H. Muhammad Amru saat foto bersama dengan Menhan RI Jenderal TNI Safrie Sjamsoeddin di Pusdiklat Bela Negara Bogor.
Bogor — Menteri Pertahanan Republik Indonesia Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa tantangan pertahanan negara saat ini tidak lagi terbatas pada ancaman militer konvensional, melainkan bergeser ke medan yang lebih halus namun berdampak luas, yakni perang psikologis di ruang digital.
Hal tersebut disampaikan saat memberikan pembekalan kepada peserta Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara, Rumpin, Bogor, Sabtu (31/01/2026).
Di hadapan ratusan wartawan dari berbagai daerah, Sjafrie memaparkan bahwa derasnya arus informasi digital telah membuka ruang manipulasi opini, distorsi fakta, hingga pelemahan nilai kebangsaan jika tidak disikapi dengan kewaspadaan kolektif.
Dalam pemaparannya yang berlangsung hampir satu jam, ia mengulas ancaman non-militer yang berpotensi menggerus ketahanan nasional, mulai dari penyebaran informasi menyesatkan hingga praktik-praktik ilegal yang berdampak langsung pada keberlangsungan negara.
Menhan menekankan bahwa kesiapsiagaan nasional harus dimaknai secara menyeluruh. Mengutip adagium klasik si vis pacem, para bellum, ia menyampaikan bahwa kesiapan menghadapi ancaman bukan hanya soal kekuatan senjata, tetapi juga ketahanan mental, ideologi, serta kesadaran kebangsaan masyarakat di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Menurut Sjafrie, pers memiliki posisi strategis dalam menjaga kesehatan ruang publik. Wartawan tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penjaga nalar publik agar tetap berpijak pada fakta, rasionalitas, dan kepentingan bangsa.
Karena itu, penguatan wawasan kebangsaan bagi insan pers menjadi bagian penting dari upaya memperkokoh ketahanan nasional.
Kehadiran Menteri Pertahanan di Pusdiklat Bela Negara diawali dengan penyambutan resmi melalui upacara yang dipimpin Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo.
Sjafrie kemudian diterima oleh jajaran pengurus PWI Pusat sebelum menyampaikan pembekalan di Auditorium Bela Negara.
Retret PWI Pusat ini diikuti wartawan lintas generasi, termasuk para jurnalis senior yang telah malang melintang sejak era 1990-an. Salah satunya adalah H. Muhammad Amru, wartawan asal Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran wartawan senior dari daerah-daerah memperkaya perspektif diskusi, terutama dalam melihat dinamika kebangsaan dari sudut pandang pengalaman panjang di lapangan.
Melalui kegiatan ini, PWI Pusat berharap insan pers semakin memiliki ketahanan profesional dan kebangsaan dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama di tengah tantangan disrupsi digital yang menuntut kecepatan sekaligus ketepatan dalam menyampaikan informasi kepada publik. []




































