat Herdata SpA, dr. Dian Paramita Sp.OG, DR. dr. Darnifayanti M.Ked(Ped), Sp.A (K), dr. Nadia Rizki, drg. Aya, serta tim Klinik Darfa Banda Aceh. Di luar layanan kesehatan, bantuan yang disalurkan mencakup sembako, pakaian baru, mukena, kain sarung, perlengkapan sekolah, susu bayi, dan kebutuhan dasar lainnya—barang-barang yang hingga kini masih dibutuhkan pengungsi.
Aksi kemanusiaan ini turut melibatkan warga Essence Jakarta dan Yayasan Perguruan Al Ihsan Jakarta Barat. Cut Okta hadir mewakili Essence Jakarta, sementara Yayasan Perguruan Al Ihsan diwakili H. Hasan, mantan Ketua KNPI Jakarta Barat.
Ali Kuba menyampaikan apresiasi kepada para relawan dan donatur yang, menurutnya, terus hadir di saat warga masih bertahan di pengungsian. “Bantuan dan pengobatan gratis ini setidaknya meringankan beban korban banjir bandang yang hingga kini belum bisa kembali ke kehidupan normal,” ujarnya.
Di Riseh Teungah, malam kembali menutup aktivitas. Namun tenda-tenda itu tetap berdiri—menjadi pengingat bahwa bagi para pengungsi, bencana belum benar-benar selesai, meski sorotan perlahan meredup. [SR]




































