Oleh: M.Kamal Gayo
Gayo Lues, Aceh|Oposisi News 86 – Apa yang terlihat dalam rekaman viral seorang anak menendang ibu kandungnya bukan sekadar peristiwa menyedihkan, melainkan sinyal darurat bahwa sendi-sendi moral masyarakat sedang retak parah.
Kejadian ini entah terjadi di mana dan kapan pastinya, namun substansinya jauh lebih penting dari sekadar lokasi dan waktu: ini adalah potret buram yang harus menjadi renungan bagi kita semua.
Ini bukan lagi soal emosi sesaat atau konflik keluarga biasa, tetapi bentuk kebiadaban yang mencerminkan tumpulnya nurani, hilangnya adab, dan runtuhnya nilai dasar kemanusiaan.
Tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan tersebut. Tidak kemiskinan, tidak tekanan hidup, apalagi dalih emosi. Jika benar di baliknya ada pengaruh kecanduan judi online, narkoba, atau lingkungan yang rusak, maka itu justru mempertegas bahwa negara dan masyarakat telah gagal membangun benteng moral yang kokoh.
Generasi yang seharusnya menjadi harapan, justru berubah menjadi ancaman bagi orang tuanya sendiri. Ini bukan sekadar penyimpangan, ini adalah kemunduran peradaban yang nyata.
Kita tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini kasus terpisah. Fenomena kekerasan dalam keluarga, terutama terhadap orang tua, menunjukkan gejala yang semakin mengkhawatirkan.
Lemahnya pengawasan, lunturnya pendidikan karakter, serta pembiaran terhadap praktik-praktik merusak seperti judi online dan peredaran narkoba telah menciptakan ruang subur bagi lahirnya perilaku brutal.
Ketika kontrol sosial melemah dan hukum tidak memberi efek jera yang kuat, maka pelaku kekerasan merasa tidak lagi memiliki batas, bahkan terhadap sosok ibu yang seharusnya dimuliakan.
Aparat penegak hukum tidak boleh hanya menjadi penonton yang bergerak setelah tekanan publik muncul. Tindakan tegas, cepat, dan terukur harus menjadi prioritas tanpa kompromi.
Kekerasan terhadap orang tua adalah pelanggaran serius, bukan sekadar urusan domestik yang bisa diredam. Penertiban terhadap penyakit sosial seperti judi online dan narkoba harus dilakukan secara konsisten dan menyeluruh.
Jika negara kalah menghadapi persoalan ini, maka keluarga-keluarga akan terus menjadi korban berikutnya.
Lebih dari itu, ini adalah panggilan keras bagi setiap keluarga dan masyarakat untuk kembali menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan: hormat kepada orang tua, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral.
Rumah harus kembali menjadi benteng utama pembentukan akhlak, bukan sekadar tempat tinggal tanpa arah dan nilai. Jika benteng ini runtuh, maka yang lahir adalah generasi tanpa empati, tanpa rasa bersalah, dan tanpa batas.
Peristiwa ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar bahan kecaman sesaat di ruang publik. Terlepas dari di mana dan kapan kejadian ini berlangsung, pesan moralnya jelas dan tidak bisa diabaikan.
Jika kita masih menganggapnya hal biasa, maka kita sedang menormalisasi kebiadaban. Dan ketika kebiadaban menjadi hal yang lumrah, maka kehancuran bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan yang perlahan namun pasti akan kita hadapi bersama.
Berikut Vedionya:









































