FPPK Laporkan Dugaan Pungli SDN Lempeh Ke Polres Sumbawa

REDAKSI NTB

- Redaksi

Jumat, 21 November 2025 - 11:02 WIB

50709 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumbawa Besar, oposisinews86.com, (Jum’at  21 November 2025),—Aroma dugaan pungutan liar (pungli) di dunia pendidikan kembali mencuat. Kali ini, tudingan serius dialamatkan kepada jajaran SDN Lempeh, Kecamatan Sumbawa, setelah Abdul Hatab, Ketua Umum Front Pemuda Peduli Keadilan (FPPK) Pulau Sumbawa, resmi melaporkan dugaan praktik pungli terhadap siswa dan wali murid.

Dalam keterangan persnya, Jum’at (21/11/025), Hatab menegaskan bahwa oknum Kepala Sekolah SDN Lempeh bersama sejumlah guru diduga melakukan pungutan tanpa dasar hukum. Pungutan itu disebut-sebut kerap muncul setiap kali ada acara perpisahan guru maupun kepala sekolah, dengan nilai antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per siswa.

Tidak berhenti di situ, Hatab juga membeberkan adanya praktik lain yang lebih krusial dan meresahkan wali murid. Pihak sekolah diduga “mewajibkan” para siswa membeli berbagai buku dan perlengkapan sekolah dengan harga yang dinilai tidak wajar dan jelas tidak memiliki dasar regulasi. Harga-harga yang dibebankan disebutkan sebagai berikut:

• Buku BUPENA 5A: Rp108.000

• BUPENA 5B: Rp95.000

• BUPENA 4B: Rp125.000

• Grow With English: Rp120.000

• Paket buku cerita/Bazar (3 jenis): Rp50.000

• Seragam merah putih lengkap: Rp200.000

• Baju batik kuning/biru: Rp260.000

• Baju olahraga: Rp150.000

• Baju muslim: Rp150.000

Lebih jauh, Hatab mengungkap adanya pengambilan uang sebesar Rp4 juta dari wali murid untuk pengadaan buku LKS, yang disebut tidak pernah melalui kesepakatan terbuka bersama komite sekolah.

Bukti Laporan ketua umum FPPK Pulau Sumbawa, Abdul Hattab

Dalam pernyataannya, Abdul Hatab tak hanya berbicara sebagai aktivis, tetapi juga sebagai orang tua murid. Ia mengaku anaknya kini mengalami gangguan psikologis, histeris, bahkan menolak pergi ke sekolah karena merasa tertekan akibat tidak mampu membeli buku dan seragam yang diduga diwajibkan pihak sekolah.

“Anak saya trauma, menangis setiap kali diminta sekolah. Ini bukan sekadar soal administrasi, tapi sudah menyentuh kondisi psikologis anak,” tegas Hatab.

Baca Juga :  Kapolda NTB Pimpin Upacara Sertijab Pejabat Utama Dan Kapolres

Rentetan dugaan praktik tak wajar tersebut membuat FPPK mempertanyakan transparansi penggunaan Dana BOS di SDN Lempeh. Menurut Hatab, BOS setiap tahun digelontorkan untuk menunjang kebutuhan siswa tanpa memungut biaya tambahan, sehingga pungutan dan penjualan buku mahal dinilai tidak dapat dibenarkan.

“Kami mempertanyakan, untuk apa dana BOS dialokasikan jika siswa tetap dibebani biaya sedemikian besar? Apakah kepala sekolah pernah melakukan sosialisasi transparan kepada wali murid?” ujarnya.

Hatab meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Sumbawa, Inspektorat, hingga aparat penegak hukum untuk segera turun tangan melakukan audit dan investigasi. Ia menegaskan bahwa praktik semacam ini tidak boleh dibiarkan, karena pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak, bukan ladang keuntungan bagi oknum tertentu.

Kasus ini kini menjadi sorotan tajam publik, khususnya para wali murid SDN Lempeh yang berharap adanya langkah tegas dan cepat dari pemerintah daerah. (Af)

Berita Terkait

Patroli Rutin Koramil 1607-02/Empang, Upaya Preventif Jaga Kondusivitas Wilayah
Anggota Kodim 1607/Sumbawa Turut Ambil Bagian dalam Kegiatan Donor Darah Hari Bakti Imigrasi ke-76
‎Koramil Tunjukkan Sinergi Kewilayahan pada Kirap Pataka
‎Humanis dan Preventif, Patroli Malam Koramil 1607-12/Moyo Hilir Sasar Remaja dan Pemukiman
Dandim 1607/Sumbawa Tegaskan Komitmen TNI AD dalam Pembangunan Infrastruktur Desa Gontar
Danramil 1607-04/Alas Hadiri Upacara Serah Terima Panji Lambang Kabupaten Sumbawa
‎Semarak HUT Kabupaten Sumbawa ke-67, Kodim 1607/Sumbawa Tunjukkan Kepedulian Sosial
‎Koramil 1607-09/Utan Pastikan Serah Terima Bendera Pataka Berjalan Aman dan Khidmat

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 14:29 WIB

Irigasi Hancur, Petani Geureudong Pase Terjerembab Krisis

Kamis, 29 Januari 2026 - 18:44 WIB

Banjir Aceh Utara Diseret ke Pengadilan: Alam Dijarah, Rakyat Dibayar Air

Kamis, 29 Januari 2026 - 11:10 WIB

Konferensi II PWI Lhokseumawe: Enam Kandidat, Taruhan Marwah Profesi

Kamis, 29 Januari 2026 - 10:02 WIB

Pascabanjir, Pemkab Aceh Utara Klaim Ekonomi Tetap Aman Inflasi terkendali

Kamis, 29 Januari 2026 - 09:57 WIB

Serah Terima Huntara Dimulai, Pemulihan Pascabencana Aceh Utara Masih Bertumpu pada Janji

Selasa, 27 Januari 2026 - 23:07 WIB

Delapan Terpidana Dihukum Cambuk, Syariat Diperlihatkan di Ruang Publik

Sabtu, 24 Januari 2026 - 17:59 WIB

Sekolah Terbakar, Disdikbud Aceh Utara Janji Bergerak Cepat

Jumat, 23 Januari 2026 - 19:37 WIB

Aliansi Pers Turun ke Lapangan, Rehab Rekon Pascabanjir Aceh Mulai Diawasi

Berita Terbaru

ACEH UTARA

Irigasi Hancur, Petani Geureudong Pase Terjerembab Krisis

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:29 WIB

ACEH

Subuh yang Mengajarkan Kepemimpinan

Jumat, 30 Jan 2026 - 21:28 WIB