Kopdes Merah Putih, Simbol Harapan Baru bagi Kemandirian Ekonomi Desa

REDAKSI

- Redaksi

Selasa, 22 Juli 2025 - 23:10 WIB

50455 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Junaidi Yusuf

Pelaku Program PPK-PNPM-MP & BRA

Peluncuran program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) oleh Presiden Prabowo Subianto mendapat sambutan positif dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dari kalangan pelaku koperasi di tingkat desa. Salah satunya datang dari Junaidi Yusuf, SE, Wakil Ketua Bidang Usaha Koperasi Merah Putih Desa Lamteh, yang ditemui oleh redaksi…. pada Selasa pagi (22/07/2025).

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam perbincangan santai tersebut, Junaidi menyampaikan apresiasinya atas langkah pemerintah yang dinilainya serius dalam mendorong kemandirian ekonomi desa melalui jalur koperasi. Menurutnya, Kopdes Merah Putih merupakan sebuah terobosan yang strategis karena tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga menyasar ketimpangan struktural yang selama ini menempatkan desa sebagai objek pembangunan.

“Kopdes Merah Putih adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam memberdayakan desa. Ini bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan langkah strategis untuk mewujudkan pembangunan dari pinggiran yang berkeadilan,” ujarnya.

Junaidi juga menyoroti bahwa koperasi merupakan bentuk usaha yang paling sesuai dengan karakter sosial masyarakat desa. Namun selama ini, koperasi kerap hanya hadir sebagai entitas administratif tanpa fungsi produktif yang maksimal. Oleh karena itu, menurutnya, keberhasilan program ini sangat tergantung pada kesiapan sistem manajerial, infrastruktur pendukung, serta keberlanjutan pendampingan yang terstruktur.

Baca Juga :  SERAKAHNOMICS"* Revolusi Sunyi dari Desa

“Transformasi tidak bisa hanya mengandalkan dana atau instruksi pusat. Kita butuh tata kelola yang baik, akses pasar yang adil, penguatan kelembagaan koperasi, dan tentunya keterlibatan aktif BUMN sebagai mitra yang tidak sekadar simbolik,” tegas Junaidi.

Ia juga menekankan pentingnya keberpihakan terhadap kelompok masyarakat kecil—petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga masyarakat adat—yang selama ini menjadi pihak paling rentan dalam rantai distribusi ekonomi. Menurutnya, pemangkasan rantai distribusi dan pengendalian harga menjadi langkah krusial untuk mewujudkan keadilan ekonomi di tingkat akar rumput.

Lebih lanjut, Junaidi menyebut bahwa secara ideologis, Kopdes Merah Putih selaras dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kelima tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Program ini, menurutnya, mencerminkan komitmen pemerintah untuk mendorong redistribusi kekuatan ekonomi agar tidak terpusat di kota-kota besar.

Baca Juga :  Perdana, Tulisan Dosen Ekonomi Syariah UIA Tembus Jurnal Scopus Q1

Sebagai alumni program PPK-PNPM-MP dan aktivis organisasi masyarakat, Junaidi juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa. Ia menilai bahwa penguatan literasi keuangan, pelatihan manajemen usaha, dan pendidikan karakter kewirausahaan harus menjadi bagian integral dari program ini agar benar-benar berdampak jangka panjang.

“Desa tidak boleh lagi menjadi objek pembangunan, melainkan subjek utama yang menggerakkan perubahan. Untuk itu, generasi muda desa perlu terlibat aktif dalam mendukung dan mengawal program ini,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Junaidi menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih bukan hanya kebijakan teknokratis, tetapi simbol harapan baru bagi masa depan desa yang lebih mandiri dan sejahtera di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Namun apabila substansi program ini hanya sebatas teori dan instruksi, tanpa penerjemahan yang tepat di lapangan, saya khawatir implementasinya hanya akan berjalan di tempat. Saya bukan pesimis, tapi realistis,” pungkasnya. []

Berita Terkait

Geusyik di Tengah Pusaran Tuduhan Bantuan Sosial
SERAKAHNOMICS”* Revolusi Sunyi dari Desa
Perdana, Tulisan Dosen Ekonomi Syariah UIA Tembus Jurnal Scopus Q1
Ketidakadilan di Menara Gading: Kampus Membusuk dari Atas
Emansipasi Wanita seharusnya ditujukan pada Cut Nyak Dien, bukan pada RA. Kartini
Polemik ambigu, “Syahwat” Dewan Pers dan “Dosa” UKW yang membelenggu insan pers, siapa yang mesti disalahkan?

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 22:04 WIB

Desa Brang Kolong Bersiap Jadi Contoh Nasional Program Desa Sadar Zakat

Jumat, 10 April 2026 - 21:54 WIB

TNI Hadir di Tengah Masyarakat, Grand Launching MBG Jadi Momentum Kemajuan Desa

Jumat, 10 April 2026 - 21:42 WIB

Malam Aman, Warga Nyaman: Kiprah Patroli Koramil Lape Lopok

Jumat, 10 April 2026 - 18:15 WIB

Semangat Kebersamaan, Babinsa Dete Gaungkan Budaya Gotong Royong untuk Adipura

Jumat, 10 April 2026 - 18:01 WIB

Pantai Kalibaru dan Jempol Jadi Sasaran Aksi Bersih Kodim 1607/Sumbawa

Kamis, 9 April 2026 - 20:57 WIB

Demi Kesejahteraan Warga, TNI dan Masyarakat Tak Kenal Lelah Bangun Jembatan

Kamis, 9 April 2026 - 20:47 WIB

Kodim 1607/Sumbawa Bersama Warga Kebut Pembangunan Jembatan Garuda

Kamis, 9 April 2026 - 20:36 WIB

Aksi Nyata Babinsa Alas, Edukasi Warga Sekaligus Bersihkan Lingkungan dari Sampah

Berita Terbaru

NASIONAL

Malam Aman, Warga Nyaman: Kiprah Patroli Koramil Lape Lopok

Jumat, 10 Apr 2026 - 21:42 WIB

ACEH SELATAN

Open Turnamen Mawar Cup 1 Segera Hadir, Total Hadiah Rp75 Juta

Jumat, 10 Apr 2026 - 18:24 WIB