Bima|Ntb, oposisinews86.com (19 September 2025),– Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ksatria Muda menggelar aksi demonstrasi bertajuk “Jumat Barokah” di depan kantor Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Bima. Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan sekaligus protes keras terhadap dugaan korupsi dan penyelewengan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta ketertutupan pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) oleh pihak bank, Jumat (19/9/2025).
Indonesia sebagai negara hukum menjunjung tinggi asas transparansi dan akuntabilitas dalam setiap pengelolaan keuangan, khususnya dana yang bersumber dari negara maupun yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Kasus Dugaan Korupsi KUR BSI Cabang Bima saat ini menjadi sorotan publik. Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat indikasi kuat bahwa dana KUR yang seharusnya disalurkan untuk memberdayakan pelaku usaha mikro seperti peternak sapi, petani bawang, dan jagung, justru menjadi ladang korupsi oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Menurut keterangan resmi dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bima, kasus ini telah masuk dalam tahap penyelidikan dengan sejumlah pihak telah diperiksa, termasuk beberapa nasabah dan pegawai BSI. Kejaksaan juga telah menyita uang sebesar Rp747.250.000 sebagai barang bukti.
Lebih jauh, potensi kerugian negara dalam kasus ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Saat ini, proses hukum tengah menunggu hasil audit resmi dari Inspektorat Kabupaten Bima guna menentukan secara pasti besaran kerugian negara.
Selain dugaan korupsi KUR, LSM Ksatria Muda juga menyoroti minimnya keterbukaan pengelolaan dana CSR oleh BSI Cabang Bima. Padahal, dana CSR sejatinya diperuntukkan bagi pemberdayaan masyarakat, pembangunan berkelanjutan, serta kegiatan sosial di daerah.
“Selama ini masyarakat tidak pernah tahu dana CSR itu mengalir ke mana. Siapa penerimanya, untuk kegiatan apa, dan bagaimana dampaknya? Kami ingin ada kejelasan, bukan sekadar formalitas laporan tahunan,” tegas salah satu orator aksi.
Temuan terbaru yang diangkat oleh Ksatria Muda adalah terkait adanya setoran biaya awal perjalanan ibadah haji di BSI Cabang Bima yang diduga dilakukan tanpa mengikuti prosedur dan ketentuan dari BIPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji). Hal ini dinilai merugikan calon jamaah haji dan menyalahi aturan resmi yang berlaku.
Dalam pernyataan sikapnya, LSM Ksatria Muda menyampaikan empat tuntutan utama kepada pihak BSI Cabang Bima:
• Segera lakukan transparansi dan pertanggungjawaban atas seluruh aliran dana KUR yang dikelola oleh BSI Cabang Bima.
• Buka dan jelaskan kepada publik secara rinci mengenai pengelolaan dana CSR yang selama ini dilakukan.
• Berikan klarifikasi resmi terkait dugaan penyimpangan biaya setoran awal ibadah haji yang tidak sesuai ketentuan BIPIH.
• Jika tuntutan ini tidak diindahkan, aksinya akan berlanjut tanpa henti, bahkan hingga waktu yang tak terbatas.
Aksi “Jumat Barokah” oleh Ksatria Muda adalah cerminan bahwa masyarakat kini semakin sadar dan berani menuntut haknya atas keterbukaan informasi publik, terutama yang menyangkut uang rakyat dan kepentingan umat.
“Kami tidak akan berhenti. Jika perlu, kami akan aksi tanpa spasi, sampai kiamat sekalipun!” pungkas orator aksi menutup pernyataannya. (Red)




































